Mabur.co – Ritual larungan atau membuang sesaji ke laut menjadi salah satu prosesi paling sakral dalam tradisi Hajad Dalem Labuhan Kadipaten Pakualaman yang digelar setiap bulan Suro di Pantai Glagah, Temon, Kulon Progo.
Di balik ritual yang telah berlangsung selama ratusan tahun itu, setiap sesaji atau uba rampe yang dilarung menyimpan makna simbolis sekaligus filosofi tertentu yang mendalam.
Selain menjadi simbol untuk membuang hal-hal buruk, ritual labuhan atau larungan ini juga memiliki makna sebagai ungkapan rasa syukur, permohonan doa sekaligus harapan akan keselamatan bagi seluruh masyarakat.

Diawali dengan ritual doa di Pesanggrahan Pakualaman Glagah, seluruh uba rampe biasanya akan diarak dengan prosesi kirab prajurit bregada menuju pantai sebelum kembali didoakan dan dilarung ke laut.
Berdasarkan sejumlah sumber termasuk keterangan dari para Abdi Dalem Kadipaten Pakualaman, sejumlah sesaji atau uba rampe yang dilabuh dalam tradisi labuhan ini terdiri dari beberapa barang.
Salah satu yang paling sakral adalah perlengkapan ageman dalem atau perlengkapan pakaian Raja Kadipaten Pakualaman, Sri Paku Alam, yang terdiri dari pakaian bekas, payung kebesaran, kain semekan, kain panjang, selimut, kain mori, hingga potongan rambut dan kuku.

Sejumlah barang lain juga ikut dilarung seperti kotak tilam, dupa ratus, konyoh, minyak, hingga amplop berisi uang. Perlengkapan itu biasanya akan dibungkus dengan kain mori sebelum dilarung ke laut sebagai simbolisasi membuang segala keburukan atau sesuker atau sukerto.
Dilabuh dengan Lima Tandu
Selain itu, turut dilabuh atau dilarung sesaji atau sedekah raja yang dibawa menggunakan lima buah tandu. Seluruhnya merupakan hasil bumi serta aneka makanan tradisional dan jajan pasar.
Tandu paling mencolok adalah yang membawa gunungan raja kaya berisi aneka hasil bumi jenis palawija. Mulai dari pala kependhem (umbi-umbian), pala kasimpar (buah-buahan), hingga pala gumantung (tanaman yang tumbuh menggantung). Gunungan ini menjadi lambang rasa syukur atas hasil alam yang diberikan Tuhan.

Selain hasil bumi palawija, terdapat pula pareden padi atau gunungan padi dengan buah nanas di ujungnya yang menjadi simbol kemakmuran dan harapan agar hasil panen masyarakat tetap melimpah sepanjang tahun mendatang.
Uba rampe lainnya adalah tiga set sanggan, masing-masing dipersembahkan untuk Kadipaten Pakualaman, Pesanggrahan Glagah, dan Pantai Glagah. Dalam tradisi Jawa, sanggan merupakan simbol penghormatan sekaligus ungkapan bakti sebelum sebuah ritual besar dilaksanakan.
Prosesi labuhan juga menyertakan dua buah degan (kelapa muda), aneka macam pisang, serta berbagai jenis jenang atau bubur tradisional yang melambangkan permohonan keselamatan, ketenteraman, dan keseimbangan hidup.

Termasuk juga nasi tumpeng beserta ingkung ayam, dengan bermacam-macam lauk pauk seperti tahu tempe, serta aneka jajan pasar seperti apem, kolak ketan dan sebagainya. Hal itu sebagai bentuk wujud rasa syukur kepada Tuhan sekaligus simbol harapan akan kemakmuran.
Setelah seluruh uba rampe didoakan, benda-benda tersebut kemudian dibawa menuju bibir Pantai Glagah untuk kemudian dilarung ke Laut Selatan.
Sementara itu, gunungan hasil bumi tidak ikut dihanyutkan, melainkan diperebutkan masyarakat dalam tradisi rayahan atau ngalap berkah.
Warga meyakini hasil bumi tersebut membawa keberkahan sehingga banyak yang membawanya pulang untuk disimpan ditanam atau pun dimasak untuk seluruh anggota keluarga.

Menurut Abdi Dalem Kadipaten Pakualaman, KRMT Sestro Diprojo, makna utama labuhan bukanlah memberikan persembahan kepada laut, melainkan sebagai simbol manusia yang menyerahkan segala keburukan kepada Tuhan sekaligus memohon keselamatan serta keberkahan untuk kehidupan setahun ke depan.
“Labuhan adalah bentuk doa dan rasa syukur. Melalui uba rampe yang dilabuh, kita memohon agar segala hal yang buruk dibuang, sementara keselamatan, kesehatan, dan kesejahteraan senantiasa menyertai masyarakat,” ujarnya.
Hingga kini, Hajad Dalem Labuhan tetap menjadi salah satu tradisi penting Kadipaten Pakualaman yang terus dilestarikan.
Selain menjaga warisan budaya leluhur, prosesi ini juga menjadi daya tarik wisata budaya yang setiap tahunnya mengundang ribuan masyarakat maupun wisatawan.

