Mabur.co – Untuk pertama kalinya dalam sejarah, sosok orang nomor satu di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Sri Sultan Hamengku Buwono X menjadi bulan-bulanan warganet di media sosial.
Raja Kesultanan Yogyakarta Hadiningrat sekaligus Gubernur DIY yang biasanya dipuja dan disanjung itu, kali ini justru menjadi sasaran kritik warganet. Sultan dibantah, dievaluasi bahkan dicaci dan dimaki.
Bagaimana bisa Sultan HB X yang selama ini selalu dihormati itu, justru berbalik menerima serangan dan ketidakpercayaan dari rakyatnya sendiri?
Terkait Demo Bentrok
Munculnya kritikan terhadap Sultan ini berawal dari peristiwa aksi demonstrasi yang berujung bentrok dan chaos di kawasan Jalan Malioboro hingga Tugu Yogyakarta pada 28 Oktober 2026.
Aksi demo mahasiswa sepanjang siang hingga sore hari awalnya berjalan damai. Namun pada malam hari tiba-tiba muncul sekelompok orang yang diduga ormas tertentu muncul dan memicu terjadinya keributan.
Pasca-kejadian itu, Sri Sultan mengeluarkan pernyataan yang meminta semua tindakan perusakan fasilitas umum dan kekerasan dalam demonstrasi harus diproses sesuai hukum.
Sementara terkait dugaan keterlibatan ormas yang disebut berhadapan dengan massa demonstran, Sultan mengaku belum mengetahui kelompok yang dimaksud. Sultan juga menegaskan ormas Jaga Warga dibentuk untuk menjaga wilayah masing-masing.
Hemas Prihatin dengan Kondisi Mental Generasi Muda
Pernyataan juga muncul dari Wakil Ketua DPD RI GKR Hemas yang merupakan permaisuri Sultan HB X. GKR Hemas mengaku prihatin dengan kondisi mental dan moral generasi muda saat ini perlu mendapat perhatian.
Ia menyoroti pentingnya pendidikan budi pekerti yang dinilainya kurang mendapat perhatian selama beberapa dekade terakhir sehingga menimbulkan sikap anarkis seperti terjadi dalam aksi demontrasi.
Pernyataan kedua tokoh penting DIY itulah yang kemudian memancing reaksi keras dari warganet. Mereka melupakan kekecewaan terhadap raja dan permaisuri mereka sendiri.
Baik itu di Facebook, Instagram hingga Threads. Nama muda keduanya yakni Herjuno Darpito dan Tatiek Dradjad Supri pun viral di media sosial.
Tak sedikit warganet mengomentari dan mengkritik kepemimpinan Sultan dan Hemas selama ini yang dinilai belum sesuai harapan masyarakat. Tak sedikit warganet berkomentar dalam bahasa Jawa ngoko yang semestinya tidak selayaknya diungkapkan pada sosok raja.
“Terlalu nyaman, tidak paham kondisi dan keadaan..” “Memang pemerintahanmu ada perubahan dan dampak positif?” “Hilang respect..” “Sultan gak ada gunanya..” “beginilah kalau punya pemimpin sudah tua, banyak pikun” “Mbelgedes…” ujar sejumlah warganet dalam bahasa Jawa ngoko.
Tak hanya menghujat soal pernyataan terkait aksi demo, sejumlah warganet akhirnya juga mengomentari berbagai kebijakan Sultan yang dinilai belum mampu memberikan manfaat signifikan terhadap kehidupan masyarakat.
Persoalan laten di Jogja selama ini seperti gaji UMR yang rendah, kenakalan remaja atau klitih, gesekan warga pribumi dengan mahasiswa dari timur, hingga persoalan sampah dan pungli di kawasan wisata serta kemacetan turut dipertanyakan warganet.
Bahkan tak sedikit warganet membandingkan kepemimpinan Sri Sultan HB X dengan sosok lain seperti Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung, Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi hingga ayahnya sendiri yakni Sri Sultan HB IX yang dinilai jauh lebih baik.
“Gubernur DKI Pramono Anung… pada saat mahasiswa demo merusak halte Bus dan yg lainya….tidak banyak bicara…besok paginya langsung memperbaiki fasilitas umum yg dirusak mahasiswa….yg jelas pemprov DKI sudah menganggarkan…utk fasilitas umum yg rusak maupun yg dirusak oleh warganya sendiri….ga usah banyak bicaralah….anda… ” ujar salah seorang warganet.
“Berharap ada lagi pemimpin seperti Sri Sultan HB IX, pro rakyat dan tegas,” tulis warganet lainnya.
“Mohon maaf Raja Jogjaa kok sekarang tidak seperti raja Jogja yang dulu. kala Sri Sultan IX tidak seperti sultan yang sekarang, Sultan yang skrh tidak menggambarkan Sultan yang ngrengkuh rakyat warganya. Statmennya sudah ngalor ngidul apalagi masalah pungli , dan masalah demo kalau gak ada provokasi aman aman saja, waduhh gubenurnya kog kayak gini ya,” ujar warganet lain.
