Mabur.co – Kain batik khas Indonesia memang dibuat dengan proses yang rumit dan membutuhkan waktu yang tidak sebentar.
Mulai dari pembuatan motif hingga tahap penjemuran atau finishing, membutuhkan waktu hingga bulanan. Bahkan, ada pula kain batik yang membutuhkan waktu tahunan.
Selain itu, dalam setiap motif batik memiliki makna dan filosofi luhur, bukan hanya sekadar fesyen belaka. Di balik setiap lembar kain batik, ada proses panjang yang dikerjakan dengan penuh ketelitian, kesabaran, dan dedikasi.
Dari goresan malam pertama hingga warna yang akhirnya menyatu sempurna, setiap tahap menyimpan cerita yang tak banyak orang tahu.
Penjelasan Kurator Ambabar
Kurator batik, Asti Suryo A, menuturkan, sentuhan malam atau lilin panas, menjadi ciri khas dari sebuah batik.
Setelah itu baru secarik kain digambar menggunakan canting maupun cap tembaga, hingga akhirnya dicelupkan ke dalam cairan pewarna.
“Tanpa malam panas atau lilin panas, tidak bisa secarik kain disebut batik,” demikian dilansir dari akun instagram ambabar, Jumat (25/9/2026).
Asti menjelaskan, penggunaan malam panas adalah kunci dalam identitas batik, seperti yang diakui oleh UNESCO pada 30 September 2009, ketika batik resmi diakui sebagai Warisan Budaya Takbenda.
“Pengakuan tersebut diberikan, karena batik tidak hanya kaya akan keindahan visual, tetapi juga memiliki makna simbolis yang erat kaitannya dengan status sosial dan siklus kehidupan masyarakat Indonesia,” ucapnya.
Menurut Asti, dahulu motif batik tertentu menunjukkan asal-usul seseorang, apakah ia berasal dari keluarga keraton, saudagar, petani, atau nelayan.
Bahkan, motif batik juga digunakan dalam berbagai upacara adat, mulai dari kelahiran hingga kematian. Misalnya, motif Sido Asih dan Sido Mukti sering dipakai dalam pernikahan, dengan harapan agar pengantin hidup sejahtera dan penuh kasih sayang.
Kearifan Lokal dan Identitas Nasional
“Selain itu, batik juga mencerminkan kearifan lokal dan identitas nasional. Namun, di era modern, batik sudah mulai menjadi bagian dari gaya hidup, dipakai sehari-hari sebagai simbol kebanggaan akan warisan budaya,” ucapnya.
Asti menjelaskan, untuk perbedaan batik cap, tulis dan printing yakni, batik tulis atau batik tradisional merupakan salah satu jenis batik yang proses pembuatannya dilakukan secara manual menggunakan tangan.
Cara membuatnya yaitu menerakan lilin memakai alat bantu canting pada kain yang sudah ada coraknya. Untuk membuat satu kain batik tulis ini dibutuhkan ketelatenan dan kesabaran ekstra karena jika melakukan kesalahan sedikit saja dapat memengaruhi hasil akhir.
Perbedaan Harga
Inilah yang menjadi alasan kenapa harga batik tulis jauh lebih mahal dibanding batik lainnya.
Untuk batik cap ini dibuat menggunakan cap atau stempel bermotif batik. Biasanya, cap ini terbuat dari tembaga dan kerap dijadikan sebagai pengganti fungsi canting sehingga dapat mempercepat proses pembuatan.
Meski cepat, batik cap ini dianggap kurang memiliki nilai seni karena semua motifnya mirip. Untuk itulah, harga dari batik cap ini tidak semahal batik tulis, terlebih pembuatannya bisa secara massal.
“Sedangkan batik printing dibuat dengan cara dicetak menggunakan mesin modern. Biasanya, sebelum melalui tahap pembatikan terlebih dahulu dibuat motif atau pola. Kemudian, motif tersebut dibuatkan cetakan lalu alat cetaknya ditempelkan pada kain katun bermotif dan diberi pewarna,” ucapnya.
Asti menuturkan, perbedaaan antara batik tulis, batik cap, dan printing lainnya yakni dari segi aroma, batik tulis dan batik cap tidak memiliki aroma yang menyengat karena terbuat dari lilin (malam).
Sedangkan batik printing beraroma bahan kimia tekstil. Motif dari batik tulis dan batik cap biasanya tembus sampai ke belakang sehingga bagian luar dan dalam batik ada motifnya. Sementara, pada batik printing hanya di luarnya saja.
“Batik printing umumnya memiliki pola atau motif yang lebih rapi dibanding batik tulis dan batik cap karena dibuat menggunakan mesin. Meski motif dari batik tulis dan batik cap ini tidak serapi batik printing tapi di situlah nilai seninya,” katanya.
