Dari Keraton Jawa untuk Dunia: Menuju International Symposium on Javanese Culture 2027

3 Min Read
Laman International Symposium on Javanese Culture 2027 (Foto.kratonjogja.id)

Di tengah gema gamelan di Bangsal Srimanganti, Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, resmi dibuka pendaftaran International Symposium on Javanese Culture 2027.

Simposium ini menjadi puncak laku budaya dalam rangka Tingalan Jumenengan Dalem ke-38 Sri Sultan Hamengku Buwono X.

Tingalan Jumenengan bukan sekadar peringatan naik takhta. Secara historis, sejak Sultan Hamengku Buwono I mendirikan keraton pada 1755 pasca-Perjanjian Giyanti, Jumenengan adalah ritus kosmis saat raja memperbarui perjanjian spiritual dengan rakyat dan alam semesta.

Tahun Penuh Laku Prihatin

Untuk Ngarsa Dalem HB X, yang Jumeneng pada 7 Maret 1989, peringatan ke-38 pada 2027 nanti jatuh pada tahun Jawa Ehe, tahun penuh laku prihatin. Karena itu simposium tahun ini tidak digelar sebagai seremoni akademik namun biasa saja.

“Setiap tahun keraton punya dua agenda pameran dan simposium internasional agar nilai dan khazanah budaya Jawa dapat tersampaikan seluas-luasnya,” kata GKR Condrokirono, dalam sambutan pembuka tahun lalu yang menjadi pijakan tema 2027, sebagaimana dikutip dari situs budaya.jogjaprov.go.id.

Untuk tahun 2027 ini, tema yang diusung adalah “Sastra, Busana, dan Peradaban: Merawat Manuskrip di Era Digital”. Ini adalah kelanjutan dari tradisi sejak 2018, ketika keraton kehilangan banyak naskah saat Geger Sepehi 1812 dan kemudian mendapatkan kembali digitalisasi dari British Library.

Simposium sebelumnya membahas Serat Menak Amir Hamzah tulisan GKR Hageng, permaisuri HB I.

“Kami ingin membuka ruang seluas-luasnya bagi studi keilmuan aparatur keraton, baik antropologi, filologi, sejarah, sains, hingga gender dan filsafat yang terkait budaya Jawa,” kata Penghageng Kawedanan Hageng Punakawan Nityabudaya, seperti dikutip dari delik.tv dalam simposium terdahulu.

Menariknya, simposium ini terbuka untuk umum. Model etnografinya unik, peserta tidak hanya presentasi di ballroom, tapi juga nglakoni, ikut Pisowanan, melihat langsung aparatur keraton, Abdi Dalem, hingga proses kapustakan, sistem digitalisasi naskah di keraton Yogya.

Keraton sebagai Museum Hidup

“Keraton adalah museum hidup. Tidak hanya mengungkap nilai historis atribut dan busana, tapi melangkah bersama zaman,” ujar GKR Mangkubumi seperti dikutip dari situs inijogja.net.

Pendaftaran International Symposium on Javanese Culture 2027 kini telah dibuka di laman resmi kratonjogja.id.

Puncaknya akan digelar bersamaan dengan Pameran Tematik Tingalan Jumenengan di Kedhaton, Maret 2027 mendatang, saat usia takhta HB X memasuki 38 tahun, dan Jawa kembali diajak membaca dirinya sendiri.

Share This Article
Sastrawan, Antropolog.
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar