Mabur.co – Satu peristiwa penting pernah terjadi pada 20 Mei 1998, atau tepatnya 22 tahun yang lalu. Kala itu, Raja Yogyakarta, Sri Sultan Hamengku Buwono X, membacakan maklumat yang berisi seruan dukungan terhadap gerakan reformasi yang dihelat di Pagelaran Keraton Yogyakarta.
Dalam maklumat yang dibacakan, setidaknya ada empat hal yang diminta oleh Sri Sultan Hamengku Buwono X.
Maklumat Dukung Gerakan Reformasi
Sultan mengajak masyarakat Yogyakarta dan seluruh rakyat Indonesia untuk mendukung gerakan reformasi yang kala itu cukup masif.
Ada pula ajakan kepada TNI (ABRI pada waktu itu) untuk melindungi rakyat dan gerakan reformasi. Hal ini sebagai wujud manunggal ABRI dan Rakyat.
Dilansir Kagama.co, Sultan juga mengajak masyarakat di Yogyakarta untuk menjaga kesatuan dan persatuan bangsa, termasuk mencegah tindakan anarkis yang melanggar moral Pancasila.
Tak lupa, masyarakat juga diminta untuk berdoa dengan agama dan kepercayaan masing-masing untuk keselamatan bangsa dan negara.
Sultan HB X Siap Turun ke Jalan
Salah satu buktinya adalah pada 14 Mei 1998. Ketika gelombang demonstrasi mahasiswa semakin membesar, Sultan mengatakan kalau dia siap turun ke jalan.
Itu tidak hanya perkataan semata, dia benar-benar tampil dan berpidato di berbagai tempat menyuarakan pembelaan pada rakyat. Dalam salah satu pidatonya, beliau berpesan kalau Yogya harus menjadi pelopor gerakan reformasi secara damai dan tanpa kekerasan.
Sebelum turun ke jalan, Sultan diketahui sempat berpuasa sejak 19 April sampai 19 Mei 1998. Di hari terakhir berpuasa, dia bersama Sri Paku Alam VIII tampil menyuarakan ‘Maklumat Yogyakarta’ yang mendukung gerakan reformasi total dan damai.
Berkat Sultan pula, aparat keamanan akhirnya berani melepas mahasiswa ke alun-alun utara untuk mendengarkan maklumat tersebut. Padahal sebelumnya hampir setiap hari mahasiswa bersitegang melawan aparat keamanan untuk keluar dari kampus.
Peristiwa itu terjadi pada 20 Mei 1998. Di pagi hari yang cerah pada peringatan Kebangkitan Nasional 1998 itu, mahasiswa berbaris dengan tertib sambil menyuarakan ‘mantra’ sakti reformasi menuju Alun-alun Utara.
Maklumat yang akan mereka dengarkan saat itu adalah pernyataan politik Sultan. Hingga mengeluarkan Sabda Raja, Sultan masih tetap menjadi tokoh yang selalu diperhitungkan di dunia politik. Kedekatannya pada rakyat juga masih membuatnya dicintai oleh masyarakat Yogyakarta.
