Pendopo Tamansiswa, Warisan Sejarah Pendidikan yang Berharga - Mabur.co

Pendopo Tamansiswa, Warisan Sejarah Pendidikan yang Berharga

Mabur.co– Pendopo Tamansiswa adalah sebuah bangunan berbentuk khas rumah Jawa yang sering disebut rumah Joglo terletak di Jalan Tamansiswa Nomor 25 Yogyakarta.

Pendopo Tamansiswa ini biasa digunakan oleh siswa-siswi Tamansiswa untuk berlatih kegiatan menari, teater, drama, dan juga untuk pertemuan, diskusi tentang kebudayaan serta pendidikan oleh berbagai kalangan.

Bangunan ini merupakan bangunan cagar budaya yang ditetapkan melalui Surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 243/M/2015 tanggal 18 Desember 2015. 

Ketua Bidang Pendidikan Majelis Luhur Persatuan Tamansiswa, Ki Murwanto, mengungkapkan, Pendopo Agung Tamansiswa pertama kali didirikan di Yogyakarta pada tanggal 3 Juli 1922.

Bermula dari RM Suwardi Suryaningrat diserahi tugas oleh Sarasehan “Selasa Kliwonan” mengelola pendidikan anak-anak maka bagian perguruan yang pertama kali didirikan adalah Taman Lare (Taman Indria).

“Pendidikan dimulai dengan satu kelas, jumlah peserta didik sebanyak 25 anak. Gedung perguruan terletak di Kampung Tanjung, yang sekarang diberi nama Jalan Gajah Mada (Station Weg) Nomor 28 dan 30 Yogyakarta. Sekarang ini dipakai oleh Yayasan Taman Ibu untuk persekolahan,” ucapnya saat ditemui mabur.co di kantornya, Sabtu (2/5/2026).

Open-air school courtyard with a raised stage, red-and-white and green flags on tall poles, and potted plants.
Pendopo Tamansiswa ini biasa digunakan oleh siswa-siswi Tamansiswa untuk berlatih kegiatan menari, teater, drama, dan juga untuk pertemuan, diskusi tentang kebudayaan serta pendidikan oleh berbagai kalangan.
(Foto: Setiaky A Kusuma)

Ki Murwanto mengatakan, Perguruan Tamansiswa terus berkembang dan jumlah peserta didiknya juga terus bertambah, maka diperlukan tanah pekarangan yang luas untuk menampung jumlah siswa yang terus bertambah besar tersebut.

Untuk kepentingan ini Tamansiswa Yogyakarta yang waktu itu berkedudukan di Jalan Stasiun berusaha membeli tanah pekarangan yang luas, maka pada tanggal 14 Agustus 1935, dibelilah sebuah tanah pekarangan dengan rumah beserta isinya yang terletak di Jalan Wirogunan (sekarang Jalan Tamansiswa) nomor 31-33 Yogyakarta.

“Luas bangunan 300 m2, berdiri di atas tanah 2.720 m2. Uang yang dipakai untuk membeli pekarangan tersebut diperoleh dari Bank Nasional yang dibayar kembali dengan bunga yang sangat rendah. Pada waktu itu yang menjadi Ketua Majelis Luhur adalah Ki Sudarminta dan pimpinan Bank Nasional adalah Ki R. Rudjito,” ucapnya.

Ki Murwanto mengatakan, pada tanggal 10 Juli 1938 dilangsungkan peletakan batu pertama dalam pembangunan Pendopo Pusat Tamansiswa. Lalu pada tanggal 16 November 1938 dilaksanakan upacara pembukaan pendopo secara resmi yang dilakukan oleh Nyi Hadjar Dewantara.

“Pendopo Agung Tamansiswa yang didirikan oleh warga Tamansiswa pada tahun 1938 tersebut merupakan monumen yang tidak terpisahkan dengan Museum Dewantara Kirti Griya. Menurut Ki Hadjar Dewantara pendopo itu mempunyai arti yang penting bagi Perguruan Kebangsaan Tamansiswa sebagai alat pertalian keluarga. Penuh suasana kebatinan sehingga dengan sendirinya dapat memperdalam, memperkuat, serta mempertinggi budi pekerti,” ucapnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *