Mabur.co – Ketika menjalani ibadah puasa di bulan Ramadan, setiap orang pasti menunggu satu momen utama, yakni berbuka puasa.
Ya, berbuka puasa adalah momen yang paling ditunggu-tunggu oleh umat muslim saat menjalankan ibadah puasa.
Karena berbuka puasa adalah kesempatan pertama untuk makan dan minum, setelah menahannya selama belasan jam sejak waktu Imsak.
Saking spesialnya waktu berbuka, sebagai kesempatan pertama makan dan minum, orang-orang pun memanfaatkannya dengan mengadakan berbagai acara, yang dikemas dengan nama “buka bersama” (bukber).
Fenomena acara makan-makan bernama bukber sebenarnya sudah mulai marak sejak awal 2000-an silam.
Ketika banyak orang mulai berinisiatif mengadakan acara kumpul-kumpul di bulan Ramadan, namun tetap memiliki kemeriahan makan-makan di dalamnya.
Semakin tahun, bukber berkembang menjadi sebuah acara tahunan yang seolah-olah menandai status sosial seorang muslim.
Mulai dari keluarga, organisasi, komunitas, sekolah, kampus, kantor, alumni, dan masih banyak lagi, semuanya hampir pasti mengadakan acara bukber setiap tahunnya.
Lalu jika kedapatan tidak mendatangi acara bukber dari kelompok-kelompok tersebut, siap-siap saja akan mendapat cibiran atau nyinyiran dari orang-orang di dalamnya.
Tanggapan umum yang paling sering disematkan kepada orang-orang yang menolak ajakan bukber adalah “sok sibuk”, “lupa sama temennya sendiri”, atau bahkan dicap “sombong”, dan seterusnya.
Seremoni yang Semakin Tidak Bermakna
Padahal, setiap orang tidak selalu memiliki kesempatan untuk mendatangi semua ajakan bukber yang tersedia.
Lagi pula, keberadaan bukber dari tahun ke tahun telah berkembang menjadi ajang reuni, pamer, sekaligus foya-foya antar peserta bukber.
Kalau sudah seperti itu, sepertinya mendatangi bukber bukanlah suatu keharusan mutlak. Karena pada akhirnya, tujuan bukber telah melenceng jauh dari esensi utamanya, yakni berbuka puasa itu sendiri (makan dan minum), setelah belasan jam melaksanakan ibadah puasa.
Dilansir dari Kompasiana, berikut adalah beberapa alasan utama, mengapa tidak semua ajakan bukber harus selalu diikuti. Bahkan kalau perlu tidak usah diikuti semuanya sama sekali.
1. Menjaga Kesehatan dan Energi
Terlalu banyak bukber di luar sudah pasti akan mengakibatkan kelelahan, mengganggu waktu istirahat, dan berisiko membuat perut tidak nyaman (kekenyangan), akibat pola makan yang kurang terjaga. Karena umumnya selama bukber, seseorang akan makan apa saja yang tersedia di depan meja.
Dan ketika bukber tersebut diikuti oleh banyak orang, tentunya akan sungkan jika hanya makan seadanya, apalagi jika dibawa pulang.
Kecenderungan yang terjadi ketika bukber adalah seluruh makanan harus dihabiskan saat itu juga, sedangkan jumlah makanannya bisa dikatakan terlalu banyak, jika hanya dihabiskan dalam satu waktu, sekalipun bukber tersebut dihadiri oleh banyak orang.
2. Bukber Itu Tidak Gratis
Mengadakan bukber berarti membuat acara baru. Yang namanya membuat acara, apalagi diikuti oleh banyak orang sekaligus, sudah pasti akan memakan biaya, terutama biaya untuk memesan tempat (booking) di salah satu restoran.
Jika Anda adalah orang yang sering mengikuti acara bukber yang diadakan oleh kelompok-kelompok Anda, baik itu sekolah, kampus, kantor, lingkungan rumah, komunitas, dan seterusnya, pastinya Anda akan dimintai iuran, untuk bisa mengikuti acara-acara bukber tersebut.
Lalu jika seluruh undangan bukber tadi diikuti, bisa dibayangkan sudah berapa banyak uang yang terbuang sia-sia, hanya untuk mengikuti bukber-bukber tersebut, yang makanannya saja kebanyakan tidak dihabiskan.
3. Fokus Pada Ibadah, Bukan Kumpul-kumpul Tanpa Makna
Momen bukber pada dasarnya bisa dijadikan ajang silaturahmi kepada sesama manusia, termasuk juga momen reuni dengan teman-teman lama yang sudah bertahun-tahun tidak bertemu, dan seterusnya.
Hanya saja, momen silaturahmi ini tampaknya sudah semakin kebablasan. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, bukber kerap dijadikan ajang reuni, pamer, foya-foya, atau bahkan mengadakan fun games atau sesi lucu-lucuan bersama teman-teman.
Padahal, masih ada ibadah salat magrib yang harus segera dijalankan, sesaat setelah berbuka. Sehingga berbuka puasa pun pada dasarnya tidak bisa terlalu lama, apalagi jika ditambah dengan ngobrol-ngobrol atau bermain games dan sebagainya.
4. Risiko Kemacetan/Kecelakaan
Secara tidak langsung, ketika Anda mengikuti bukber, apalagi jika dilakukan setiap hari di tempat-tempat yang berbeda, maka kemungkinan untuk terjebak macet, bahkan kecelakaan di jalan raya, menjadi lebih besar.
Apalagi semua orang juga melakukan hal yang sama (mengikuti bukber), sehingga potensi kemacetan pun jelas tidak terelakkan.
***
Sebenarnya sah-sah saja jika Anda termasuk orang yang doyan mengikuti bukber kesana-kemari, yang diadakan oleh kelompok maupun komunitas Anda.
Namun, Anda harus mampu memprioritaskan mana bukber yang layak diikuti, dan mana yang sebaiknya ditinggalkan, atau bahkan dihindari (tidak terlibat dalam perencanaannya sama sekali). Apalagi ketika semuanya membutuhkan dana iuran dari kas keuangan Anda.
Karena lagi-lagi, tidak semua acara bukber itu harus diikuti. Meskipun bukber bermanfaat sebagai sarana menjalin silaturahmi, apalagi di bulan ramadan, namun dengan kenyataan yang terjadi sekarang ini, sepertinya ikut-ikutan bukber sudah tidak worth it lagi.
Karena ujung-ujungnya hanyalah membuang-buang waktu, tenaga, dan tentu saja uang, hanya untuk acara yang sama sekali tidak ada sentuhan ibadah di dalamnya. (*)



