Mabur.co – Gerakan para penari yang enerjik mengikuti irama musik dan lantunan sholawat menjadi daya tarik kesenian Badui yang ditampilkan dalam peringatan Hari Jadi ke-80 Wedomartani, Ngemplak, Sleman, Rabu (04/11/2026).
Kelompok Kesenian Badui Sawung Galing dari Padukuhan Sempu menjadi salah satu kelompok yang tampil dalam perayaan tersebut.
Mengenakan busana khas menyerupai prajurit atau bregada Keraton Yogyakarta, mereka nampak bergerak serempak mengikuti irama sholawat yang dilantunkan sepanjang pertunjukan.

Kesenian Badui bukan sekadar tarian untuk hiburan. Seni tradisional bernuansa religi ini juga menjadi media dakwah Islam yang berkembang di tengah masyarakat Wedomartani.
Kamituwo sekaligus Ketua Desa Budaya Wedomartani, Mujiburokhman, menjelaskan kesenian Badui sudah lama dikenal masyarakat setempat. Salah satu titik awal perkembangannya berada di Padukuhan Krapyak.
Di padukuhan tersebut terdapat pondok pesantren yang berdiri sejak sekitar 1940-an. Dari lingkungan pesantren itulah kesenian Badui mulai berkembang karena dibawa oleh para ulama sebagai bagian dari kegiatan dakwah Islam.
Kini di Wedomartani sendiri setidaknya terdapat empat kelompok kesenian Badui. Keempatnya mendapat kesempatan tampil secara bergantian setiap tahun dalam kegiatan peringatan maupun agenda budaya desa.
Pergiliran tersebut menjadi salah satu upaya menjaga keberlangsungan kesenian Badui agar tetap dikenal dan diwariskan kepada generasi berikutnya.

Menurut Mujiburokhman, kesenian Badui sendiri merupakan seni tari yang berasal dari tradisi Arab. Kesenian ini pada awalnya menjadi ungkapan kegembiraan, kemudian berkembang dengan memasukkan lantunan sholawat.
“Badui dibawa ulama sebagai bagian dari dakwah Islam. Kemudian dikolaborasikan dengan bacaan sholawat,” jelasnya.
Seiring perkembangannya, kesenian Badui semakin melekat dengan kehidupan sosial masyarakat. Pertunjukan ini kerap diundang dalam berbagai acara syukuran, mulai dari khitanan, kelahiran anak, hingga pernikahan.
Masyarakat biasanya mengundang kelompok sholawat maupun kelompok kesenian Badui untuk memeriahkan acara tersebut.
Menariknya, kesenian Badui di Wedomartani juga cukup fleksibel. Lagu yang dibawakan tidak selalu berupa sholawat. Lagu-lagu Jawa hingga lagu nasionalisme kerap dimasukkan dalam pertunjukan.
Meski demikian, karakter religi tetap menjadi bagian utama kesenian tersebut. Irama musik yang menghentak dan gerakan para penari juga mengandung semangat perjuangan atau jihad dalam pengertian perjuangan dan pengabdian.

60 Penari Tampil dalam Tiga Babak
Anggota Kelompok Badui Sawung Galing, Agung Tri Nugroho, mengatakan kelompoknya melibatkan sekitar 60 orang dalam pertunjukan tersebut.
Penampilan dibagi menjadi tiga babak berdasarkan kelompok usia, yakni anak-anak, remaja dan dewasa atau pemuda, serta ibu-ibu.
Setiap babak menampilkan perpaduan tari Badui dan lantunan sholawat. Pertunjukan diawali dengan lagu nasional, kemudian dilanjutkan dengan lagu-lagu sholawat.
Dalam satu babak, penampilan untuk anak-anak berlangsung sekitar 10 menit. Sementara penampilan kelompok ibu-ibu atau bapak-bapak berlangsung sekitar 15 menit.

Secara keseluruhan, terdapat lima gerakan utama dalam tari Badui yang dibawakan kelompok tersebut.
Agung menjelaskan, penampilan Badui memiliki ciri khas gerakan yang dilakukan secara berkelompok dan kompak. Para penari bergerak mengikuti komando yang diberikan melalui peluit.
Peluit tersebut menjadi penanda dimulainya maupun berakhirnya gerakan. Pola ini membuat pertunjukan Badui terlihat seperti barisan prajurit yang sedang melakukan gerakan bersama.
Dari sisi busana, para penari mengenakan pakaian yang menyerupai prajurit bregada Keraton. Ada yang menggunakan surjan khas Jawa, rompi, penutup kepala, hingga kaus kaki.
Perpaduan busana dan gerakan tersebut menjadi salah satu ciri visual yang mudah dikenali dari kesenian Badui.
Agung mengatakan kesenian ini memiliki dua fungsi sekaligus, yakni sebagai sarana dakwah melalui sholawat dan hiburan bagi masyarakat.

Sholawat Sambil Berolahraga
Salah satu anggota Badui Sawung Galing, Susi Wulandari, mengaku tertarik mengikuti kesenian tersebut karena merasa kegiatan ini menyenangkan.
Baginya, Badui memberikan kesempatan untuk melantunkan sholawat sekaligus melakukan aktivitas fisik.
Gerakan tari yang didominasi lompatan membuat tubuh aktif bergerak hingga berkeringat. Di sisi lain, kegiatan latihan dan pentas juga menjadi kesempatan untuk bersosialisasi dengan warga dari berbagai padukuhan.
Susi mengatakan lagu-lagu yang dibawakan kelompok Badui banyak berisi sholawat dan ajakan menjalankan ibadah, termasuk mengingatkan masyarakat untuk menunaikan salat.
Selain tampil dalam kegiatan di lingkungan sendiri, kelompok Badui Sawung Galing juga kerap memenuhi undangan pentas di berbagai kampung, termasuk kawasan Malioboro.
