Sarung Tajong, Warisan Budaya Sekaligus Simbol Identitas Kota Samarinda 

4 Min Read
Black fabric with bright yellow and pink embroidery, placed on striped red-gray textiles with sewing tools nearby.
Tajong, Sarung Tenun Samarinda (foto : Instagram @sarungsamarindarahmadina)

Mabur.co – Indonesia memiliki beragam jenis kain sarung tenun di berbagai wilayah. Salah satu yang populer adalah Sarung Tenun Samarinda atau yang juga dikenal dengan nama Tajong Samarinda.

Selain telah ditetapkan sebagai ikon serta identitas kota Samarinda tahun 2013, sarung ini juga telah diakui sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pada 2016. 

Dikutip dari jurnal berjudul “Filosofi Sarung Tenun Samarinda sebagai Simbol dan Identitas Ibu Kota Kalimantan Timur” karya Rina Rifayanti, Gledis Kristina, Sri Roman Doni, Rulis Setiani, dan Three Putri Welha dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Mulawarman Samarinda, Sarung Tenun Samarinda merupakan kain tenun tradisional yang dibuat menggunakan Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM) atau yang dikenal dengan sebutan gedokan.

Sejarah Sarung Samarinda ini sendiri tidak dapat dipisahkan dari kedatangan masyarakat Bugis Wajo dari Sulawesi Selatan ke Samarinda Seberang sekitar abad ke-17 hingga ke-18.

Bersama tokoh Bugis, La Mohang Daeng Mangkona, para perantau tersebut diketahui membawa tradisi menenun yang telah diwariskan secara turun-temurun dari tanah asal mereka. 

Tradisi tersebut kemudian berkembang di tepian Sungai Mahakam dan berasimilasi dengan budaya masyarakat Kutai serta unsur seni khas Dayak.

Dari proses percampuran budaya itulah lahir Tajong Samarinda yang kini dikenal sebagai salah satu produk budaya khas Kalimantan Timur.

Salah satu pusat produksi Sarung Tenun Samarinda berada di Kampung Tenun Samarinda, Kelurahan Baqa, Kecamatan Samarinda Seberang. Saat ini kawasan ini telah berkembang menjadi destinasi wisata budaya yang ramai dikunjungi wisatawan.

Proses pembuatan sarung ini cukup rumit. Untuk menyelesaikan satu lembar sarung ini bahkan harus dilakukan hingga berhari-hari sesuai tingkat kesulitan dan kerumitan motifnya. 

Di masa lalu, bahan baku benang sutra yang digunakan untuk menenun sarung ini bahkan harus didatangkan langsung dari Tiongkok. 

Tak seperti sarung tenun lainnya, Sarung Tenun Samarinda atau Tajong memiliki ciri khas tersendiri yakni adanya sambungan di bagian tengah yang dijahit menggunakan tangan, bukan mesin jahit.

Selain itu motif dan warnanya juga sangat unik dan khas. Berbagai motif seperti Hatta, Anyam Palembang, Tabba Renni, Berre’ Setanggi, hingga motif kotak-kotak menjadi ciri yang populer di masyarakat. 

Sementara warna khas sarung ini didominasi warna-warnanya kontras seperti merah, hijau, kuning, hitam, hingga emas. 

Empat Fungsi Sarung Samarinda

Penelitian Universitas Mulawarman menyebutkan Sarung Tenun Samarinda memiliki empat fungsi penting, yakni aspek sosial, ekonomi, religi, dan estetika.

Dalam aspek sosial, kain tenun ini digunakan dalam berbagai upacara adat seperti kelahiran, pernikahan, hingga kematian. Salah satu motif yang memiliki nilai penting adalah motif pengantin yang menjadi bagian dari perlengkapan lamaran.

Sarung Samarinda juga berkembang menjadi pakaian adat khas Samarinda berupa baju Takwo, serta digunakan dalam pertunjukan Tari Tajong Samarinda.

Dalam aspek religi, sarung tenun ini digunakan dalam berbagai kegiatan keagamaan dan kerap dikenakan oleh tokoh agama maupun pemuka adat.

Sementara dari sisi estetika, terdapat aturan tersendiri dalam pemakaiannya. Bagian kepala sarung atau tumpal harus berada di bagian depan sebagai bentuk penghormatan terhadap nilai keindahan yang diwariskan secara turun-temurun.

Saat ini, kain tradisional ini telah dikembangkan menjadi berbagai produk fesyen modern seperti baju, tas, aksesori, hingga busana muslim sehingga memiliki nilai jual yang lebih tinggi.

Tak hanya itu, Sarung Tenun Samarinda juga telah menjadi simbol Kota Samarinda. Dimana motifnya dapat dijumpai dalam kehidupan masyarakat seperti seragam sekolah, seragam instansi pemerintah, hingga berbagai ornamen kota.

Share This Article
Avatar photo
Lahir di Jogja. Fans Man Utd.
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Leave a Comment