Tradisi Pasola, Ritual Perang Masyarakat Sumba Bermula dari Kisah Cinta Segitiga 

5 Min Read
Riders on galloping horses compete in a traditional grassy-field race, with a large crowd watching in the background.
Tradisi pasola di Pulau Sumba NTT. (Foto: Explore Sumba)

Mabur.co – Sebuah tradisi unik dimiliki masyarakat Pulau Sumba, Nusa Tenggara Timur (NTT) yang menunjukkan kemampuan luar biasa dalam berkuda.

Diwariskan secara turun temurun, tradisi ini bukan sekadar permainan biasa namun telah menjadi bagian dari ritual kuno yang menjadi bagian adat kepercayaan masyarakat Sumba.

Tradisi itu disebut pasola, yakni adu ketangkasan para penunggang kuda dalam “berperang” menggunakan senjata berupa lembing kayu.

Dalam pasola, dua kelompok penunggang kuda akan saling berhadapan di sebuah arena untuk menunjukkan kemampuan mereka. 

Di atas kuda yang berlari kencang  mereka akan saling melemparkan lembing kayu ke arah lawan, hingga mengenai salah satu di antaranya.

Meski terlihat seperti perang, pasola memiliki aturan adat yang membuat pertarungan ini hanya akan berlangsung di arena.

Setelah pasola berakhir, peserta tidak diperbolehkan membawa dendam atau melakukan pembalasan di luar arena. Jika masih ingin membalas lawan, peserta harus menunggu hingga pelaksanaan pasola pada tahun berikutnya.

Aturan tersebut menjadi salah satu keunikan pasola yang membuat tradisi ini juga dikenal sebagai sebuah “pesta damai”.

Dikutip dari laman Pemerintah Kabupaten Sumba Barat, Kamis (24/9/2026), nama pasola berasal dari kata “sola” atau “hola”, yakni sejenis lembing kayu yang digunakan untuk saling melempar dari atas kuda yang sedang dipacu.

Kata tersebut mendapat imbuhan “pa” sehingga menjadi pa-sola atau pa-hola yang berarti permainan. Pasola kemudian dimaknai sebagai permainan ketangkasan dua kelompok berkuda yang saling melempar lembing kayu.

Bagian dari Ritual Marapu

Pasola bukan sekadar festival atau pertunjukan budaya. Tradisi ini merupakan bagian dari rangkaian upacara adat masyarakat Sumba yang masih menganut kepercayaan kuno Marapu.

Pasola juga disebut merupakan bagian dari ritual Marapu yang bertujuan menjaga keharmonisan antara manusia yang masih hidup dengan leluhur atau nenek moyang.

Dalam kepercayaan tersebut, leluhur diyakini berkaitan dengan kesuburan dan kemakmuran masyarakat.

Karena itu, pasola biasanya menjadi puncak dari seremoni adat nyale. Yakni ritual untuk memohon restu para dewa dan leluhur agar hasil panen pada tahun tersebut berjalan baik.

Waktu pelaksanaan pasola juga tidak semata-mata ditentukan berdasarkan kalender Masehi. Para rato atau tetua adat memiliki peran penting dalam menentukan hari pelaksanaan dengan membaca berbagai tanda alam, termasuk siklus peredaran bulan.

Secara umum, pasola biasanya akan berlangsung pada sekitar bulan Februari hingga Maret di sejumlah wilayah Sumba Barat dan Sumba Barat Daya.

Darah di Arena Dianggap Bagian Ritual

Dalam pelaksanaannya, para penunggang kuda menggunakan pakaian adat dan membawa lembing kayu. Saat ini ujung lembing dibuat tumpul, tetapi benturan dan lemparan tetap dapat menyebabkan peserta terluka.

Dikutip dari Sumba Hospitality Foundation, penumpahan darah manusia maupun kuda dalam pasola dipercaya memiliki makna berkaitan dengan kesuburan.

Bahkan darah yang mengucur di arena pasola dipercaya bermanfaat bagi kesuburan tanah dan keberhasilan panen.

Tradisi tersebut sekaligus menjadi bagian dari simbol hubungan dan persaudaraan antarkelompok masyarakat Sumba.

Namun, apabila terjadi korban jiwa, dalam kepercayaan setempat korban tersebut diyakini sebagai bentuk hukuman dari para dewa karena adanya pelanggaran tertentu.

Berawal dari Kisah Legenda Cinta Segitiga 

Pasola juga memiliki legenda yang berkaitan erat dengan sebuah kisah cinta segitiga serta ritual nyale.

Dilansir dari Sumba Hospitality Foundation, legenda tersebut mengisahkan seorang perempuan di Sumba selatan yang ditinggal suaminya pergi melaut.

Namun setelah suaminya tak kunjung pulang, wanita itu kemudian menikah dengan kekasih barunya dari Sumba barat karena mengira suaminya meninggal.

Namun, sang suami kemudian tiba-tiba kembali. Konflik antara kelompok masyarakat pun terjadi yang melibatkan keluarga suami lama dan suami baru.

Untuk mengakhiri pertikaian, keduanya melakukan ritual perang adat di mana yang menang berhak mendapatkan wanita tersebut. Namun, menurut cerita, tidak pernah ada pemenang dalam pasola.

Perempuan tersebut justru memilih mengorbankan dirinya dengan terjun ke laut. Dalam legenda tersebut, ia kemudian menjelma menjadi nyale, cacing laut yang kemunculannya menjadi salah satu penanda waktu pelaksanaan pasola.

Karena itu, kemunculan nyale memiliki arti penting dalam rangkaian ritual adat sebelum pasola digelar.

Dari kisah itulah pasola lahir. Pertarungan ini dilakukan bukan untuk saling bermusuhan namun justru menjadi simbol untuk menjaga perdamaian.

Dengan berbagai keunikan yang dimilikinya, pasola kini menjadi salah satu daya tarik wisata di Sumba. Tak sedikit wisatawan dari berbagai daerah termasuk turis mancanegara datang ke Sumba hanya untuk sekadar menyaksikan tradisi ini. ***

Share This Article
Avatar photo
Jurnalis lahir dan tinggal di Jogja
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar