Nguras Enceh, Wujud Penghormatan kepada Sultan Agung

2 Min Read
Elderly man in traditional clothing pours water from a jug onto a large ceremonial urn while others assist in a shade-filled outdoor setting.
Bupati Puroloyo Ngayogyakarta Bagian Kota Gedhe dan Imogiri, Kanjeng Raden Tumenggung (KRT) Hastono Ningrat saat melakukan tradisi nguras enceh di Makam Imogiri, Bantul. (Foto: Setiaky A Kusuma)

Mabur.co-   Tradisi nguras enceh di Makam Imogiri, Bantul, adalah penyucian enceh atau gentong dan pengisian air kembali. Proses penyucian ini tidak lain berasal dari kata nguras yang mempunyai arti menguras. Pelaksanaan tradisi tersebut telah dilakukan sejak zaman dahulu.

Bupati Puroloyo Ngayogyakarta Bagian Kota Gedhe dan Imogiri, Kanjeng Raden Tumenggung (KRT) Hastono Ningrat, mengatakan, pada 1613-1645, Kerajaan Mataram diperintah oleh Sultan Agung.

Ia merupakan raja yang disegani oleh rakyat dan raja-raja yang pernah bekerja sama dengan kerajaan Mataram.

Karena itu, banyak sekali persembahan yang diberikan raja dari kerajaan lain kepada Sultan Agung, salah satunya berupa enceh atau tempayan.

Bukan Barang Mewah

“Jika dibandingkan emas, enceh bukanlah barang yang mewah. Namun, Sultan Agung lebih memilih enceh dengan alasan agar barang-barang yang beliau miliki tidak menjadi bahan rebutan oleh keturunannya,” ucapnya, Rabu (8/7/2026).

Man in white traditional attire pours liquid from a kettle to a crowd at a long table outdoors, with onlookers nearby.
Masyarakat sedang antre untuk mendapatkan air dari nguras enceh. (Foto: Setiaky A Kusuma)

Kanjeng Raden Tumenggung (KRT) Hastono Ningrat, mengatakan, sampai saat ini, enceh tersebut dipelihara dan dijaga oleh para abdi dalem, masyarakat, dan keturunannya sebagai wujud penghormatan terhadap Sultan Agung.

“Mereka yakin bahwa dengan memelihara benda peninggalannya, berkah dan kebaikan Sultan Agung dapat menurun kepada mereka,” katanya.

Benda Pusaka

Kanjeng Raden Tumenggung (KRT) Hastono Ningrat, mengatakan lagi, enceh atau gentong yang ada di Kompleks Makam Raja-raja Mataram itu berjumlah 4 (empat) buah. Masing-masing enceh diberi nama seperti umumnya benda-benda yang dianggap sebagai pusaka.

“Nama-nama enceh tersebut jika diurutkan dari arah Barat ke Timur yaitu enceh atau Gentong Kyai Danumaya, Kyai Danumurti, Kyai Mendung, dan Nyai Siyem. Kyai Danumaya merupakan sebuah gentong yang berasal dari Kerajaan Palembang, Kyai Danumurti berasal dari Kerajaan Aceh, Kyai Mendung berasal dari Kerajaan Ngerum atau Turki, dan Nyai Siyem berasal dari Kerajaan Siam atau Thailand,” ucapnya.

TAGGED:
Share This Article
Teruslah Berbuat baik kepada siapapun karena hal baik itu, akan kembali padamu dengan berbagai cara
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar