Sambut Hari Kartini, 21 Pelukis Perempuan Gelar Pameran Bersama di Galeri Saptohoedojo - Mabur.co

Sambut Hari Kartini, 21 Pelukis Perempuan Gelar Pameran Bersama di Galeri Saptohoedojo

Mabur.co– Dalam rangka menyambut Hari Kartini, sebanyak 21 pelukis perempuan asal Yogyakarta dan Surakarta  menggelar pameran lukis bertajuk “Kartini dan  Perempuan Mataram”.

Pameran tersebut resmi dibuka oleh Prof. Dr. Yudiaryani, M.A, Dosen ISI  Yogyakarta, Fakultas Seni Pertunjukan,  Jurusan Teater, menggantikan Gusti Kanjeng Bendara Raden Ayu (GKBRAy) Adipati Paku Alam X  yang berhalangan hadir. Pameran Kartini dan  Perempuan Mataram  digelar di Galeri Saptohoedojo pada 17-22 April 2026.

Dalam pameran Kartini dan  Perempuan Mataram, perempuan pelukis yang ikut berpameran adalah Anggana Raras, Anik Indrayani, Debora Rini DH, Emut Prastiwi, Etty Purwandari, Harbani Setyowati, Kartika Aryani, Laksmi Shitaresmi, MM Nanik SG, Mulyani Nurul, Niken Indira, Niniek Purwanti, Noer Eny, Nurindrini, Picuk Asmara, Pratiwi Endang Lestari, Rara Marhan, Retno Rohayati, Rosalia Ratih, Siska/Siswanti dan Sumiyati Herman.

Group of women in colorful traditional outfits posing indoors at a cultural venue.
Para pelukis yang ikut pameran lukis Kartini dan Perempuan Mataram berfoto bersama dengan pemilik galeri Saptohoedojo, Yani Saptohoedojo, dan Dosen ISI  Yogyakarta, Fakultas Seni Pertunjukan,  Jurusan Teater, Prof. Dr. Yudiaryani, M.A. (Foto: Setiaky A Kusuma)

Kurator pameran,  Dr. Hajar Pamadhi MA (Hons), menyampaikan, pameran lukis 21 pelukis perempuan dari Yogyakarta dan Surakarta di Galeri Saptohoedojo diharapkan mampu menginspirasi kehidupan.

Pameran ini mengangkat pemikiran tentang wanita, perempuan sebagai poros kehidupan dan sebagai objek formal.

“Medium yang digunakan variatif, ini menunjukkan bahwa sebuah karya seni yang dipentingkan adalah ungkapan rasa dan pikirannya. Ekspresi yang diangkat mulai dari prinsip realis, realistik, surealisme, dan realisme sosial,” tutur Hajar kepada mabur.co, Jumat (17/4/2026) malam.

Hajar Pamadhi menjelaskan, sentuhan kepada karya realis banyak dilakukan karena titik awal para pelukis sebenarnya adalah ingin memberikan gambaran seorang wanita dan perempuan.

“Sehingga karya seni merupakan pemancing ide, berpikir, dan merasakan kehidupan di dunia. Bagi perempuan Mataram, seni merupakan ekspresi realistik, melalui melukis akan ditemukan makna hidup dan gambar yang sesungguhnya,” tandasnya. 

Pameran yang digelar pertama kali di Galeri Saptohoedojo tersebut merupakan bentuk penghormatan terhadap semangat perempuan Indonesia yang tangguh, berbudaya, dan selalu berkarya.

“Pameran ini menjadi ruang apresiasi bagi perempuan-perempuan hebat lintas latar belakang yang terus menjaga nilai budaya, mengekspresikan kreativitas, serta memberi inspirasi melalui karya, dan dedikasi,” ujarnya.

Direktur Pusat Kebudayaan Saptohoedojo, Wahjudi Djaja, berharap, agar seni bisa dijadikan media untuk mendekatkan dan menghangatkan kohesi sosial insan budaya dari Yogyakarta dan Surakarta.

“Kedua wilayah merupakan representasi Mataram. Para penghulu sejarah Mataram adalah sosok yang kuat dalam mengangkat kebudayaan. Bahkan, Kartini pun bila dirunut memiliki akar ke Mataram. Dengan menggali dan mengangkat narasi perempuan Mataram, kita berharap memperoleh inspirasi,” jelasnya.

Pemilik Galeri Saptohoedojo, Yani Saptohoedojo, memaparkan, pameran ini adalah sebuah ruang kebudayaan yang tidak hanya menampilkan karya, tetapi juga menghadirkan jiwa, rasa, dan pemikiran perempuan dalam lintasan sejarah dan kehidupan.

Dalam falsafah Jawa, perempuan bukan sekadar sosok biologis, melainkan pusat harmoni kehidupan.

“Perempuan adalah  sumber keseimbangan, penjaga rasa, dan penggerak peradaban dalam sunyi maupun terang,” ucapnya. 

