Jelang Tahun Baru Cina, Permintaan Kue Keranjang Meningkat

Mabur.co– Jelang Tahun Baru Cina, kita pasti sering mendengar soal kue keranjang atau disebut nian gao. Makanan berbahan tepung beras ketan dan gula merah ini, sebenarnya tak jauh berbeda dengan jenang khas Indonesia, tapi dibuat dalam bentuk bulat dan ukurannya besar.

Menjelang perayaan Tahun Baru Imlek, produsen kue keranjang disibukkan dengan permintaan yang meningkat.

Seperti salah satu produsen kue keranjang di Kota Yogyakarta yang digeluti Sulistyowati di Jalan Tukangan, Tegalpanggung, Danurejan.

Pesanan kue keranjang datang silih berganti terutama dua minggu sebelum Tahun Baru Imlek. Pada perayaan Imlek 2026 ini mengalami lonjakan pesanan yang luar biasa.

Seorang pekerja sedang mengaduk adonan tepung ketan yang akan dijadikan kue keranjang Foto Setiaky A Kusuma

Sulistyowati, menuturkan, dalam sehari rata-rata memproduksi sekitar 200 kue keranjang. Setiap produksi kue keranjang dia membutuhkan sekitar 75 kg tepung ketan dan 75 kg gula pasir. Untuk menjaga kualitas rasa kue keranjang, Sulistyowati menggunakan bahan ketan yang bagus.

“Saya buat dari beras (ketan) yang digilingkan. Beras (ketan) saya beli yang bagus kualitasnya,” katanya, saat ditemui mabur.co, Selasa (3/2/2026).

Seorang pekerja sedang menjemur tepung ketan yang akan dijadikan kue keranjang Foto Setiaky A Kusuma

Sulistyowati menjelaskan, meneruskan pembuatan kue keranjang yang dirintis ayahnya, Siauw Boen Tjaw, seorang pendatang dari Tiongkok sekitar 65 tahun lalu.

Sebagai generasi kedua, kini dia, dan adiknya Sianywati hanya memproduksi kue keranjang bermerek Lampion itu ketika menjelang Imlek.

Biasanya sekitar 2 minggu sebelum Tahun Baru Imlek.

“Hanya menjelang Imlek. Sehari 200. Pesanan sebagian dari luar Yogyakarta seperti Magelang, dan dari Yogya. Ada yang luar pulau seperti Lampung,” katanya.

Sulisyowati memaparkan, untuk membuat kue keranjang setidaknya membutuhkan waktu selama 3 hari dari proses awal sampai siap makan.

Menurut Sulistyowati, pembuatan kue keranjang yakni tepung ketan dicampur dengan air gula yang telah dimasak sekitar 6 jam.

Air dan gula itu harus dimasak dulu sampai menjadi seperti gulali. Adonan ketan dan air gula diuleni sampai tercampur.

Kemudian adonan dituangkan dalam cetakan dengan berbagai ukuran. Lalu dikukus dan setelah matang didiamkan selama dua hari untuk mengurangi kadar air.

“Pertama beras (ketan) digilingkan. Lalu dicampur dengan air gula, lalu dicetak dan dikukus. Lama mengukus delapan jam,” terangnya yang masih terjun membuat kue keranjang dibantu enam pekerja.

Produsen kue keranjang di Kota Yogyakarta yang digeluti Sulistyowati di Jalan Tukangan Tegalpanggung Danurejan Foto Setiaky A Kusuma

Menurut Sulistyowati pula, dalam pembuatan kue keranjang dia masih mempertahankan takaran resep dan cara memasak orang tuanya dulu.

Misalnya untuk mengukus kue keranjang masih menggunakan kompor minyak tanah.

Menurutnya, untuk mengukus kue keranjang membutuhkan api yang stabil seperti dari kompor minyak tanah.

Diakuinya kini minyak tanah sulit dan mahal, tapi tetap dipertahankan untuk menjaga mutu dan rasa kue keranjang.

“Kalau kue keranjang api harus ajek stabil. Pakai kompor minyak saja ditunggu harus tiap jam ditambah (minyak tanah) biar api ajek,” paparnya.

Rasa khas kue keranjang dari Jalan Tukangan ini memang telah menjadi legenda di Yogyakarta.

“Untuk satu kilogram kue keranjang, harganya dipatok sebesar Rp54.000. Sangat laris manis saat perayaan Tahun Baru Imlek,” kata Sulistyowati.

Salah satu pembeli kue keranjang, Yanto, mengaku rutin setiap tahun ditugasi membeli kue keranjang di tempat Sulistyowati oleh atasan tempat kerjanya. Setiap memesan bisa sekitar 5 kg kue keranjang.

“Setiap tahun pasti ke sini ambil kue keranjang. Rasanya enak, lebih kenyal, dan tidak terlalu alot,” pungkasnya. ***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *