Mabur.co – Tiga dekade setelah wartawan Fuad Muhammad Syafruddin atau Udin meninggal dunia, perjuangannya kembali menjadi perhatian publik.
Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) mendorong pengakuan negara atas pengabdian Udin dengan mengusulkan wartawan Harian Bernas Yogyakarta tersebut sebagai Pahlawan Nasional di bidang jurnalistik.

Upaya itu dibahas dalam seminar nasional bertajuk “Menelusuri Jejak Perjuangan dan Pengabdian Wartawan Fuad Muhammad Syafruddin (Udin)” di Gedung Induk Lantai 3, Kompleks Parasamya, Bantul, Kamis (29/10/2026).
Seminar tersebut menjadi bagian dari rangkaian peringatan 30 tahun wafatnya Udin pada 14 Agustus 2026. Lebih dari 100 peserta mengikuti kegiatan secara daring dan luring, mulai dari akademisi, pelajar, sejarawan, budayawan, unsur pemerintahan, pemuka agama, hingga pengurus PWI dari berbagai daerah.
Perjuangkan Kepentingan Publik
Udin dikenal sebagai wartawan yang berani mengungkap persoalan pemerintahan dan memperjuangkan kepentingan publik pada masa Orde Baru.
Keberaniannya menjalankan tugas jurnalistik menjadi salah satu dasar bagi PWI DIY untuk memperjuangkan pengakuan negara atas jasa dan pengabdiannya.
Pemerintah Kabupaten Bantul menyatakan dukungan terhadap pengusulan almarhum Fuad Muhammad Syafruddin atau Udin, wartawan Harian Bernas yang gugur dalam perjuangan jurnalistik, sebagai Pahlawan Nasional bidang jurnalistik.
Pemkab Bantul akan membentuk Tim Peneliti dan Pengkaji Gelar Daerah (TP2GD) untuk mengawal proses pengusulan tersebut.
Bupati Bantul, H Abdul Halim Muslih, menuturkan, seminar ini sangat penting untuk menggali kembali sejarah perjuangan Udin sekaligus memperkuat pemahaman masyarakat tentang peran pers dalam kehidupan demokrasi.
“Perjalanan hidup dan pengabdian almarhum Fuad Muhammad Syafruddin atau yang akrab kita sapa Udin, adalah bagian tidak terpisahkan dari sejarah daerah Kabupaten Bantul yang patut dikenang dan diabadikan,” ujarnya.

Menurut Abdul Halim Muslih, keberanian, integritas, kejujuran, dan tanggung jawab Udin dalam menjalankan profesi wartawan merupakan nilai-nilai penting yang perlu diwariskan kepada generasi muda.
Pengusulan Udin sebagai Pahlawan Nasional menjadi pengalaman pertama bagi Pemerintah Kabupaten Bantul dalam mengusulkan seseorang untuk memperoleh gelar tersebut.
“Saya mengecek ke Pak Asisten dan Kepala Dinas Sosial, ternyata ini pengalaman pertama Pemerintah Kabupaten Bantul terlibat di dalam pengusulan gelar Pahlawan Nasional pada seseorang,” ungkapnya.
Abdul Halim Muslih, menuturkan, sebagai tindak lanjut, Pemkab Bantul akan membentuk TP2GD tingkat kabupaten.
Kelayakan Usulan Berdasarkan Bukti Sejarah
Tim ini bertugas meneliti dan mengkaji kelayakan usulan berdasarkan bukti sejarah, jasa perjuangan, serta ketentuan yang berlaku.
“Pembentukan tim tersebut diharapkan menjadi langkah awal untuk memastikan proses pengusulan Udin berjalan sesuai mekanisme, mulai dari tingkat kabupaten, provinsi, hingga pemerintah pusat,” ucapnya.
Ketua Tim Ad Hoc, Ki Bambang Widodo, menjelaskan bahwa pengusulan tersebut ditempuh melalui sejumlah kegiatan untuk memperkenalkan kembali rekam jejak Udin kepada masyarakat.
“Dalam rangkaian upaya ini, kami telah meresmikan prasasti di Gedung Tinggi DIY, Jalan Gambiran 45, Yogyakarta, serta memasang tetenger di Trirenggo, Bantul. Pada 24 Oktober 2026, kami juga mengadakan FGD bersama Wakil Menteri Sosial RI, yang kemudian dilanjutkan dengan seminar nasional hari ini,” ujarnya.
Wakil Menteri Sosial RI, Agus Jabo Priyono, turut mengikuti seminar secara daring. Ia menyampaikan dukungan pribadi terhadap upaya pengusulan Udin sebagai Pahlawan Nasional, sembari mengingatkan pentingnya memenuhi persyaratan yang berlaku.
“Saya mendukung secara pribadi upaya ini. Pengusulan membutuhkan keterlibatan semua pihak, mulai dari pemerintah daerah hingga pemerintah pusat, serta kajian yang memenuhi aspek kepribadian, administrasi, dan prosedural,” ujarnya.
Agus menegaskan bahwa dukungan terhadap pengusulan perlu berjalan beriringan dengan proses kajian dan administrasi.
“Pengakuan sebagai Pahlawan Nasional tidak cukup bertumpu pada apresiasi publik, tetapi harus mengikuti mekanisme dan persyaratan resmi,” ucapnya.
Ketua PWI Pusat, Akhmad Munir, mengapresiasi penyelenggaraan seminar nasional tersebut. Menurutnya, kegiatan ini merupakan bagian dari ikhtiar bersama untuk memperjuangkan pengakuan atas jasa Udin dalam dunia jurnalistik.
“Seminar ini merupakan bentuk ikhtiar bersama agar Fuad Muhammad Syafruddin (Udin) memperoleh pengakuan yang layak sebagai Pahlawan Nasional atas perjuangan dan pengabdiannya dalam dunia jurnalistik,” ungkapnya.
