Matinya Budaya Meritokrasi

Meritokrasi adalah perolehan jabatan yang didapat secara kompetitif. Bukan karena faktor Korupsi, Kolusi dan Nepotisme.

Sosok Amien Rais yang hingga kini masih eksis sebagai cendekiawan, pernah menyuarakan soal meritokrasi ini lebih dari tiga puluh tahun lalu. Saat Orde Baru masih sangat ganas bercokol.

Hingga kini Orde MBG Beracun tiba, era meritokrasi masih menjadi wacana menguat meskipun justru berada dalam ambang punah.

Justru di era yang sangat transparan inilah meritokrasi sudah mati. Budaya meritokrasi yang dibangun dengan dasar kompetensi dan prestasi, mencapai puncak kematiannya di era Orde MBG Beracun.

Banyak pejabat yang menduduki kursi pemerintahan hanya karena jalur kolusi dan nepotisme, bukan lagi kemampuan personalitas sesuai bidangnya.

Bahkan pada jabatan tertentu yang diinginkan jelas-jelas dijual. Mempunyai tarif, seperti yang terjadi pada kasus tertangkapnya Bupati Pati, Sudewo, karena Operasi Tangkap Tangan (OTT) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), belum lama ini.

Ia ditangkap KPK karena memperjual-belikan jabatan kelas kepala desa ke bawah dengan tarif beragam, di kisaran RP150 juta hingga Rp250 juta.

Begitu pula dengan yang baru saja aktual, kursi DPR dijual untuk trah tertentu. Sangat miris. Tapi bagaimana lagi, orang yang membeli juga ada.

Untuk karakter orang Indonesia yang munafik dan culas, sebenarnya paling tepat adalah diterapkannya wakil rakyat AI untuk menekan budaya anti-meritokrasi.

Di Jepang ketua umum partai dari kalangan robot atau AI sedang dirancang. Bahkan di Albania pada September 2025 lalu sudah meluncurkan Menteri Robot bernama Diella. Bertujuan menekan budaya korupsi, mendeteksi manipulasi, dan transparansi tender.

Di tengah matinya meritokrasi, revolusi pelayanan publik seperti di Albania bagus jika diterapkan di Indonesia.

Tidak ada pilihan lain. Tidak usah ada demonstrasi. Tidak usah robot AI UGM direvisi ketika ternyata berkata ijazah Jokowi palsu. Jangan-jangan ia memang punya argumen kuat.

Oleh sebab itu dengarkanlah suara robot dan analisisnya. Bisa jadi sangat menyumbang untuk membangkitkan lagi budaya meritokrasi yang sudah mati di Indonesia. ***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *