Seni Tradisi Ujungan, Keseruan Warga Gumelem Wetan Banjarnegara Saat Minta Hujan 

3 Min Read
Two dancers with wooden staffs collide in a field while a large crowd watches from behind a rope barrier under a clear blue sky.
Seni tradisi ujungan, ritual meminta hujan masyarakat Desa Gumelem Wetan, Susukan, Banjarnegara, Jawa Tengah. (Foto: Dok Pemkab Banjarnegara)

Mabur.co – Warga Desa Gumelem Wetan, Kecamatan Susukan, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah, punya tradisi unik untuk meminta hujan.

Di puncak musim kemarau seperti saat ini masyarakat biasanya akan mengadakan sebuah ritual yang dilakukan lewat kesenian Ujungan.

Seperti digelar di Lapangan Krida Manunggal yang terletak di desa setempat, Jumat (25/9/2026).

Dilansir mabur.co dari laman resmi Pemkab Banjarnegara, dalam ritual kesenian Ujungan ini dua orang akan nampak saling berhadapan sembari menyabetkan rotan di arena.

Sebelum saling menyabet, para peserta nampak menampilkan gerakan tari dengan iringan gamelan. Setelah itu, mereka melakukan adu sabet dengan rotan yang diarahkan ke bagian kaki mulai dari paha ke bawah.

Sportif Tidak Ada Dendam

Meski melibatkan kontak fisik, Ujungan memiliki aturan yang harus dipatuhi setiap peserta. Tokoh adat setempat, Budi Sulistyo, mengatakan, setiap peserta wajib menjunjung sportivitas dan tidak membawa perselisihan setelah pertarungan.

“Peserta wajib mematuhi aturan dan wajib mempertunjukkan tari sebelum atau sesudah saling sabet. Tidak ada dendam, selesai bertarung mereka berdamai, bersalaman, dan berpelukan,” ujarnya.

Peserta Ujungan sendiri umumnya berasal dari sejumlah wilayah, antara lain Gumelem Wetan, Gumelem Kulon, desa-desa sekitar, hingga Purbalingga dan Banyumas.

Menurut Budi pula, ritual Ujungan akan dimulai di waktu-waktu tertentu yakni pada Jumat Kliwon. Jika hujan belum turun, pelaksanaannya dapat diteruskan pada Jumat berikutnya.

“Ritual ini kita mulai pada hari ini, Jumat Kliwon. Kalau besok langsung turun hujan, Jumat depan sudah tidak ada lagi. Tapi kalau belum turun hujan, maka akan dilanjutkan pada hari Jumat berikutnya,” terangnya.

Untuk menjaga keselamatan, aturan Ujungan diperketat sejak tahun 1980-an. Sabetan rotan hanya diperbolehkan mengenai bagian paha hingga ke bawah. Panitia juga menyiapkan tim pengobatan di lokasi.

Warisan Budaya Daerah

Pemerintah Kabupaten Banjarnegara sendiri turut mendorong pelestarian Ujungan sebagai bagian dari warisan budaya daerah.

Sekretaris Daerah Banjarnegara, Hendro Cahyono, mengatakan tradisi tersebut perlu terus dijaga agar dapat dikenal dan diwariskan kepada generasi berikutnya.

“Tentunya kami harapkan ini diuri-uri terus agar bisa diwariskan kepada generasi yang akan datang,” katanya.

Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Banjarnegara saat ini juga telah mengusulkan Ujungan sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTB) dari Kabupaten Banjarnegara. 

Dengan upaya ini diharapkan tradisi atau ritual Ujungan dapat terus lestari sekaligus menjadi salah satu identitas budaya di Kabupaten Banjarnegara. 

Share This Article
Avatar photo
Jurnalis lahir dan tinggal di Jogja
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar