Sahabat Susilo Nugroho, Sepnu Heryanto Beberkan Rahasia Serial TVRI Yogyakarta ‘Mbangun Desa’

5 Min Read
Older man with gray hair and glasses wearing a plaid shirt sits among a crowd of people, some in headscarves, outdoors.
Salah satu pemain serial Mbangun Desa yang berperan sebagai tokoh Kuriman, Sepnu Heryanto. (Foto: Setiaky A Kusuma)

Mabur.co – Bagi yang pernah hidup di sekitar Yogyakarta pada 1990-an hingga 2000-an, akan selalu ingat serial mBangun Desa di TVRI Yogyakarta.

Sebuah tayangan yang bukan sekadar tontonan, melainkan cermin kehidupan pedesaan Jawa yang penuh dengan humor, ironi, dan kebersahajaan. Para pemeran tokoh Mbangun Desa kebanyakan berlatar belakang anggota Teater Gandrik.

Sinetron Khas Lokal Yogya

Era 1990-an, TVRI Yogyakarta menayangkan Mbangun Desa setiap akhir pekan. Ini sinetron khas lokal Yogya yang menyenangkan, tidak membosankan jika ditonton. Tayangan berbahasa Jawa dan kadang dicampur bahasa Indonesia. Tayangan yang mencerdaskan dengan isi cerita mengenai dinamika kehidupan masyarakat desa. Lengkap dengan bumbu gosip yang silang sengkarut.

Nuansa cerita yang muncul kebanyakan masih berbalut gaya Orde Baru karena tema tayangannya biasanya diembel-embeli “pesan” pemerintah terkait pembangunan desa. Topiknya beragam. Dari pentingnya KB, hingga program pertanian, pendidikan, keamanan kampung, dan seterusnya. 

Sepnu Heriyanto, yang berperan sebagai tokoh Kuriman di Mbangun Desa menjelaskan, Mbangun Desa tokoh utamanya adalah Susilo Nugroho. Berperan sebagai Den Baguse Ngarso.

Lalu ada Heru Kesawa Murti sebagai Bina alias Pak Kades, Sudiharjo sebagai Kang Sronto, kemudian Muji Rahayu sebagai Yu Sronto. 

“Dalam dunia nyata, Muji Rahayu ini adalah istri Heru Kesawa Murti. Nah, Pak Heru ini juga sebagai penulis naskah Mbangun Desa. Dalam perkembangan sinetron Jawa bergenre situasi komedi ini, ada pula sejumlah tokoh lain seperti Yati Pesek yang didapuk sebagai istri Den Baguse Ngarso,” ucapnya, Selasa (22/9/2026).

Gambaran Konflik ala Desa

Menurut Sepnu, Mbangun Desa berdurasi selama 30-an menit diisi suasana, obrolan, intrik, “adu mulut”, dan gambaran-gambaran yang “desa banget”.

Den Baguse Ngarso berperan sebagai orang lumayan kaya di kampung. Tapi sekaligus sok tahu, sok pinter, sombong, suka perintah sana-sini.

“Tokoh Den Baguse Ngarso ini juga sering jadi ‘tombak cucukan’, penyebar gosip. Lalu, tokoh Kuriman, si pemuda desa, berambut gondrong, berkarakter temperamental, grusa-grusu, dan kadang berpihak ke kubu yang memberinya keuntungan. Kuriman sepertinya diplot gampang dipengaruhi sana-sini dan ditarik ke sana ke mari,” ucapnya.

Menurut Sepnu pula, Bina, si tokoh bijaksana, mengambil porsi sebagai penengah dan pembuat solusi. Apa pun masalahnya, dia bisa dimintai saran. Dia dihormati warga karena sederhana, otaknya mlethik alias cukup jernih. Kadang-kadang salah perhitungan dan agak pelupa.

Lalu ada tokoh Sronto. Dalam cerita, ia adalah orang suruhan dan kepercayaan Den Baguse Ngarso. Sronto orangnya lugu, polos, sederhana, dan nrimo, tapi karena itu pula mudah dibohongi.

Kuat Pesan Pemerintah

“Jalinan cerita Mbangun Desa yang memotret kehidupan desa ini, kadang juga terkait pesan pemerintah. Nah, pesan pemerintah itu jadi asyik ‘disantap’ tatkala para pemeran memang orang ‘seni’ yang berkarakter dan jempolan. Den Baguse Ngarso ini sukses membuat saya sebal sepanjang tayangan, karena kemaki, kemlethak, jemotos,” ucapnya. 

Sepnu menuturkan pula,  Sronto, yang juga tokoh senior ketoprak, memang selalu berhasil membuat dirinya gemas karena selalu nrimo.

“Kekuatan utama Mbangun Desa, ada pada tokoh pemeran yang sudah matang pentas dari panggung ke panggung. Meski, tak bisa dipungkiri, faktor Den Baguse Ngarso yang juga bernama lain ‘Ngarso Pareng’ ini paling menyita perhatian karena nyebelin,” ucapnya.

Yu Sronto, menurut Sepnu, bisa tampil lebih “berani” ketimbang suaminya. Tapi juga hanya satu strip di atasnya. Tapi, keduanya saling mendukung. 

“Nah, tergantung siapa yang memengaruhi, ke situlah Kuriman berkiblat. Tapi karena Kuriman termasuk tokoh pemuda, maka penting juga perannya,” ucapnya.

Sepnu menjelaskan, salah satu dari beberapa tokoh yang muncul belakangan di serial ini, adalah Yati Pesek sebagai Den Ayune Ngarso. Juga ada anaknya Pak Bina. Yati Pesek misalnya cukup memberi “warna” karena dialah yang ternyata ditakuti Den Baguse Ngarso.

“Kalau Den Ayune Ngarso marah, Den Baguse bakal bingung, panik. Dalam setiap episode, Den Baguse selalu ‘ngisruh’ dan Pak Bina jadi tukang penjelas situasi. Banyak masalah, akhirnya dipungkasi Bina yang kalem.

Kuriman pun bisa reda tensinya, Den Baguse bisa manthuk-manthuk sambil mbesengut. Tapi intinya, ada solusi. Tak hanya dapat ketawanya. Tetap ada nilai kebersamaan, kerukunan yang disematkan. Tak ada yang ngomong SARA, tak ada tokoh yang mendelik-mendelik. Nggak ada yang menye-menye. Dan itu tidak ada di sinetron-sinetron sekarang, yang sudah nggak lucu, ndak mutu pula,” ucapnya. 

Share This Article
Teruslah Berbuat baik kepada siapapun karena hal baik itu, akan kembali padamu dengan berbagai cara
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar