Rangkaian Srawung di Luar Panggung, panitia sengaja membuat lima lapis kegiatan.
Antara lain: Suluh Sumurup Art Festival “Maneges” (24 Sept–2 Okt) di Galeri TBY. 193 karya dari 131 seniman difabel dari 14 provinsi, 13 komunitas, dan 6 Taman Budaya.
Ini bukan pameran belas kasihan. Ini politik kesetaraan.
Di Jawa, ada kepercayaan Maneges berarti meneguhkan difabel bukan objek, tapi peneguh rasa. Karya-karya mereka dipajang setara dengan karya non-difabel, di ruang pamer utama.
Suluh Sumurup dan Rangkaian TKTB XXV
Selanjutnya Thursday Night Run (24 Sept malam) bersama Playon Jogja dan OPD DIY.
KabarJawa.com mengulas asal-usulnya: lahir 2012 sebagai IndoRunners Yogyakarta, TNR perdana Ramadan hanya 4 orang dan diusir satpam restoran cepat saji. Kini 300-400 pelari tiap Kamis.
Filosofinya Jogja banget: Sumbu Filosofi dari Tugu ke Keraton itu tidak cuma untuk kirab budaya, tapi juga untuk lari. Lari malam di Jogja dianggap lampah laku, laku spiritual.
Ada pula Pojok Kreatif (27 Sept–2 Okt). UMKM, kerajinan, kuliner, workshop. Ini ekonomi budaya.
Di pojok ini, batik tulis Gunung Kidul dijual sebelah kaos sablon Taman Budaya Papua.
Tak lupa Gelar Karawitan “Ndang Tak Gong” (29 Sept) di Lobby Societeit Millitaire oleh Grup Kidang Alit.
Judulnya diambil dari mantra Jawa “Adang-adang tak gong”, menunggu gong tak kunjung datang.
Sebuah satire tentang birokrasi kebudayaan yang sering telat.
Tapi di malam pembukaan TKTB XXV, malam itu gong datang tepat waktu, sebagai penyambutan 17 Kepala Taman Budaya.

Selanjutnya ada pula Aksi Membatik, Bersama Kain 25 Meter (2 Okt) sekaligus akan penutup peringatan Hari Batik Nasional.
Anak-anak AFC dan warga membatik bersama. Di Yogyakarta, ada mitos batik tidak boleh selesai dalam sehari kalau untuk raja, harus nginap.
Kain 25 meter itu sengaja dibatik kolektif, sebagai simbol bahwa kebudayaan memang tidak pernah selesai oleh satu orang.
TBY sebagai Contoh yang Baik
Sementara itu Menkebud Fadli Zon mengakhiri malam dengan menyebut TBY sebagai contoh sukses menyelenggarakan ivent ini.
Lensacybernews.com menulis gagasan itu kuat. Taman budaya bukan sekadar tempat pertunjukan.
Ia adalah ruang tempat anak-anak belajar, seniman berkarya, maestro mewariskan pengetahuan, komunitas bertemu.
Kemarin malam, semua itu terjadi dalam satu gedung.
Anak-anak menyanyi, Ndarboy Genk campursari diiringi orkestra, difabel memamerkan karya, pelari Playon mengatur napas, dan seorang menteri yang dikenal sebagai politisi salah satu partai di tanah air, kini mengetuk gong pembuka.
Di luar, Malioboro masih berisik. Di dalam, Indonesia sedang mencoba merawat dirinya sendiri, dengan ritmis dan mistisisme Jawa, srawung, duduk bersama, lari bersama, dan membatik bersama di kain yang sama. Itulah tanah air Indonesia.
