Mabur.co – Jogja Book Fair (JBF) 2026 kembali hadir di Yogyakarta dengan konsep yang lebih semarak. Tahun ini, JBF berkolaborasi dengan Pameran Arsip Keistimewaan dalam satu rangkaian kegiatan yang mengusung tema besar “Membumikan Literasi, Merawat Memori”.
Pameran buku ini memang juga menghadirkan berbagai potret budaya dan perjalanan keistimewaan yang hidup serta berkembang di tengah masyarakat. Pameran buku dan arsip tersebut berlangsung selama 11 hari, 29 Agustus–8 September 2026, di Grhatama Pustaka, Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah (DPAD) DIY.
Ketua IKAPI DIY, Wawan Arif mengatakan, Jogja Book Fair 2026 merupakan agenda tahunan yang menjadi ruang pertemuan bagi penerbit, penulis, pembaca, komunitas, dan berbagai pegiat literasi. Kegiatan ini diselenggarakan melalui kerja sama Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI) DIY dan DPAD DIY.
“Pada penyelenggaraan tahun ini, sebanyak 119 penerbit nasional dari Yogyakarta dan berbagai daerah di Indonesia turut ambil bagian. Pengunjung dapat menemukan beragam kategori buku, mulai dari buku anak, pendidikan, sastra, sosial, budaya, agama, hingga berbagai tema lainnya,” ucapnya, Minggu (30/8/2026).
Merawat Memori Kolektif
Menurut Wawan, penyelenggaraan JBF tahun ini memiliki dimensi yang lebih luas karena tidak hanya mempertemukan masyarakat dengan buku, tetapi juga menghadirkan arsip sebagai bagian dari upaya merawat memori kolektif.
“Jogja Book Fair tahun ini tidak hanya menjadi ajang jual-beli buku, tetapi juga menjadi ruang untuk merawat ingatan kolektif masyarakat melalui buku, arsip, dan literasi. Kolaborasi dengan Pameran Arsip Keistimewaan menjadi langkah penting agar generasi muda dapat mengenal lebih dekat jejak sejarah dan perjalanan masyarakat yang terekam dalam arsip,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah (DPAD) DIY, Ir. Syam Arjayanti, M.P.A., menuturkan, kolaborasi antara Jogja Book Fair dan Pameran Arsip Keistimewaan menjadi bagian penting dalam memperkuat ekosistem literasi di Yogyakarta.
“Kolaborasi Jogja Book Fair dengan Pameran Arsip Keistimewaan merupakan sinergi yang sangat penting dalam membangun ekosistem literasi di Yogyakarta,” ucapnya.
Rekaman Perjalanan Masyarakat
Syam Arjayanti menuturkan, buku dan arsip sama-sama menjadi sumber pengetahuan sekaligus rekaman perjalanan masyarakat.
“Melalui kegiatan ini, menghadirkan ruang yang tidak hanya mengajak masyarakat membaca, tetapi juga mengenal, memahami, dan merawat memori kolektif yang tersimpan dalam arsip yang ada,” ujarnya.
Oleh sebab itu, generasi muda perlu mendapatkan ruang untuk berinteraksi dengan buku, arsip, sejarah, dan berbagai sumber pengetahuan lainnya.
“Literasi tidak berhenti pada aktivitas membaca, tetapi juga menjadi bagian dari proses memahami perjalanan masa lalu sekaligus membangun masa depan,” katanya. ***