Older woman in a black and gold traditional outfit singing into a microphone while looking at a phone in a decorative indoor setting
Pemilik Galeri Saptohoedojo, Yani Saptohoedojo, saat memberikan sambutan dalam pembukaan
Pameran Lukis Kartini dan Perempuan Mataram. (Foto: Setiaky A Kusuma)

Yani memaparkan pula, pameran ini menghadirkan 21 perempuan-perempuan dari Yogyakarta  dan Surakarta. Dua wilayah yang secara historis dan kultural merupakan denyut nadi peradaban Mataram.

“Di sinilah kita menemukan bahwa perempuan Mataram tidak hanya hidup dan dalam sejarah, tetapi terus bernapas dalam karya, dalam warna dan dalam simbol-simbol visual yang sarat makna,” katanya.

Yani menuturkan, karya-karya dalam pameran ini mengangkat sisi keibuan, kecantikan, dan kemolekan, bukan dalam makna superfisial, tetapi sebagai simbol feminis yang mendalam.

“Sebuah refleksi tentang perempuan sebagai poros kehidupan,” ucapnya. 

Yani kembali menjelaskan, Kartini sebagai inspirasi utama pameran ini adalah simbol kesadaran perempuan yang melampaui zaman. Namun dalam konteks Mataram, karena ini bukan entitas tunggal, melainkan bagian dari mata rantai panjang, perempuan-perempuan kuat yang menjaga nilai, budaya, dan martabat kehidupan.

“Pameran ini menjadi penting karena tidak hanya menghadirkan estetika, tetapi juga membuka ruang refleksi bahwa perempuan adalah subjek, bukan objek,” ucapnya.

Yani berharap besar, pameran ini tidak hanya menjadi ruang apresiasi, tetapi juga kontemplasi, ruang untuk memahami kembali posisi perempuan dalam kehidupan, dalam budaya, dan dalam masa depan.

“Semoga karya-karya yang ditampilkan mampu menginspirasi, menggugah rasa, dan memperkaya batin kita semua,” ujarnya.

Seniman lukis asal Surakarta, Mulyani Nurul, mengatakan, dalam pameran ini, ia menampilkan karya berjudul “Nyaman dalam gendongan”.

Makna dari tema ini adalah seorang anak kalau sudah dekat dengan ibunya, apalagi digendong, dia sangat bahagia.

“Dalam lukisan ini saya memilih orang Papua karena saya bangga dengan Indonesia yang beraneka macam suku bangsa,” paparnya. 

Smiling woman in a bright pink jacket stands beside a large framed painting of two Indigenous children with feathered headdresses.
Seniman lukis asal Surakarta, Mulyani Nurul, berfoto di depan karya lukisannya yang berjudul “Nyaman dalam Gendongan”. (Foto: Setiaky A Kusuma)

Papua adalah salah satu suku yang dulu belum memakai pakian.

“Zaman sekarang daerah Papua sudah modern dengan masyarakat yang sudah memakai pakaian,” ucapnya.

Mulyani Nurul menuturkan, lukisan tersebut adalah beraliran realisme. Ia juga suka melukis potret karena  kalau gambar wajah atau potret itu bisa dikerjakan lebih cepat.

“Kalau saya menggambar pemandangan tidak sebagus kalau saya menggambar wajah,” katanya. 

Seniman lukis asal Yogyakarta, Retno Rohayati, berfoto di depan karya lukisannya yang berjudul “Kembang Desa”.
(Foto: Setiaky A Kusuma)

Seniman Lukis asal Yogyakarta, Retno Rohayati menjelaskan, dalam pameran tersebut ia mengambil objek sosok perempuan karena tema pameran tentang Kartini. 

Dalam lukisan yang ia beri judul “Kembang Desa” bermakna seolah-olah perempuan sebagai figur  yang menarik.

“Lukisan ini, saya mengambil sosok wanita dalam kehidupan, saya kombinasikan antara keindahan, kecantikan wanita dengan perannya. Saya menggambarkan perempuan secara dekoratif,” tuturnya.

Woman in a yellow hijab plays a large traditional drum (kendang) while a man in a black outfit and white hat claps nearby in a culturally themed room.
Dosen ISI Yogyakarta, Fakultas Seni Pertunjukan, Jurusan Teater, Prof. Dr. Yudiaryani, M.A, didampingi Direktur Pusat Kebudayaan Saptohoedojo, Wahjudi Djaja, memukul beduk membuka pameran lukis Kartini dan Perempuan Mataram. (Foto: Setiaky A Kusuma)

Sementara itu, Dosen ISI  Yogyakarta, Fakultas Seni Pertunjukan, Jurusan Teater, Prof. Dr. Yudiaryani, M.A,  menuturkan, beberapa karya ia lihat sangat maju, tentang perempuan yang tidak berbicara lagi soal masa lalu.

“Saya sangat surprise karena mereka melukiskan Semar, Gareng, Petruk, di luar tema lukisan di sini yang kebanyakan tentang  tubuh perempuan. Yang menarik ada yang menggambarkan tubuh Punakawan  hanya 1 di antara 21 lukisan. Saya tidak tahu apa makna dari Punakawan itu. Apakah sekarang perempuan harus bisa melindungi negara kita yang itu adalah tuan kita? Negara dan rakyat itu tuan kita sebetulnya. Sekarang kita lihat,  bahwa suasana saat ini butuh pengayom, seperti Punakawan,” pungkasnya. *** 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *