6 Negeri Kahyangan dalam Pewayangan yang Nyata di Pulau Jawa

6 Min Read
Puncak Suroloyo di Perbukitan Menoreh Kulonprogo (foto : TripAdvisor)

Mabur.co – Nama-nama tempat surgawi dalam kisah pewayangan ternyata tidak hanya hidup di dunia cerita atau dongeng. Sejumlah nama yang menggambarkan kahyangan, taman para dewa, hingga alam surgawi ternyata benar-benar ada di Pulau Jawa.

Sejumlah tempat itu bukan ada dalam arti yang sebenarnya. Namun memakai nama tempat yang sama seperti yang ada di dunia pewayangan. Lalu dimana sajakah tempat surgawi itu? Dilansir laman resmi museum Ulen Sentalu, berikut adalah sejumlah lokasi yang memakai toponim atau nama tempat yang bersumber dari cerita pewayangan yang ada di Jawa : 

Kahyangan di Wonogiri

      Dalam dunia pewayangan, Kahyangan merupakan sebutan umum untuk alam surgawi yang indah dan menakjubkan sekaligus tempat tinggal para dewata. Nama tersebut juga digunakan untuk sebuah objek wisata spiritual di Dlepih, Tirtomoyo, Wonogiri, Jawa Tengah.

      Tempat ini dikeramatkan masyarakat karena dipercaya menjadi salah satu lokasi pertemuan sakral antara Pendiri Mataram Islam, Panembahan Senopati dan Ratu Kidul, penguasa Laut Selatan. Biasanya setiap pergantian tahun dalam penanggalan Jawa atau 1 Suro tempat ini digunakan sebagai lokasi Upacara Adat Labuhan Ageng yang hanya berlangsung setiap 4 tahun sekali.

      Sriwedari di Solo

        Dalam lakon Ramayana versi Jawa, Sriwedari merupakan nama taman di kahyangan. Taman tersebut dikisahkan dapat dipindahkan ke negeri Maespati oleh Sukrasana, pemuda sakti yang bertubuh kerdil dan berwajah buruk rupa.

        Sukrasana memindahkan taman itu untuk membantu kakaknya, Sumantri atau Patih Suwanda, memenuhi perintah Raja Arjuna Sasrabahu. Taman Sriwedari kemudian dijadikan hadiah bagi Dewi Citrawati, permaisuri sang raja.

        Nama Sriwedari ini juga dikenal sebagai kawasan taman di tengah Kota Solo. Sejak 1901, terutama pada masa pemerintahan Susuhunan Pakubuwana X, kawasan ini berkembang menjadi ruang rekreasi yang terkenal dengan berbagai fasilitas.

        Kompleks Sriwedari pernah memiliki danau buatan atau segaran yang mengelilingi pulau kecil, kebun binatang, tempat pertunjukan wayang wong, museum, hingga stadion sepak bola. Stadion tersebut bahkan telah dilengkapi menara lampu penerangan tinggi pada 1930-an.

        Hingga saat ini taman Sriwedari masih menjadi salah satu objek wisata legendaris di Solo.

        Suralaya di Perbukitan Menoreh

        Dalam kisah Ramayana maupun Mahabharata, Suralaya merupakan nama kahyangan, tempat tinggal para dewa, dewi, dan bidadari. Nama ini juga digunakan untuk menyebut Puncak Suroloyo di Perbukitan Menoreh, Samigaluh, Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta.

        Berada di ketinggian 1.019 meter di atas permukaan laut, puncak Suroloyo merupakan dataran tertinggi di Perbukitan Menoreh sekaligus puncak tertinggi di Kulonprogo. Dari atas bukit ini pengunjung bisa menyaksikan panorama menawan hamparan pegunungan di Jawa Tengah. Mulai dari Gunung Merapi, Merbabu, Sumbing, hingga Sindoro 

        Untuk mencapai puncak, pengunjung harus melewati jalur berundak yang memiliki hingga 290 anak tangga.

        Tinjomoyo di Semarang

        Tinjomoyo dalam pewayangan merupakan nama kahyangan Dewa Indra. Tempat ini juga dikenal dengan sebutan Kaendran atau Indrabawana. Nama tersebut kemudian menjadi nama sebuah kelurahan di Kecamatan Banyumanik, Kota Semarang.

        Pada 1985, Pemerintah Kotamadya Semarang memanfaatkan lahan seluas 57,5 hektare di kawasan Banyumanik dan Gunungpati untuk membangun Taman Margaraya Semarang. Kawasan ini merupakan gabungan kebun binatang, kebun raya, dan taman bermain anak.

        Masyarakat lebih mengenalnya sebagai Kebun Binatang Tinjomoyo atau Bonbin Tinjomoyo. Kebun binatang tersebut merupakan hasil pemindahan dari lokasi sebelumnya di Tegalwareng, kawasan Taman Budaya Raden Saleh.

        Namun, kondisi kawasan Tinjomoyo mengalami sejumlah masalah pada awal 2000-an. Kerusakan bangunan akibat pergerakan tanah dan banjir dari aliran Kali Garang menjadi beberapa persoalan yang dihadapi.

        Pada 2007, kebun binatang itu akhirnya dipindahkan ke Mangkang. Bekas lokasinya di Tinjomoyo kemudian dimanfaatkan sebagai hutan kota, area perkemahan, dan tempat trekking.

        Jonggring Saloka, di Gunung Semeru Malang

        Jonggring Saloka dalam pewayangan merupakan sebutan bagi alam tempat tinggal para dewata. Nama tersebut tidak hanya digunakan dalam cerita, tetapi juga menjadi nama kawah aktif di kawasan Puncak Gunung Semeru, Jawa Timur.

        Kawah Jonggring Saloka berada pada ketinggian sekitar 3.676 meter di atas permukaan laut. Selain itu, nama Jonggring Saloka juga digunakan untuk sebuah pantai di Kabupaten Malang. Pantai ini berada di wilayah Desa Mentaraman, Kecamatan Donomulyo, dengan jarak sekitar 69 hingga 80 kilometer dari pusat Kota Malang.

        Maerakaca di Semarang

        Dalam pewayangan Jawa, Maerakaca merupakan nama taman di negeri Pancala atau Cempalaradya. Taman tersebut pernah dikisahkan terbakar akibat ulah Raja Dewangkara. Arjuna kemudian membangunnya kembali melalui sebuah sayembara. Keberhasilan itu membuat Arjuna berhak menikahi Srikandi, putri Raja Drupada, penguasa Pancala.

        Nama Maerakaca kemudian digunakan untuk kompleks taman wisata di Semarang sejak 1993. Awalnya bernama Puri Maerakaca, kawasan ini kemudian berganti nama menjadi Grand Maerakaca pada 2016. Kompleks tersebut kerap disebut sebagai Taman Mini Jawa Tengah karena menghadirkan 35 anjungan yang merepresentasikan kabupaten dan kota di provinsi tersebut.

        Berada di atas pulau buatan seluas hampir 24 hektare yang bentuknya menyerupai peta Jawa Tengah, Maerakaca menjadi bagian dari kompleks Pusat Rekreasi Promosi Pembangunan (PRPP) Jawa Tengah di Jalan Anjasmoro Raya, Tawangsari, Semarang Barat.

        Share This Article
        Avatar photo
        Jurnalis lahir dan tinggal di Jogja
        Avatar photo
        Budayawan Sleman, Ketua Umum Keluarga Alumni Sejarah Universitas Gadjah Mada (Kasagama), Dosen STIEPAR API Yogyakarta, Pokja Ketahanan Ekonomi Badan Kesbangpol DIY, Direktur Pusat Kebudayaan Saptohoedojo
        Tidak ada komentar