Walikota Yogyakarta Kumpulkan Pengamen dan Musisi Malioboro, Bahas Volume Musik hingga Titik Atraksi

3 Min Read
Nighttime street performance: four women in black tops and red patterned skirts dance while a small musical ensemble plays traditional instruments nearby.
Sejumlah musisi jalanan sedang beraksi di Malioboro. (Foto: Instagram)

Mabur.co – Sebagai ikon wisata Kota Gudeg, Jalan Malioboro, Yogyakarta, tak bisa dilepaskan dari keberadaan dan aktivitas para musisi jalanan yang berada di kawasan tersebut. 

Dengan sejumlah alat musik tradisional seperti gendang hingga angklung mereka kerap memainkan sejumlah lagu untuk menghibur wisatawan maupun masyarakat. 

Keberadaan mereka selama ini seolah sudah menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan yang berkunjung ke kawasan Malioboro baik untuk sekadar bersantai atau menikmati suasana yang ada.

Namun Senin (26/10/2026) kemarin Pemerintah Kota Yogyakarta, dipimpin Walikota Hasto Wardoyo, memanggil dan mengumpulkan seluruh pengamen maupun musisi jalanan tersebut. 

Mereka dikumpulkan di Taman Pintar untuk diajak diskusi bersama. Lalu kenapa mereka dipanggil? Dan apa sajakah yang dibahas? 

Penataan Aktivitas Bermusik

Berdasarkan keterangan resmi Pemkot Yogyakarta, forum diskusi tersebut digelar untuk membahas penataan aktivitas bermusik di kawasan wisata Malioboro. Serta memastikan aktivitas seni di sana tetap berjalan tanpa mengganggu kenyamanan masyarakat.

Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, mengatakan, penataan perlu dilakukan dengan melibatkan para musisi agar aturan yang disepakati sesuai dengan kondisi di lapangan. 

Menurutnya, musisi merupakan bagian dari kehidupan budaya Malioboro sekaligus kelompok masyarakat yang menggantungkan penghasilan dari aktivitas seni.

“FGD inilah dalam rangka untuk menata itu, dan supaya kita tidak top-down, tapi kita bottom-up (masukan) dari mereka,” kata Hasto seusai pertemuan.

Tujuh Titik Atraksi Tinggal Lima

Salah satu hal yang menjadi perhatian adalah keberadaan titik atraksi musisi. Pemkot Yogyakarta berencana mempertahankan tujuh titik dengan jumlah musisi sekitar 180 orang. 

Sementara itu, Dinas Kebudayaan mencatat saat ini terdapat sekitar 182 musisi yang telah terkurasi dan tergabung dalam 21 grup.

Salah satu musisi sekaligus Ketua Paseduluran Malioboro, Alvon Ditya, menyambut baik ruang dialog yang disediakan pemerintah. 

Namun, ia menyampaikan persoalan yang dihadapi para musisi, terutama karena titik yang bisa digunakan untuk tampil kini tinggal lima lokasi.

“Kalau dari kami kesulitannya adalah ketika tujuh titik yang diberikan itu kenyataannya sekarang tinggal lima,” ujar Alvon.

Lima lokasi yang saat ini digunakan, menurut Alvon, berada di kawasan Tugu, Mutiara, DPRD, Pasar Beringharjo, dan Pasar Sore.

Ia menyebut terdapat sekitar 27 grup musisi di Malioboro, dengan sekitar 23 grup di antaranya aktif mengamen.

Selain persoalan lokasi, pemerintah meminta para musisi menjaga ketertiban dan menghormati aktivitas masyarakat di sekitar Malioboro.

Volume pengeras suara, kebersihan, parkir kendaraan, serta aturan kawasan tanpa rokok menjadi beberapa hal yang perlu diperhatikan.

Kepala Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta, Yetti Martanti, mengatakan, Malioboro merupakan ruang publik yang digunakan bersama oleh seniman, pedagang, pengelola hotel, wisatawan, dan warga yang tinggal di kawasan tersebut. Karena itu, sikap saling menghargai diperlukan agar berbagai aktivitas bisa berjalan berdampingan.

Meski belum menghasilkan keputusan akhir, namun lewat pertemuan ini pemerintah berharap masukan dari para musisi menjadi dasar untuk menyusun penataan yang dapat diterima bersama, sekaligus menjaga Malioboro sebagai ruang ekspresi seni dan destinasi wisata utama Yogyakarta.

Share This Article
Avatar photo
Jurnalis lahir dan tinggal di Jogja
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar