Kitab Syarah Tajul Khalwatiyah, Ajaran Syekh Yusuf, Ditemukan di Mampie, Mandar, Sulbar (Bag. 1)

7 Min Read
Split image: on the left, an elderly man with a white beard and a dark cap looking downward; on the right, an open manuscript with handwritten Arabic text and diagrams.
Saiyye' Daenna Marufi (kanan) dan isi Kitab Syarah Tajul Kalwatiyah (kiri) (Sumber: Tesis Ihsan Said)

Di sebuah rumah kayu di Mampie, Kecamatan Galeso, Wonomulyo, Kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat, ada sebuah kitab tua yang disimpan bukan di lemari kaca museum, tapi di peti kayu, dibungkus kain putih, diletakkan di tempat paling tinggi. Tidak semua orang boleh menyentuhnya. Harus cuci tangan. Harus berwudhu. Harus minta izin kepada pewarisnya.

Kitab itu disebut jamaah dan pewarisnya sebagai Kitab Syarah Tajul Khalwatiyah. Kitab ini langka dan belum pernah ditemukan di tempat lain, ungkap M. Ihksan Said, S.Pd, M.A. yang baru saja meneliti sanad dan ajaran kitab ini, sebagai tugas akhir penyelesaian studi magisternya di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.  

Penemuan, lebih tepatnya, pengungkapan kitab ini menggetarkan kalangan pengkaji tarekat di Sulawesi. Sebab jika benar apa yang dituturkan keluarga pewaris, kitab ini bukan sekadar salinan. Ia diduga murni ajaran Syekh Yusuf Al-Makassari, yang disyarah langsung oleh para muridnya dari Syekh Yusuf, lalu diwariskan melalui sanad Khalwatiyah secara turun-temurun, melalui Saiyye Bojo-Barru, Sulawesi Selatan.

Jalur kedatangannya bukan lewat jalan darat. Tapi lewat laut. Terang Ihksan peneliti kajian Islam kelahiran Mandar ini yang masih akan melanjutkan risetnya ke Barru pada akhir tahun nanti untuk memastikan kesinambungan sanad mundur kitab ini dari Saiyye’ Daenna Marufi-ke Saiyye Bojo’ hingga ke Syekh Yusuf Al-Makassari.  

Saiyye Bojo’ Naik Lambo dari Barru ke Mampie

Keterangan di Mampie mengatakan, kitab ini bersama ajaran Khalwatiyah dibawa datang dan diajarkan oleh Saiyye (Sayyid) Bojo’, melalui jalur pelayaran laut, menggunakan kapal Lambo dari Barru ke Mampie. Ungkap Annangguru Iyye’ (Guru Sayyid) Saidung Tanreale, pewaris kitab ini dari jalur ayahnya.

Lambo adalah perahu layar Bugis-Makassar yang dalam catatan maritim Sulawesi Selatan berkembang dari perahu padewakang dan palari. Perahu ini bukan kapal pesiar. Ia kapal dagang, kapal dakwah, kapal pengangkut garam, beras, kopra, dan juga kitab.

Keterangan itu dibenarkan oleh Ihsan atas kesesuaian data sejarah maritim Mandar, masa kejayaan pelayaran perahu kapal jenis Lambo di Selat Makassar, termasuk dari jalur Barru-Sulsel ke Mampie di Mandar (Sulbar sekarang). Ini juga sesuai data sejarah maritim Mandar yang puncak kejayaannya di sekitar tahun 1800-1880, dikutip dari Buku Sejarah Maritim Mandar karya Dr. Abd. Rahman Hamid (sejarawan maritim).

Di Mampie, Saiyye Bojo bertemu dengan muridnya bernama Annaguru Saiyye Daenna Marufi, atau nama lengkapnya M. Daamin. Di tangan keluarga Daenna Marufi-lah kitab itu disimpan. Salah seorang anaknya, Annangguru Iyye’ Saidung Tanreale, menjadi penjaga berikutnya.

Ini adalah pola dakwah klasik Sulawesi: ulama tidak datang dengan rombongan dan spanduk. Ia datang sebagai penumpang Lambo, duduk di antara pedagang, tidur di geladak, makan nasi yang dimasak di atas goyangan ombak, lalu mengajar zikir di surau kecil di pinggir pantai Mampie setelah Isya.

