Mengapa Bekerja Sering Dianggap Tidak Menyenangkan?

5 Min Read
Man at a desk with a laptop, head in his hand, showing frustration in a bright home/office space with a plant in the background.
Ilustrasi seseorang merasa stres karena pekerjaannya (Foto: Vitaly Gariev via Unsplash)

Mabur.co – Ketika menjalani sebuah pekerjaan, setiap orang seringkali merasa keberatan atau terpaksa melakukannya, karena memang itulah tugas yang harus dikerjakan setiap harinya.

Lalu, ketika tugas itu menjadi sebuah rutinitas, biasanya akan tercipta rasa bosan, monoton (karena melakukan sesuatu yang sama tanpa adanya variasi atau kebaruan), tidak nyaman, terganggu, atau bahkan stres, akibat tingginya tuntutan dari setiap tugas tersebut.

Akhirnya, kegiatan bekerja berkembang menjadi sesuatu yang tidak lagi menyenangkan untuk dilakukan.

Bahkan dalam banyak kasus, tingginya tuntutan dari setiap rutinitas (pekerjaan) tersebut membuat banyak orang memilih untuk keluar dari pekerjaan tersebut, dan memilih pekerjaan baru lainnya, dan seterusnya.

Tentu saja banyak faktor yang melatarbelakangi hal tersebut, yang dikombinasikan dengan faktor-faktor eksternal lainnya, yang seringkali tidak terungkapkan secara langsung di lingkungan kerjanya, seperti urusan keluarga dan sebagainya.

Dilansir dari laman Sun Life Indonesia, Senin (10/8/2026), berikut adalah beberapa penyebab mengapa kegiatan bekerja sering dianggap sebagai sesuatu yang tidak menyenangkan untuk dijalani.

1. Beban dan Tekanan Berlebih

Bekerja seringkali dibebankan dengan target tertentu. Seiring waktu, pengalaman, dan jabatan tertentu, biasanya target yang ditetapkan akan semakin meningkat, semakin banyak, dan juga semakin sulit.

Belum lagi jika jam kerjanya ditambah (lembur dan semacamnya), sehingga membuat waktu istirahatnya menjadi berkurang untuk dapat memenuhi target dari atasan tersebut.

Seluruh kombinasi tersebut tentu saja akan membuat si pekerja merasa tidak nyaman, dan mulai merasakan stres atau tekanan berlebih, yang tidak pernah dirasakan sebelumnya.

2. Lingkungan Kerja Toxic

Toxic sebenarnya bermakna “racun” dalam arti harfiah (sebenarnya). Namun dalam lingkungan pekerjaan, toxic juga sangat sering digambarkan sebagai suasana lingkungan pekerjaan yang tidak menyenangkan, penuh kepalsuan, tidak banyak mengapresiasi kinerja dari orang lain (hanya bisa mengkritik atau menyalahkan), dan juga saling sikut atau carmuk (cari muka – di depan atasan) antara satu sama lain, dan seterusnya.

Sama halnya seperti lingkungan di tempat-tempat lainnya, lingkungan pekerjaan yang toxic tentunya akan menghambat diri Anda dan orang-orang di dalam lingkungan pekerjaan tersebut, dari target atau pencapaian yang diharapkan secara kolektif maupun individual, dan seterusnya.

Jika sudah terlampau toxic, biasanya satu per satu orang atau pekerja di lingkungan tersebut akan mulai mengundurkan diri, menjauh dari lingkungan, atau bisa jadi memberontak di dalam lingkungan tersebut, alias menerapkan prinsip “Saya akan lawan” seperti yang populer diucapkan oleh Presiden RI ketujuh, Joko Widodo, dan sebagainya.

3. Tercipta “Monotonitas”

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, hakikat dari bekerja adalah melakukan sesuatu yang sama berulang-ulang dalam kurun waktu tertentu. Sehingga menjadi semacam rutinitas setiap harinya.

Di satu sisi, melakukan sesuatu yang sama berulang kali akan membuat pekerja menjadi mahir atau menguasai pekerjaan yang dilakukannya. Namun di sisi lain, akan tercipta semacam kejenuhan atau perasaan monoton, ketika kegiatan itu tidak disisipi istirahat (jeda), tidak ada semacam kreativitas atau variasi di dalamnya, atau hanya mengikuti alurnya begitu saja, alias 100% sama persis setiap harinya.

Hal itu tentu saja akan membuat si pekerja merasa jenuh dan mungkin juga stres, akibat dari pengulangan demi pengulangan yang sama setiap harinya.

Perasaan “monotonitas” juga berpotensi membuat kegiatan bekerja menjadi tidak menyenangkan, karena tidak ada unsur kebaruan atau sesuatu yang menarik di dalamnya, melainkan sudah menjadi semacam template yang dilakukan terus-menerus tanpa henti, dan sebagainya.

4. Kurangnya Apresiasi dan Penghargaan

Dalam sebuah lingkungan pekerjaan, pemberian apresiasi atau penghargaan juga tidak kalah penting untuk dimiliki atau dilakukan.

Karena ketika seorang pekerja terus-menerus melakukan kegiatan yang sama setiap harinya, tentu saja akan tercipta semacam kejenuhan atau monotonitas, seperti yang telah disampaikan sebelumnya.

Untuk itu, sangat penting bagi sebuah lingkungan pekerjaan untuk menerapkan semacam apresiasi atau penghargaan tertentu. Misalnya dengan menerapkan sistem bonus untuk setiap pencapaian tertentu, memberikan gaji tambahan, memberikan hadiah tertentu, atau seminimal-minimalnya dipuji atau diapresiasi, atas hasil kerja keras yang dilakukan dalam kurun waktu tertentu, dan sebagainya.

Pemberian apresiasi maupun penghargaan semacam itu sangatlah penting untuk dibudayakan dalam setiap lingkungan kerja, agar setiap pekerja merasa nyaman, betah, dan merasa dihargai atas hasil kerja kerasnya selama ini, dan seterusnya.

***

Patut diingat, perasaan senang atau tidak dalam menjalani sebuah pekerjaan tertentu sebenarnya bersifat relatif, alias tidak bisa disamakan untuk setiap individu (subjektif). Untuk itu, setiap orang atau pekerja perlu mengerti sekaligus memahami perasaan dan intuisinya masing-masing, tanpa terlalu banyak atau terlalu sering membandingkan dirinya dengan apa yang dialami orang lain, dan seterusnya.

Karena pengalaman setiap orang di setiap lingkungan pekerjaan pastinya berbeda-beda satu sama lain. Dan semua itu tidak bisa dijadikan patokan tetap untuk memutuskan sebuah keputusan tertentu, dan lain sebagainya. (*)

Share This Article
Avatar photo
Lulusan program studi Jurnalistik STMM Yogyakarta, Jurnalis mabur.co, Writing Is Journey Of My Life
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar