Peringatan Hari Pendidikan Nasional, Tantangan di Tengah Krisis Karakter - Mabur.co

Peringatan Hari Pendidikan Nasional, Tantangan di Tengah Krisis Karakter

Mabur.co- Setiap peringatan Hari Pendidikan Nasional selalu membawa refleksi baru. Pendidikan hari ini bukan lagi sekadar soal tempat belajar, tetapi tentang bagaimana masa depan dibentuk sejak dini.

Apalagi jelang memasuki pendidikan jenjang perguruan tinggi yang akan berpengaruh pada begitu cepatnya dunia kerja. Orang tua dan anak dihadapkan pada pilihan besar melanjutkan pendidikan di dalam negeri atau ke luar negeri.

Momentum Hari Pendidikan Nasional setiap tahun selalu menghadirkan optimisme sekaligus kegelisahan. Di satu sisi, kita patut bersyukur atas pesatnya perkembangan dunia pendidikan —teknologi pembelajaran semakin maju, akses ilmu semakin terbuka, dan inovasi terus bermunculan.

Namun di sisi lain, ada pertanyaan mendasar yang perlu kita renungkan bersama: di tengah kemajuan ini, apakah pendidikan kita masih berhasil mendidik hati?

Hari ini, ruang-ruang kelas tidak lagi terbatas oleh dinding sekolah. Kehadiran Artificial Intelligence, platform digital, dan berbagai sumber belajar daring telah mengubah wajah pendidikan secara drastis.

Siswa dapat mengakses informasi dalam hitungan detik, belajar dari mana saja, bahkan menghasilkan karya dengan bantuan teknologi canggih. Dunia pendidikan memasuki fase yang belum pernah terjadi sebelumnya, serba cepat, serba instan, dan serba terkoneksi.

Namun, di balik kemudahan itu, muncul fenomena yang patut dicermati. Kita mulai menyaksikan gejala menurunnya empati, meningkatnya perilaku instan, serta lunturnya adab dalam interaksi, baik di dunia nyata maupun digital.

Kasus perundungan siber, ujaran kebencian, hingga penyalahgunaan teknologi untuk tindakan tidak etis menjadi sinyal bahwa ada sesuatu yang kurang seimbang dalam proses pendidikan kita.

Perwakilan dari Dewan Pendidikan Kabupaten Sleman, Eko Priyo Agus Nugroho, S.Pd.I., M.Pd, menuturkan, generasi hari ini mungkin adalah generasi yang paling kaya informasi sepanjang sejarah. Akan tetapi, kekayaan informasi tidak selalu berbanding lurus dengan kedewasaan dalam menyikapi kehidupan.

Mereka mampu mengetahui banyak hal, tetapi belum tentu mampu memahami makna dari apa yang mereka ketahui. Inilah ironi di era digital, kecerdasan berkembang pesat, tetapi kebijaksanaan tidak selalu mengikutinya.

Portrait of a man in a patterned batik shirt posing indoors against a bright white architectural backdrop.
Perwakilan dari Dewan Pendidikan Kabupaten Sleman, Eko Priyo Agus Nugroho, S.Pd.I., M.Pd (Foto: Dok. Pribadi)

Masalahnya bukan terletak pada teknologi.

“Teknologi pada dasarnya bersifat netral, ia menjadi baik atau buruk tergantung pada bagaimana manusia menggunakannya,” ucapnya, saat diwawancarai mabur.co, Sabtu (2/5/2026).

Eko mengatakan, tantangan sesungguhnya adalah ketidaksiapan ekosistem pendidikan dalam mengimbangi perkembangan teknologi dengan penguatan karakter.

Pendidikan sering kali terlalu fokus pada capaian kognitif dan penguasaan keterampilan teknis, sementara dimensi afektif dan moral kurang mendapatkan perhatian yang proporsional.

“Krisis karakter yang kita saksikan hari ini bukanlah sesuatu yang muncul secara tiba-tiba. Ia merupakan akumulasi dari proses panjang ketika pendidikan lebih menekankan mengisi kepala daripada membentuk hati. Nilai-nilai seperti kejujuran, tanggung jawab, kesabaran, dan empati tidak lagi menjadi prioritas utama, melainkan sekadar pelengkap dalam kurikulum. Dalam konteks ini, kita perlu kembali mengingat hakikat pendidikan itu sendiri,” ucapnya.

Eko mengatakan, pendidikan bukan sekadar proses transfer ilmu pengetahuan, melainkan proses pembentukan manusia seutuhnya.

“Sebagaimana yang pernah ditegaskan oleh Ki Hajar Dewantara, pendidikan adalah usaha untuk menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya. Kata menuntun di sini mengandung makna yang dalam, bahwa pendidikan harus menyentuh dimensi batin, bukan hanya lahiriah,” ujarnya.

Eko menuturkan, dalam perspektif pendidikan Islam, konsep ini bahkan lebih tegas lagi. Ilmu tidak pernah dipisahkan dari adab.

Seorang yang berilmu tetapi tidak berakhlak justru berpotensi membawa kerusakan yang lebih besar. Oleh karena itu, tujuan utama pendidikan bukan hanya melahirkan individu yang cerdas, tetapi juga pribadi yang berintegritas dan memiliki kesadaran moral yang tinggi.

“Di era digital, peran guru menjadi semakin kompleks. Guru tidak lagi cukup hanya menjadi penyampai materi, karena informasi dapat diakses dengan mudah oleh siapa saja. Guru harus bertransformasi menjadi pembimbing nilai, penjaga arah, dan teladan dalam bersikap. Termasuk dalam penggunaan teknologi. Keteladanan menjadi kunci utama, karena di tengah derasnya arus informasi, siswa membutuhkan figur nyata yang bisa mereka tiru,” ungkapnya.

Eko menuturkan, keluarga adalah sekolah pertama dan utama bagi anak. Di tengah derasnya pengaruh digital, orang tua tidak bisa sepenuhnya menyerahkan pendidikan kepada sekolah.

Pendampingan, komunikasi yang hangat, serta penanaman nilai sejak dini menjadi fondasi yang sangat penting dalam membentuk karakter anak.

“Sekolah sebagai institusi juga perlu melakukan refleksi mendalam. Apakah budaya yang dibangun di sekolah sudah benar-benar mendukung pembentukan karakter? Ataukah sekolah masih terjebak dalam rutinitas administratif dan target akademik semata? Pendidikan karakter tidak cukup diajarkan melalui slogan atau mata pelajaran tertentu, tetapi harus dihidupkan dalam budaya keseharian, dalam interaksi, dalam kebiasaan, dan dalam sistem yang dibangun,” tuturnya.

Eko menjelaskan, mendidik hati di era digital bukan berarti menolak kemajuan teknologi. Sebaliknya, ini adalah upaya untuk memastikan bahwa kemajuan tersebut tetap berada dalam koridor nilai-nilai kemanusiaan.

“Teknologi harus menjadi alat untuk memperkuat kebaikan, bukan justru mengikisnya. Di sinilah pentingnya literasi digital yang tidak hanya berorientasi pada keterampilan, tetapi juga pada etika dan tanggung jawab,” katanya.

Eko kembali menerangkan, peringatan Hari Pendidikan Nasional tidak boleh berhenti pada seremoni. Ia harus menjadi momentum refleksi dan perbaikan yang nyata.

“Kita perlu bertanya dengan jujur, ke arah mana pendidikan kita sedang berjalan? Apakah kita sedang membentuk generasi yang hanya cerdas secara intelektual, atau juga matang secara emosional dan spiritual?” gugatnya.

Masa depan bangsa tidak hanya ditentukan oleh seberapa canggih teknologi yang dikuasai, tetapi oleh kualitas manusia yang menggunakannya.

“Generasi yang kita butuhkan bukan hanya generasi yang mampu bersaing secara global, tetapi juga generasi yang tetap memiliki hati yang jernih, nurani yang hidup, dan karakter yang kokoh. Pendidikan yang sejati bukan hanya tentang membuat manusia menjadi pintar, tetapi tentang menjaga agar mereka tetap menjadi manusia,” tuturnya. ***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *