Arsitektur Gereja Santa Theresia Sedayu, Representasi Umat Katolik di Yogyakarta Barat

3 Min Read
Modern campus building with red-tiled, multi-gabled roof and a tall arched bell tower, set among lush trees and a blue sky.
Gereja Santa Theresia Sedayu versi modern. (Foto: Paroki Sedayu)

Mabur.co – Gereja Santa Theresia Sedayu, atau yang memiliki nama resmi Gereja Paroki Santa Theresia, Sedayu, adalah sebuah gereja Katolik yang beralamat di Jalan Gubug, Dusun Gubug, Kalurahan Argosari, Kapanewon Sedayu, Kabupaten Bantul.

Gereja ini sudah berdiri sejak tahun 1927. Awalnya gereja ini merupakan bekas bangunan pendopo di wilayah setempat, yang kemudian dialihfungsikan menjadi sebuah tempat ibadah bagi umat Katolik, dengan berbagai renovasi dan pemeliharaan secara berkala.

Pendopo Ramah Budaya Lokal

Dilansir dari laman resmi Paroki Sedayu, Selasa (18/8/2026), bangunan pendopo sengaja dipilih (sebagai rumah ibadah bagi umat Katolik di Argosari Sedayu) agar dekat dengan budaya lokal, dan ramah bagi masyarakat di Dusun Gubug dan sekitarnya.

Seiring bertambahnya jumlah umat Katolik di wilayah Argosari Sedayu, Gereja Santa Theresia Sedayu juga turut mengubah luas bangunannya. Dari yang awalnya hanya mampu menampung sebanyak 600 jemaat, kini setelah direnovasi dan diresmikan kembali pada Oktober 2021 lalu, gereja ini mampu menampung hingga 4.000 jemaat dalam satu waktu ibadah tertentu.

Gereja Santa Theresia Sedayu mengusung unsur budaya lokal Jawa dan juga kekatolikan. Meski gedung baru yang diresmikan pada Oktober 2021 telah menggantikan bangunan lama yang memiliki konsep bangunan ala joglo sejak 1979, namun secara umum gereja ini tetap mempertahankan nilai estetika, kenyamanan ruang, serta identitas nilai-nilai spiritualitas lokal Jawa yang cukup kuat, dipadukan dengan standar liturgi gereja Katolik dalam versi modern.

Interior Gereja yang Penuh Filosofi

Bangunan gereja ini memadukan bentuk arsitektur kontemporer yang megah, dipadukan dengan nilai estetika lokal, serta ruang ibadah yang luas. Selain itu, bangunan ini juga memiliki arus pencahayaan alami yang cukup baik, serta sirkulasi udara yang nyaman bagi setiap umat yang berkunjung di dalamnya.

Gereja ini juga menampilkan struktur bangunan kokoh bergaris tegas, yang mencerminkan simbol kehadiran gereja di tengah-tengah masyarakat sekitar.

Berkaca dari pengalaman bangunan sebelumnya (saat berkonsep joglo pada tahun 1979) yang akhirnya mengalami berbagai kerusakan fisik, seperti fondasi dan lantai yang ambles, kayu yang mulai lapuk, serta rangka atap yang telah melampaui batas usia pakai, membuat pihak pengelola gereja beralih menggunakan bahan-bahan arsitektur tingkat tinggi, untuk menjaga daya tahan bangunan ini dalam waktu lama.

Sekaligus mencegah kerusakan yang sama terulang kembali di masa depan.

Di samping barat gereja, terdapat sungai yang mengalir terus-menerus. Keberadaan sungai ini menjadi simbol kehidupan itu sendiri, yang terus mengalir dari waktu ke waktu, siapa pun orang atau generasi yang ada di sekitarnya.

Begitu juga dengan tempat ibadah di Dusun Gubug yang satu ini, yang selalu menemani segenap umat Katolik di wilayah Argosari Sedayu dan sekitarnya, dari generasi ke generasi.

Dengan sejarah panjangnya sebagai rumah ibadah bagi umat Katolik, tak salah memang jika gereja ini menjadi simbol atau representasi umat Katolik di wilayah Yogyakarta bagian Barat (Sedayu Bantul ke arah Kulon Progo dan sekitarnya), yang jumlahnya juga terus bertambah dari waktu ke waktu. (*)

Share This Article
Avatar photo
Lulusan program studi Jurnalistik STMM Yogyakarta, Jurnalis mabur.co, Writing Is Journey Of My Life
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar