Sore di Leiden jam lima, langitnya tipis. Sepeda-sepeda berderik di atas paving, angin kanal membawa bau lumut dan kopi dari kafe seberang.
Di Witte Singel, airnya diam, cuma diganggu bebek dan perahu kayu yang lewat pelan. Seorang pesepeda tiba-tiba berhenti tepat di bawah gedung KITLV.
Gedung bata tua itu milik Universitas Leiden, tempat naskah-naskah Nusantara disimpan. Matanya lalu menatap ke dinding putih yang menghadap kanal, bukan coretan.
Puisi yang Ditulis di Dinding Kota
Tapi barisan aksara yang amat dikenal bagi sejumlah mahasiswa yang sering melewati kanal itu. Bagi orang Belanda mereka sudah hapal, itu salah satu dari 110 muurgedichten, puisi yang ditulis di dinding-dinding kota.
Tapi bagi Irwan, anak muda Bugis yang sedang kuliah di Belanda, ia seperti merasa menemukan surat ibu di kulkas orang lain. Di bawahnya ada plakat kecil putih, terjemahan Belanda dan Inggris: puisi cinta abad ke-19. Elong.
Baca juga: https://mabur.co/kolom/aksara-lontara-bugis-di-pinggir-kanal-leiden-bagian-1/
Sore itu seorang ibu Belanda lewat dan mendorong stroller lalu berhenti, melihat Irwan yang sedang memotret papan itu.
“Do you know what it says?” tanyanya. Irwan jawab, “It says, how can I find another like you.”
Sore itu kanal tetap tenang. Tapi dinding itu tiba-tiba seperti bukan lagi dinding Leiden. Ia jadi dinding Orang Bugis, ini serasa seperti di Bone, di mana pun Lontara pernah ditulis.
Komoot & katalog Muurgedichten yang mencatat: puisi Bugis ini adalah domain perempuan abad ke-19, bukan karya bangsawan laki-laki.
Versi lengkapnya dari kitab I La Galigo yang sering dikutip di studi Elong Bugis, sambungannya kurang lebih: “Polena palele winru, tenrekutuju mata, padammu silise”.
Terjemahan bebasnya kurang lebih: “Sudah kucari ke sekeliling (dunia), tapi tak kujumpai, yang sama dengan dirimu,” dikutip dari eudl.eu.
Curhat Perempuan Bugis
Jadi yang tertulis di kanal itu bukan mantra perang, tapi elong osong/nyanyian asmara, curhatan perempuan Bugis abad ke-19 tentang kesetiaan. Makanya proyek Tegen-Beeld memilihnya di antara puisi Rilke, Neruda dan Shakespeare.
Lalu di antara itu, ada satu suara perempuan Bugis yang menolak diganti. Itu yang bikin pelaku di KITLV, Dr. Roger Tol (peneliti La Galigo KITLV Jakarta) pernah bilang: Bugis punya tradisi tulis yang hidup sampai akhir abad 19, tapi hampir punah karena tidak ada tradisi cetak, hanya naskah tangan.
Di kanal Leiden ini, tradisi tangan itu akhirnya dicetak permanen di dinding kota. Di sana, puisi dan aksara Bugis itu bukan lagi sekadar artefak museum, tetapi ia hidup, terbaca angin kanal setiap waktu. ***
