Festival Olahraga dan Permainan Tradisional, Edukasi Pelestarian Budaya

3 Min Read
Rugby players contest the ball on a dusty field, wearing green and red uniforms, with a coach or spectator at the right edge.
Dinas Kebudayaan Kabupaten Bantul, menggelar Festival Olahraga/Permainan Tradisional 2026 di Lapangan Trirenggo, Bantul, Yogyakarta. (Foto: Setiaky A Kusuma)

Mabur.co- Guna melestarikan permainan dan olahraga tradisional sebagai bagian dari warisan budaya takbenda yang diwariskan oleh para leluhur, Dinas Kebudayaan (Disbud) Kabupaten Bantul, menggelar Festival Olahraga/Permainan Tradisional 2026 di Lapangan Trirenggo, Bantul, Yogyakarta, Kamis (30/7/2026).

Kasi Warisan Takbenda, Dinas Kebudayaan Bantul, Anas Tri Susanto, menuturkan, Festival Permainan Tradisional diselenggarakan dalam rangka melestarikan permainan tradisional untuk anak-anak SMP.

Mereka tetap mengenal permainan tradisional yang bertujuan agar hidup kembali di tengah masyarakat sebagai salah satu sarana sosialisasi atau pun sarana interaksi antar-anak.

Dampak Positif pada Perkembangan Sosial Anak

”Permainan tradisional ini kembali diperkenalkan di tengah masyarakat. Tentu berdampak positif pada perkembangan sosial anak. Juga mengurangi ketergantungan anak pada gadget atau pun pada media sosial,” ucapnya, Kamis (30/7/2026).

Coach in red gestures toward the field as young players in colorful jerseys run and practice on a dirt sports field, with tents and trees in the background.
Sebanyak 84 peserta dari 14 Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Kabupaten Bantul yang terbagi dalam 7 tim putra dan 7 tim putri mengikuti Festival Olahraga/Permainan Tradisional 2026 di Lapangan Trirenggo, Bantul. (Foto: Setiaky A Kusuma)

Menurut Anas, selama ini, anak-anak tidak mengenal permainan tradisional secara memadai. Karena kurangnya pengetahuan anak-anak terkait dengan permainan yang bisa dilakukan bersama-sama.

Permainan Tradisional Tak Lagi Populer

Selama ini permainan tradisional tidak hilang tetapi mulai berkurang dikenal, dalam arti anak-anak mulai jarang memainkan permainan tradisional.

“Saya berharap anak-anak bisa tumbuh kembali minat atau pun tumbuh kesenangan dalam diri untuk bisa mengimplementasikan permainan tradisional. Dalam permainan keseharian. Ini juga sebagai sarana edukasi bagi guru-guru. Guru-guru olahraga untuk bisa menerapkan salah satu permainan tradisional sebagai sarana olahraga bagi murid yang menggembirakan,“ katanya.

Menurut Anas pula, dalam festival tersebut, sebanyak 84 peserta dari 14 Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Kabupaten Bantul yang terbagi dalam 7 tim putra dan 7 tim putri ikut terlibat memeriahkan acara.

“Para peserta berkompetisi dalam cabang permainan tradisional misalnya Gobak Sodor. Permainan yang mengedepankan ketangkasan, kerja sama, strategi, serta sportivitas,” ucapnya.

Permainan tradisional memang merupakan bagian dari kebudayaan yang memiliki nilai penting untuk dilestarikan.

“Sering kali ada yang bertanya, mengapa Dinas Kebudayaan mengurusi olahraga. Padahal permainan tradisional merupakan bagian dari kebudayaan yang harus dilestarikan. Dalam pengembangan desa budaya, permainan tradisional seperti Gobak Sodor, Cublak-cublak Suweng, Egrang, hingga Pelincengan menjadi salah satu unsur yang dinilai. Keberadaan permainan-permainan tersebut menunjukkan bahwa tradisi masyarakat masih hidup dan terus diwariskan,” tegasnya. ***

Share This Article
Teruslah Berbuat baik kepada siapapun karena hal baik itu, akan kembali padamu dengan berbagai cara
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar