Mabur.co – Bertempat di kompleks makam keramat Gunung Pengklik, sejumlah warga Dusun Pengklik, Padukuhan Payak, Madurejo, Prambanan, Sleman, menggelar adat dan tradisi Nyadran atau Sadranan, Sabtu (07/02/2026) siang.
Tradisi ini rutin digelar setiap tahun, saat memasuki bulan Ruwah dalam penanggalan Jawa. Tradisi ini biasa digelar masyarakat Jawa dalam menyambut datangnya bulan Pasa atau Ramadan yang akan segera tiba.
Tahun ini tradisi Sadranan di Dusun Pengklik, digelar secara sederhana. Warga nampak membawa sejumlah ubo rampe seperti nasi tumpeng, ingkung ayam, jajan pasar, hingga bunga tabur menuju kompleks makam.
Setelah itu mereka menggelar ritual kenduri atau doa bersama dengan dipimpin Abdi Dalem sekaligus juru kunci makam, dan diikuti sejumlah tokoh desa.
Setelah doa selesai warga kemudian melakukan tabur bunga ke makam leluhur dan diakhiri dengan tradisi Kembul Buwono atau makan bersama-sama.

Kompleks makam Gunung Pengklik sendiri merupakan salah satu kompleks makam tua dan dikeramatkan yang ada di wilayah Madurejo, Prambanan, Sleman.
Terletak di puncak bukit bernama Gunung Pengklik, makam ini memiliki 3 pintu gerbang, merupakan tempat peristirahatan terakhir tokoh setempat, Ki Ageng Prawiro Rejoso.
Dukuh Payak sekaligus tokoh setempat, Lulut Triyono, menjelaskan, Ki Ageng Prawiro Rejoso merupakan seorang bangsawan kerajaan Kasunanan Surakarta yang memiliki hubungan erat dengan Kasultanan Yogyakarta.
Ki Ageng Prawiro Rejoso merupakan ayahanda Gusti Kanjeng Ratu Ageng, permaisuri Sri Sultan Hamengku Buwono VI. Sekaligus juga kakek dari Sri Sultan Hamengku Buwono VII yang wafat pada akhir tahun 1785.
“Setelah hijrah dari Surakarta, beliau kemudian menetap di wilayah Yogyakarta. Tepatnya di Padukuhan Payak Wetan, Srimulyo, Piyungan, Bantul. Setelah wafat, beliau kemudian dimakamkan di makam Gunung Pengklik ini,” ujar Lulut yang masih memiliki garis keturunan atau trah dengan Ki Ageng Prawiro Rejoso.
Meski makam ini hanya dikhususkan bagi keluarga dan keturunan Ki Ageng Prawiro Rejoso, namun makam ini ramai dikunjungi peziarah karena telah menjadi lokasi wisata sejarah sekaligus wisata religi.
Lurah Madurejo, Haji Sumadi, menjelaskan, selain bertujuan untuk mendoakan para leluhur khususnya Kiai Ageng Prawiro Rejoso beserta anak turunnya, tradisi Sadranan juga digelar untuk melestarikan adat budaya yang ada di wilayah Kalurahan Madurejo, Prambanan.
“Diharapkan dengan adanya kegiatan ini, adat budaya dan tradisi masyarakat dapat terus dilestarikan dan tidak hilang begitu saja. Terlebih Kalurahan Madurejo, Prambanan, merupakan salah satu desa budaya di Kabupaten Sleman,” katanya. ***