Mampie bukan tempat sembarangan. Galeso adalah wilayah pesisir Mandar yang sejak abad ke-18 menjadi persinggahan pelaut Bugis, Mandar, Makassar, dan Buton. Di sini, bahasa Bugis bertemu bahasa Mandar. Di sini, tarekat bertemu dengan pelayaran.

Seorang sesepuh Mampie yang ditemui dalam penelusuran awal menuturkan dengan bahasa Mandar yang pelan, “Kitab ini bukan untuk dipamerkan. Ini amanah. Kalau bukan ahli warisnya, tidak boleh dibuka sembarangan. Dulu, Annaguru Daenna Marufi pesan, jaga kitab ini seperti jaga anakmu. Kalau kitab ini hilang, hilang juga jalan kita ke Tuhan.” Penuturan seperti ini adalah data etnografi yang paling penting, kitab itu bukan benda mati. Ia adalah anggota keluarga.

Mengapa Tajul Khalwatiyah Penting?

Syekh Yusuf Al-Makassari, nama lengkapnya Syekh Yusuf Abu al-Mahasin Hidayatullah Tajul Khalwati al-Makassari al-Bantani, lahir di Gowa 3 Juli 1626, wafat di Cape Town, Afrika Selatan, 23 Mei 1699 adalah Pahlawan Nasional Indonesia dan Afrika Selatan. Ia sufi, ulama, mufti Kesultanan Banten, dan pejuang antikolonial yang dibuang Belanda ke Sri Lanka lalu ke Afrika Selatan.

Gelarnya Tajul Khalwatiyah artinya Mahkota Tarekat Khalwatiyah. Gelar itu ia terima dari gurunya di Damaskus, Syekh Abu al-Barakat Ayyub bin Ahmad bin Ayyub al-Khalwati al-Quraisyi. “Tarekat Khalwatiyah masuk ke Indonesia dibawa oleh Syaikh Yusuf al-Makassari. Beliau mengambil Tarekat Khalwatiyah dari Syaikh Abu al-Barakat Ayyub bin Ahmad bin Ayyub al-Khalwati al-Quraisyi ketika berada di Damaskus,” dikutip dari alif.id, Sabilus Salikin (93): Sejarah Tarekat Khalwatiyah Masuk ke Indonesia.

Syekh Yusuf tidak hanya mengajar Khalwatiyah. Ia juga mendapat ijazah Qadiriyah, Naqsyabandiyah, Syattariyah, Ba’lawiyah, dan puluhan tarekat lain. Tapi yang ia tekankan adalah tiga hal: kebersihan batin, pemahaman tentang Tuhan, dan makna insan kamil, manusia sempurna.

“Khalwatiah Syekh Yusuf tariqah (sufi order) is a leading sufi order in South Sulawesi. Martin van Bruinessen noted that this tariqah emerged around the seventeenth century where Syekh Yusuf al-Taj al-Khalwati al-Makassari (1626-1699) is believed as the main figure behind this tariqah,” dikutip dari Jurnal UIN Alauddin Makassar, Exploring the Principal Teachings of Khalwatiah Syekh Yusuf Tariqah in South Sulawesi, Muhaemin Latif.

Karyanya yang paling terkenal Zubdatul Asrar fi Tahqiq Ba’d Masyarib al-Akhyar, Safinatun Najah, Qurratul Ain, Kaifiyat al-Zikir. Kitab-kitab ini masih diajarkan di pesantren-pesantren Sulawesi sampai hari ini. Tapi Syarah Tajul Khalwatiyah yang ditemukan di Mampie ini berbeda. Jika benar, ia adalah syarah, penjelasan, atas ajaran Tajul Khalwatiyah yang ditulis bukan oleh Syekh Yusuf sendiri, tapi oleh murid-muridnya yang langsung mendengar dari Syekh Yusuf. Lalu syarah itu diwariskan lewat sanad ke Saiyye Bojo, Barru.

Artinya, kitab ini adalah jembatan lisan yang menjadi tulisan. Dari mulut Syekh Yusuf ke telinga muridnya, dari telinga muridnya ke pena, dari pena ke tangan Saiyye Bojo, dari tangan Saiyye Bojo ke tangan Saiyye’ Daenna Marufi, dari Daenna Marufi ke Saiyye’ Saidung Tanreale, sampai ke tangan kita semua. (Bersambung).

Share This Article
Cartoon man singing into a microphone, holding a sheet of paper, wearing a hat and scarf against an orange background.
Sastrawan, Antropolog.
Avatar photo
Sejarawan dan Budayawan
Tidak ada komentar