Mabur.co – Orang-orang selama ini mungkin mengenal Patung Selamat Datang di kawasan Bundaran Hotel Indonesia (HI) yang diresmikan pada 1962, merupakan patung pertama dan tertua yang ada di Jakarta.
Padahal jauh sebelum itu, sekitar 1 abad sebelumnya, sebuah patung berukuran raksasa sudah pernah berdiri megah di tengah kota Jakarta yang sebelumnya bernama Batavia.
Kala itu, peresmian patung ini bahkan dirayakan secara besar-besaran dengan mengadakan pesta selama 3 hari. Patung pertama di Jakarta ini juga sangat ‘dihormati’ dan menjadi ikon kota Batavia atau Jakarta kala itu.
Patung itu adalah patung Jan Pieterszoon Coen, yang terletak di Lapangan Banteng, tepatnya di depan Gedung AA Maramis II yang dulunya dikenal sebagai Gedung Putih atau Istana Daendels.
Sejarawan Universitas Leiden Belanda, Robbert van Leeuwen, menyebut patung Coen ini pertama kali diresmikan pada 29 Mei 1869, oleh Gubernur Jenderal Hindia Belanda kala itu, yang bernama Pieter Mijer untuk memperingati hari jadi kota Batavia yang ke-250.
Patung ini dibuat dengan gaya kolosal dan memiliki ukuran 4,1 meter. Namun secara keseluruhan mulai dari struktur alas hingga anak tangganya, bangunan patung ini memiliki tinggi mencapai 10,5 meter.
Setelah kurang lebih selama 74 tahun berdiri dan menjadi ikon kota Batavia, patung ini akhirnya runtuh setelah dihancurkan oleh tentara Jepang pada 7 Maret 1943.

Patung Jan Pieterszoon Coen ini sendiri dibuat oleh pemerintah kolonial Belanda sebagai bentuk penghormatan kepada Coen.
Bagi masyarakat Belanda, Coen merupakan sosok pahlawan besar yang sangat tersohor dalam sejarah kolonialisme di Hinda Belanda. Coen pernah menjabat sebagai Gubernur Jenderal VOC dua kali, yakni pada 1619-1623 dan pada 1627-1629.
Ia digadang-gadang sebagai sosok yang paling berhasil membawa VOC mencapai puncak kejayaan terbesar dalam sejarah perdagangan dunia. Sekaligus juta peletak fondasi kolonialisme di Indonesia.
Meski begitu, bagi masyarakat Indonesia, Coen merupakan seorang pimpinan penjajah yang sangat dibenci.
Ia juga dikenal sebagai Gubernur Jenderal VOC yang sangat kejam, bengis, serta menggunakan berbagai cara biadab untuk memperluas kekuasaannya.
Salah satu yang paling diingat adalah saat Coen melakukan pembantaian massal atau genosida terhadap penduduk Kepulauan Banda pada 11 Maret 1621. Penduduk Banda yang sebelumnya mencapai 14 ribu orang dibantai habis hingga hanya tersisa sekitar 400-600 orang saja.
Meski begitu, Jan Pieterszoon Coen akhirnya tewas pada 22 September 1629 saat pasukan Mataram Islam di bawah kepemimpinan Sultan Agung, menyerang Batavia untuk yang kedua kalinya.
Pihak Belanda mengklaim Coen mati mendadak karena penyakit kolera. Namun sumber lain menyebut Coen atau yang kerap dijuluki Mur Jangkung itu berhasil dibunuh oleh tentara telik sandi Mataram dan kepalanya dipenggal untuk dibawa dan diserahkan kepada Sultan Agung. ***



