Mabur.co – “Mengkhianati dan dikhianati adalah kisah pengulangan sejarah berulang kali, digunakan figur-figur yang kita kenal dalam sejarah kerajaan di Nusantara.” Kalimat etnografis itu ditulis bukan untuk hari ini. Tapi untuk 800 tahun lalu. Tapi anehnya, kalimat itu masih saja relevan.
Ken Arok dan Tunggul Ametung, Tumapel, 1222
Tunggul Ametung adalah akuwu, semacam camat sekarang, di Tumapel, bawahan setia Kerajaan Kediri. Ia punya dua pengawal yang sangat dipercaya, Kebo Ijo dan Ken Arok. Ken Arok anak sudra, mantan begal, tapi rajin dan dekat dengan keluarga akuwu.
“Wangsa Rajasa didirikan bermula dari pengkhianatan Ken Arok kepada rajanya, Tunggul Ametung, di kawasan Singosari, Jawa Timur. Sebagai pengawal raja, Ken Arok kerap bertemu dan mendampingi Tunggul Ametung,” tulis indonesiana.id, dikutip Mabur.co (4/11/2026). Ken Arok jatuh hati pada Ken Dedes, istri Tunggul Ametung. Brahmana Lohgawe dari India bilang, perempuan itu adalah Nareswari, yang akan melahirkan raja-raja tanah Jawa.
Dari cinta buta, lahir ambisi tahta. Ia pesan keris sakti ke Mpu Gandring. Dijanjikan satu tahun jadi. Baru lima bulan, ia tak sabar. Ia rebut keris setengah jadi itu dan tikam Mpu Gandring. Darah Mpu Gandring menetes, kutukan keluar, keris itu akan minta tumbal tujuh turunan raja.
Malam berikutnya, Ken Arok pinjamkan keris itu ke Kebo Ijo. Kebo Ijo bangga, pamer keliling kampung. Tengah malam, Ken Arok curi lagi keris itu dari bilik Kebo Ijo, menyusup ke kamar Tunggul Ametung yang sedang lelap, dan menikam. Pagi harinya mayat ditemukan, keris masih menancap. Saksi melihat keris itu milik Kebo Ijo kemarin sore. Kebo Ijo dihukum mati tanpa ampun. Ken Arok naik tahta, menikahi Ken Dedes yang sedang hamil tua. Itulah pola-pola pengkhianatan yang pernah dicatat sejarah Nusantara. Bermuka dua, memanfaatkan kepercayaan tuan dan teman untuk memanipulasinya.
Dan kutukan itu berlanjut, kelak Anusapati, anak Tunggul Ametung yang dikandung Ken Dedes, menikam Ken Arok dengan keris yang sama di atas piring makan. Anusapati ditikam Tohjaya saat sabung ayam. Tohjaya ditikam Ranggawuni. Darah dibalas darah, sampai Pararaton menulis, tujuh raja mati dalam pengulangan kisah yang hampir sama.
Adityawarman, Anak Emas yang Mendirikan Pagaruyung
Ceritanya lebih dingin, tidak pakai darah, tapi pakai diplomasi. Adityawarman adalah keponakan Melayu, tapi diasuh di istana Majapahit sebagai anak angkat. Ia dididik Gajah Mada sendiri, diberi gelar Wreddamantri, panglima tinggi untuk Ekspedisi Pamalayu. Tugasnya: taklukkan sisa-sisa Sriwijaya di Jambi dan Sumatra.
“Pada akhirnya, kerajaan ini jatuh sepenuhnya ke tangan Majapahit dan kerajaan-kerajaan kecil di Sumatra. Peristiwa Perang Paregreg (1405–1406) antara Bhre Wirabhumi dan Wikramawardhana semakin melemahkan stabilitas Majapahit,” beber books.or.id tentang pola kejatuhan Sriwijaya dan Majapahit karena konflik internal, dikutip Mabur.co (4/11/2026).
Adityawarman paham kelemahan itu. Setelah Sriwijaya runtuh diserang Chola 1025 dan lemah internal karena perebutan kuasa, Majapahit juga mulai goyah setelah Hayam Wuruk wafat 1389. Alih-alih serahkan Sumatra ke Majapahit, ia belok. Tahun 1347 ia dirikan Kerajaan Malayapura di Pagaruyung, Batusangkar. Ia pakai gelar Sanksakerta: Maharajadiraja Srīmat Srī Udayādityawarman. Ia pahat wajahnya sendiri di belakang arca Amoghapasa. Ia bukan Hindu seperti Majapahit, ia pakai Buddha Tantra Bhairawa yang ia pelajari di Sumatra.
Masyarakat Minangkabau hingga kini berbisik: Adityawarman adalah harimau jadi-jadian, bisa hilang. Sejarah mencatat, ia adalah bawahan yang belajar semua rahasia pusat kekuasaan, lalu memakai ilmu pusat itu untuk memisahkan diri dan membuat pusat baru. Dua kisah, dua pulau, satu benang merah. Kadang yang paling berbahaya bukan musuh di luar benteng, tapi pengawal yang setiap hari membawakan keris dan membuka pintu kamar. Seperti kata Pramoedya: “Seorang yang tidak pernah menjadi budak, tidak akan tahu rasanya menjadi tuan yang kejam.”
