Sego Gudangan, Ruang Bertemunya Berbagai Aktivitas Ekonomi

4 Min Read
Group of people sitting cross‑legged on mats in a semi-circle around a central spread of packaged food and bottles, indoors or in a courtyard setting, suggesting a communal meal or gathering.
Kampanye publik dan gerakan moral bertajuk SEGO GUDANGAN (Semangat Gotong Royong Guyub Damai Anggone Ngupakara Sandang Pangan). (Sumber Foto: Setiaky.A.Kusuma)

Mabur.co- Malioboro bukan sekadar destinasi wisata. Kawasan ini merupakan ruang bersama tempat bertemunya berbagai aktivitas ekonomi, sosial, budaya, dan kehidupan masyarakat Yogyakarta. Di kawasan ini, pelaku usaha, pedagang, pekerja, seniman, komunitas, wisatawan, dan masyarakat dari berbagai latar belakang bertemu dan sama-sama menggantungkan penghidupan serta harapan pada denyut ekonomi kawasan Malioboro.

Atas kesadaran tersebut, gabungan elemen masyarakat yang berada di dalam ekosistem kawasan Tugu, Malioboro sampai Titik 0, menggagas sebuah kampanye publik dan gerakan moral. Namanya Sego Gudangan, singkatan dari Semangat Gotong Royong Guyub Damai Anggone Ngupakara Sandang Pangan. Tokoh penggagas, Herry Zudianto menjelaskan, Malioboro memiliki peran yang jauh lebih besar dibanding sekadar kawasan wisata.

“Di tempat itu, berbagai kelompok masyarakat bertemu dan menjalani aktivitas ekonomi yang saling bergantung satu sama lain. Pembangunan sektor pariwisata tidak cukup hanya bertumpu pada keindahan destinasi maupun kemegahan infrastruktur. Pariwisata juga membutuhkan fondasi sosial yang kuat. Lingkungan yang aman, nyaman, ramah, serta penuh toleransi menjadi faktor penting yang menentukan pengalaman wisatawan sekaligus keberlanjutan aktivitas ekonomi masyarakat setempat,” ucapnya, Minggu (8/11/2026).

Herry menjelaskan, nama Sego Gudangan dipilih bukan tanpa alasan. Dalam tradisi kuliner Yogyakarta, gudangan dikenal sebagai hidangan yang terdiri atas berbagai jenis sayuran dan pelengkap dengan karakter yang berbeda-beda. Meski memiliki bentuk, rasa, dan tekstur yang beragam, seluruh unsur tersebut berpadu menjadi satu sajian yang utuh dan nikmat. Filosofi tersebut dinilai sangat menggambarkan wajah masyarakat Yogyakarta.

“Kota ini dihuni oleh beragam kelompok dengan latar belakang, profesi, usia, budaya, dan kepentingan yang berbeda. Namun perbedaan tersebut bukan menjadi alasan untuk terpecah, melainkan justru menjadi kekuatan ketika disatukan dalam semangat kebersamaan dan tujuan yang sama,” ucapnya.

Herry mengatakan, bagi masyarakat yang menggantungkan penghidupan di kawasan wisata, stabilitas sosial memiliki arti yang sangat penting. Ketika suasana aman dan tertib tercipta, wisatawan merasa nyaman berkunjung. “Saat kunjungan wisata meningkat, aktivitas perdagangan ikut tumbuh. Pada akhirnya, roda ekonomi dapat berputar dan memberi manfaat bagi banyak pihak,”ucapnya.

Herry menuturkan, gerakan Sego Gudangan berupaya membangun kesadaran bahwa menjaga kedamaian bukan semata-mata tanggung jawab pemerintah atau aparat keamanan. Seluruh elemen masyarakat memiliki peran yang sama penting dalam menciptakan kondisi sosial yang harmonis dan saling mendukung.

“Sego Gudangan bukanlah gerakan yang eksklusif atau hanya diperuntukkan bagi kelompok tertentu. Sebaliknya, gerakan ini merupakan ajakan terbuka bagi seluruh masyarakat untuk ikut berpartisipasi sesuai peran dan kemampuannya masing-masing,” ucapnya.

Herry mengatakan, di tengah berbagai tantangan sosial dan ekonomi yang terus berkembang, nilai gotong royong dinilai tetap relevan sebagai fondasi kehidupan masyarakat. Kebersamaan yang terbangun dari tingkat komunitas hingga pelaku usaha menjadi modal penting untuk menjaga ketahanan sosial sekaligus memperkuat ekonomi kerakyatan.

“Sego Gudangan sangat sederhana namun memiliki makna yang mendalam. Ketika warga hidup rukun dan saling menghormati, suasana kota akan terasa lebih tenteram. Saat keamanan dan kenyamanan terjaga, dunia usaha dapat berkembang dengan baik. Dan ketika ekonomi terus bergerak, kesejahteraan masyarakat pun akan semakin mudah diwujudkan”, ungkapnya.

Semangat itulah, imbuh Herry, yang ingin dirawat oleh warga Yogyakarta melalui gerakan Sego Gudangan. “Sebuah ajakan untuk menjaga ruang bersama dengan cara yang sederhana, bersahaja, namun penuh makna: guyubing warga, tentreming kutha, lancaring usaha,” harapnya.


Share This Article
Teruslah Berbuat baik kepada siapapun karena hal baik itu, akan kembali padamu dengan berbagai cara
Avatar photo
Sejarawan dan Budayawan
Tidak ada komentar