Mabur.co – Beberapa waktu lalu jajaran kepolisian memasang kawat berduri di kawasan Titik Nol Kilometer Yogyakarta pasca aksi demo 28 Oktober 2026. Meski dilakukan sebagai bagian upaya pengamanan, pemasangan kawat berduri itupun menuai polemik di kalangan masyarakat.
Pemda DIY bahkan menilai langkah tersebut berpotensi menimbulkan kesan penjagaan berlebihan. Terlebih, pemasangan itu dilakukan tanpa koordinasi terlebih dahulu dengan pemerintah daerah. Sekretaris Daerah DIY, Ni Made Dwipanti Indrayanti, mengatakan pihaknya belum menerima pemberitahuan mengenai pemasangan kawat berduri yang diduga berkaitan dengan simulasi pengamanan.
Ni Made mengapresiasi upaya kepolisian menjaga keamanan wilayah. Namun, menurutnya, pengamanan di kawasan cagar budaya membutuhkan pendekatan berbeda dengan mempertimbangkan karakter kawasan.
“Kami menghargai dan memahami tugas kepolisian untuk menjaga keamanan wilayah. Tapi memang ketika ini bicaranya di kawasan heritage, kawasan cagar budaya, saya kira ini menjadi berbeda,” kata Ni Made, dikutip laman resmi Pemprof DIY Selasa (3/11/2026).
Ia menyebut Titik Nol Kilometer merupakan bagian dari kawasan Sumbu Filosofi Yogyakarta yang terhubung dengan Malioboro. Kawasan tersebut menjadi ruang aktivitas masyarakat sekaligus tujuan wisata.
Karena itu, Ni Made berharap kepolisian memperkuat koordinasi dengan Pemda DIY dan pihak terkait sebelum melakukan langkah pengamanan. Menurutnya, tindakan preventif perlu dilakukan secara humanis agar tidak memunculkan persepsi adanya penjagaan berlebihan.
“Ke depan hal-hal yang seperti ini kita kuatkan koordinasinya,” ujarnya.
Ia menegaskan, koordinasi penting agar setiap langkah pengamanan tetap memperhatikan karakter kawasan cagar budaya serta kenyamanan masyarakat dan wisatawan. Sementara itu pihak Polresta Yogyakarta menjelaskan pemasangan kawat berduri di kawasan Titik Nol tersebut merupakan bagian dari uji coba simulasi pengamanan objek vital.
Kasi Humas Polresta Yogyakarta, Iptu Dani HS, mengatakan simulasi dilakukan di Titik Nol Kilometer yang berdekatan dengan Keraton Yogyakarta dan Gedung Agung atau Istana Negara. Meski begitu ia menyebut pemasangan kawat berduri itu tidak bersifat permanen dan hanya dipasang selama beberapa saat ketika uji coba berlangsung, kemudian kembali disimpan kembali.
“Benar ada uji coba pemasangan kawat guna memastikan simulasi pengamanan obyek vital yang terdapat kawasan cagar budaya,” kata Dani, dikutip dari Kompas.com.
