Mabur.co- Di sepanjang pesisir pantai selatan Jawa, terbentanglah kisah mistis yang tak lekang oleh waktu tentang sosok penguasa lautan, Kanjeng Ratu Kidul atau yang lebih dikenal dengan nama Nyi Roro Kidul.
Kepercayaan turun-temurun ini memunculkan salah satu tradisi paling sakral dan ditunggu-tunggu, yaitu Ritual Larung Sesaji. Lebih dari sekedar upacara, ritual ini adalah jalinan kuat antara rasa syukur manusia terhadap alam, penghormatan kepada kekuatan spiritual, dan upaya melestarikan warisan budaya leluhur.
Dilansir dari situs Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, Rabu (3/6/2026), secara bahasa, Larung berarti menghanyutkan atau melepaskan, sementara Sesaji adalah persembahan. Dengan demikian, Larung Sesaji adalah ritual menghanyutkan persembahan ke tengah lautan.
Tradisi ini umumnya dilakukan oleh masyarakat pesisir, khususnya nelayan, sebagai wujud rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas rezeki hasil laut yang melimpah dan memohon keselamatan serta kemakmuran dalam menjalani hidup.
Penghormatan kepada Nyi Roro Kidul
Bagi sebagian masyarakat Jawa, ritual ini juga merupakan bentuk penghormatan kepada Nyi Roro Kidul penjaga laut selatan.
Pelaksanaan Larung Sesaji seringkali dikaitkan dengan momen-momen istimewa dalam kalender Jawa, seperti malam 1 Suro (awal Tahun Baru Islam/Jawa), yang dianggap sebagai malam penuh berkah dan kesakralan.
Ritual Larung Sesaji bukanlah acara yang digelar sembarangan. Setiap tahapannya mengandung makna filosofis yang mendalam.
Di dalam ritual larung sesaji, masyarakat akan menyiapkan berbagai jenis sesaji. Umumnya meliputi nasi tumpeng, buah-buahan, sayuran, dan hasil panen lainnya. Juga hewan ternak dan bunga tujuh rupa serta aneka makanan khas lainnya.
Sebelum dilarung, sesaji akan didoakan dalam sebuah upacara yang dipimpin oleh tokoh adat, juru kunci, atau kiai setempat.
Dalam rangkaian ini, dipanjatkan doa-doa yang berisi permohonan keselamatan, kemakmuran, dan perlindungan dari segala bala bencana.
Terlepas dari dimensi mistisnya, Larung Sesaji adalah sebuah pelestarian budaya yang berharga. Ia mengajarkan masyarakat untuk selalu menjaga keseimbangan antara manusia dengan alam dan kekuatan yang lebih tinggi. ***

