Kesempatan Langka, Istana Kepresidenan Gedung Agung Yogyakarta Bisa Dikunjungi Masyarakat Gratis 

4 Min Read
Park scene featuring a white pavilion-like building with arches, black lamp posts, and a green lawn on a sunny day
Gedung Agung atau Istana Negara di Yogyakarta. (Foto: Flickr)

Mabur.co – Melalui program Istana Untuk Rakyat atau Istura, masyarakat umum kini bisa masuk dan menelusuri Gedung Agung atau Istana Kepresidenan Yogyakarta yang terletak di Kawasan Malioboro Yogyakarta. 

Program ini dibuka pemerintah guna memberikan kesempatan bagi warga masyarakat untuk melihat langsung kompleks bangunan bersejarah yang menyimpan jejak penting perjalanan Republik Indonesia. 

Selama ini kompeks Gedung Agung atau Istana Kepresidenan Yogyakarta sendiri selalu tertutup untuk masyarakat umum. Wisatawan hanya bisa melihat bangunan megah ini dari kejauhan di luar pagar istana.

Padahal Istana Negara Yogyakarta menyimpan bagian penting sejarah perjalanan Indonesia. Di tempat inilah Presiden Soekarno pernah menetap dan menjalankan roda pemerintahan ketika Yogyakarta menjadi Ibu Kota Republik Indonesia sekitar tahun 1946-1949.

Kompleks bangunan kuno bergaya Eropa yang dibangun Pemerintah Kolonial Belanda pada tahun 1824 ini awalnya difungsikan sebagai kantor Residen Belanda untuk wilayah Yogyakarta. 

Selain nampak megah, kompleks Gedung Agung ini juga dibangun dengan tata letak yang tertata rapi khas gedung residen Belanda, serta dilengkapi dengan sejumlah taman hingga pepohonan yang tumbuh rimbun sehingga nampak asri.

Daya tarik Gedung Agung tidak hanya terletak pada nilai sejarahnya. Pasalnya kompleks Istana Kepresidenan ini juga memiliki Museum yang menyimpan beragam karya seni dan koleksi bersejarah bernilai tinggi. 

Karya Maestro Indonesia

Tak main-main sejumlah karya itu antara lain lukisan karya maestro Indonesia, seperti Raden Saleh, Affandi, Basoeki Abdullah, dan Dullah, serta koleksi patung perunggu, keramik antik, dan berbagai benda yang menjadi saksi perjalanan bangsa.

Dan lewat program Istura, kini masyarakat umum bisa masuk, menelusuri dan melihat langsung kompleks Gedung Agung beserta semua koleksi tersebut tanpa dipungut biaya alias gratis.

Dilansir dari situs resmi Pemerintahan Provinsi DIY, Rabu (8/7/2026), nanti setiap pengunjung yang mengikuti program ini wajib didampingi pemandu resmi. Dimana pemandu akan menjelaskan setiap cerita di balik koleksi berharga maupun berbagai peristiwa penting yang pernah terjadi di kawasan ini.

Selama berkunjung, pengunjung diperbolehkan mengabadikan momen di sejumlah titik yang telah ditentukan petugas. Aktivitas fotografi untuk keperluan dokumentasi pribadi maupun edukasi juga diperkenankan.

Namun, pengunjung wajib mematuhi sejumlah ketentuan diantaranya tidak diperkenankan menyentuh lukisan, patung, keramik antik, maupun etalase koleksi museum. 

Penggunaan lampu kilat saat memotret juga dilarang untuk menjaga kelestarian karya seni. Selain itu, seluruh peserta kunjungan diharapkan berjalan tertib sesuai jalur yang telah ditentukan serta mematuhi arahan pemandu dan petugas selama berada di lingkungan Gedung Agung.

Program ISTURA terbuka bagi berbagai kalangan, mulai dari pelajar, pelajar, keluarga, komunitas, organisasi, instansi pemerintah maupun swasta, hingga masyarakat umum. 

Meski begitu, kunjungan tidak dapat dilakukan secara spontan atau tanpa reservasi. Seluruh calon pengunjung wajib mendaftar terlebih dahulu melalui sistem pendaftaran yang telah disediakan. Yakni melalui laman resmi ISTURA. 

Untuk sekolah, instansi, atau organisasi formal, surat permohonan wajib menggunakan kop surat dan stempel resmi. Sementara bagi individu, keluarga, maupun komunitas nonformal, cukup melampirkan surat permohonan yang ditandatangani oleh koordinator atau penanggung jawab.

Setelah formulir dan dokumen dikirim, tim admin akan melakukan verifikasi sesuai ketersediaan kuota kunjungan. Hasil persetujuan akan disampaikan melalui WhatsApp dalam waktu sekitar satu hingga tiga hari kerja. Seluruh proses pendaftaran hingga pelaksanaan kunjungan tidak dikenakan biaya apa pun.

Share This Article
Avatar photo
Jurnalis lahir dan tinggal di Jogja
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar