Mabur.co- Langkah kaki di Malioboro pada Sabtu pagi tak lagi sekadar menyusuri deretan toko dan pedagang.
Malioboro kini menawarkan pengalaman wisata yang lebih dari sekadar berbelanja dan berfoto. Melalui program Setu Sinau ing Malioboro, pengunjung diajak terlibat langsung dalam pengalaman belajar budaya Yogyakarta di ruang publik, dengan konsep yang santai, terbuka, dan interaktif.
Setu Sinau dirancang sebagai street workshop, yakni kelas budaya singkat yang berlangsung di ruang publik. Dalam pelaksanaannya, enam kelas digelar secara paralel, meliputi Sinau Aksara Jawa, Sinau Nggamel (gamelan), Sinau Ngadi Busana, Sinau Njoged (tari), Sinau Nggambar (melukis), serta Sinau Dolanan Anak. Seluruh kelas dipandu oleh pelaku seni dan komunitas budaya Yogyakarta, sehingga menghadirkan pengalaman belajar yang interaktif dan kontekstual.

Kepala Seksi Bahasa dan Sastra Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta, Ismawati Retno, menuturkan, Setu Sinau menjadi upaya mendekatkan pembelajaran budaya kepada masyarakat, khususnya generasi muda.
“Aksara Jawa dan berbagai ekspresi budaya lainnya perlu dikenalkan dengan cara yang menarik agar tetap hidup dan relevan di tengah perkembangan zaman,” ungkapnya, Sabtu (9/5/2026).
Ismawati mengatakan, kehadiran Setu Sinau turut menghidupkan Malioboro sebagai ruang edukasi.
Sejumlah pengunjung yang semula berolahraga atau berjalan santai tampak berhenti untuk menyaksikan bahkan mengikuti kelas-kelas yang tersedia.
“Kegiatan ini hadir rutin setiap Sabtu pagi sebagai atraksi budaya khas Malioboro, yang diharapkan mampu memperkuat citra Malioboro sebagai ruang budaya yang tidak hanya menawarkan pengalaman wisata, namun juga pengetahuan dan keterlibatan langsung bagi setiap pengunjung,” imbuhnya.

Salah satu peserta, warga Kalurahan Panggungharjo, Kapanéwon Sewon, Kabupaten Bantul, Normawati, mengatakan, sangat tertarik mendalami aksara Jawa meski memiliki tingkat kesulitan tersendiri.
“Belajar aksara Jawa cukup menantang, tetapi karena ada sistemnya jadi lebih mudah dipahami. Saya berharap semakin banyak orang ikut belajar di sini,” ujarnya.
Normawati menilai kegiatan ini efektif untuk mengenalkan budaya sejak dini kepada generasi muda.
“Pembelajarannya menarik dan mudah dipahami. Anak-anak jadi lebih mengenal budaya, khususnya aksara Jawa,” katanya.




