Mabur.co– Indonesia berada di kawasan “ring of fire” atau Cincin Api Pasifik, lokasi pertemuan lempeng tektonik besar, seperti Lempeng Eurasia, Lempeng Pasifik, dan Lempeng Indo-Australia.
Kondisi geologis ini tidak hanya membuat Indonesia kaya akan gunung berapi saja, tetapi juga rentan terhadap bencana alam yang sering terjadi tanpa peringatan, seperti gempa bumi.
Gempa bumi menjadi salah satu bencana alam yang mengakibatkan kerugian besar karena sering merusak bangunan dan fasilitas yang dimiliki warga.
Negara Rawan Gempa, Rancang Rumah Tahan Gempa
Mengingat lokasi geografis negara ini sangat rawan gempa, sebaiknya masyarakat setempat mulai secara proaktif membangun dan merancang rumah dengan infrastruktur yang tahan gempa.
Guru Besar Bidang Rekayasa Kegempaaan, Kebencanaan Universitas Islam Indonesia, Prof. Ir. H. Sarwidi, MSCE., Ph.D., IP-U., ASEAN Eng., APEC Eng mengatakan, rumah tahan gempa adalah rumah yang dirancang agar tidak mudah roboh saat gempa sehingga dapat melindungi keselamatan penghuninya.
“Ciri utamanya adalah adanya pondasi yang kuat, sloof, kolom praktis, ring balok, serta sambungan struktur yang baik,” ujarnya saat diwawancarai via telepon, Selasa (23/6/2026).

Sarwidi mengatakan, di Indonesia terdapat berbagai tipe rumah tahan gempa, seperti rumah tembokan bertulang, rumah rangka beton, rumah baja ringan, rumah kayu.
“Contoh penerapannya dapat dilihat pada rumah-rumah pasca-rekonstruksi di Bantul pasca-Gempa Yogyakarta 2006, Lombok 2018, dan Palu 2018, di antaranya growing house yang didesain dengan tingkat keamanan baik dan memikirkan dampak lingkungan.
Rumah Dome merupakan bangunan yang dibangun tanpa pondasi yang memungkinkan bangunan menjadi tahan terhadap gempa. Barrata merupakan penguatan besi tulangan bangunan yang saling mengait sehingga tahan akan guncangan gempa. Ruspin merupakan teknologi rangka rumah pracetak dengan menggunakan sistem sambungan berbaut.
Rumah Conwood biasanya didesain konstruksinya sehingga berhubungan erat dengan material. Serat adalah salah satu komponen pembangunnya dan lentur terhadap guncangan. Risha biasanya bangunannya menggunakan bahan beton bertulang pada struktur utamanya. Telah teruji tahan gempa hingga 8 SR dan Rika merupakan rumah instan berbahan dasar kayu,” katanya.
Sarwidi mengatakan pula, untuk prosedur perkuatan (retrofitting) rumah tembokan lama agar lebih aman terhadap gempa, bisa periksa kondisi pondasi, dinding, kolom, dan atap. Tambahkan sloof, kolom praktis, dan ring balok bila belum ada.
Perkuat sambungan antara pondasi–dinding–atap agar menjadi satu kesatuan struktur. Perbaiki retak-retak struktural pada dinding. Kurangi beban atap yang terlalu berat, bila memungkinkan. Tambahkan pengaku atau elemen perkuatan pada dinding yang panjang dan lemah.
“Kita membuatnya bisa gunakan tenaga teknis yang memahami prinsip bangunan tahan gempa,” katanya.
Sarwidi mengatakan juga, kesalahan konstruksi paling umum yang membuat rumah tembokan mudah roboh saat gempa, biasanya tidak memiliki kolom praktis dan ring balok.
Sambungan antar-elemen struktur tidak kuat, mutu pasangan bata dan mortar rendah, pondasi tidak memadai, bukaan pintu dan jendela terlalu banyak atau terlalu dekat sudut bangunan, atap terlalu berat, bentuk bangunan tidak beraturan (asimetris).
”Biasanya pembangunan tidak mengikuti kaidah bangunan tahan gempa,” katanya.
Sarwidi menuturkan, penyebab paling sering rumah tembokan roboh saat gempa adalah dinding bata tidak diikat oleh sistem sloof kolom praktis ring balok yang memadai.
“Ini merupakan pelajaran penting dari kerusakan rumah pada 2006 di Yogyakarta dan berbagai gempa besar lainnya di Indonesia,” ucapnya.

