Motif Batik Khas Pakualaman Yogyakarta Terinspirasi Manuskrip Kuno

3 Min Read
Pale yellow braided cord laid diagonally on a dark blue and brown patterned fabric to show contrast against the textile pattern.
Salah satu motif batik. Foto: Istimewa

Mabur.co –  Keraton Kadipaten Pura Pakualaman Yogyakarta sampai hari ini tak henti terus menciptakan motif-motif batik khas sebagai upaya pelestarian. Sebagian batik yang diciptakan Pura Pakualaman itu terinspirasi dari naskah kuno yang usianya ratusan tahun.

Decorative batik fabric with swirling orange and blue floral motifs and white dot accents.
Batik Kadipaten Pura Pakualaman diciptakan terinspirasi dari manuskrip kuno yang tersimpan di Widya Pustaka, Perpustakaan Pakualaman. (Foto: Setiaky A Kusuma)

Jajar Nyi Pustoko Gati Putri, Yulsia Prahanis, menuturkan, Batik Kadipaten Pura Pakualaman diciptakan terinspirasi dari manuskrip kuno yang tersimpan di Widya Pustaka, Perpustakaan Pakualaman.

“Motif batik dari manuskrip kuno Pakualaman yang sudah berusia ratusan tahun itu. Naskah-naskah kuno Pakualaman tersebut juga bukan cetakan atau print. Namun semua ditulis tangan dan setiap gambarnya juga digambar manual tangan. Salah satu keistimewaan manuskrip itu tak lain keberadaan aneka gambar yang menyertai teksnya,” ucapnya, Kamis (24/9/2026).

Close-up portrait of a woman in a black outfit with a blue lanyard, ornate batik background behind her.
Jajar Nyi Pustoko Gati Putri, Yulsia Prahanis. (Foto: Setiaky A Kusuma)

Menurut Yulsia, naskah kuno di Pakualaman ini umumnya berusia 200 tahun. Setiap lembar naskah itu digambar dengan sangat baik dan memiliki filosofi luar biasa.

”Untuk menginterpretasikan ke media batik, tidak bisa sembarangan. Mengingat naskah itu di dalamnya mengandung sejarah dan nilai kebijaksanaan yang diturunkan dari generasi ke generasi di Pakualaman,” ucapnya. 

Tak Semua Iluminasi Bisa Dibatik

Yulsia menuturkan, untuk menjadikan satu lembar kain batik itu tidaklah mudah. Terutama saat memikirkan gambar apa yang akan dibuat batik. Karena tidak semua iluminasi yang ada di naskah bisa dibatik. 

“Proses menerjemahkan naskah kuno ke media batik selama ini dilakukan dengan memanfaatkan Bangsal Batikan, sebuah area khusus di kompleks Pura Pakualaman Yogya untuk membatik. Semua proses itu lantas dibukukan sebagai bahan dokumentasi sekaligus referensi pembelajaran para pecinta batik,” ujarnya.

Person in a black shirt with a lanyard, seated and looking down as they hold a chocolate piece over a light patterned cloth in a decorative display area with batik fabric backdrop.
Proses menerjemahkan naskah kuno ke media batik selama ini dilakukan dengan memanfaatkan Bangsal Batikan, sebuah area khusus di kompleks Pura Pakualaman Yogyakarta untuk membatik. (Foto: Setiaky A Kusuma)

Yulsia menuturkan pula, sejumlah kain Batik Pakualaman yang telah selesai dibuat itu pun turut ditampilkan dalam peragaan.

120 Batik Pakualaman

Di antaranya Batik Sestra Lukita, Batik Indra Widagda, Batik Yama Linapsuh. Batik Surya Mulyarjo, Batik Bayu Krastala, Batik Wisnu Mamuja, Batik Brama Sembada, Batik Baruna Wicaksana dan Batik Asthabrata Jangkep. 

“Batik-batik ini adalah sebagian kecil dari 120 Batik Pakualaman yang telah dibuat. Motif batik Indra Widagda terinspirasi dari renggan tentang Bhatara Indra dalam ajaran Asthabrata. Dalam Asthabrata versi Pakualaman, Dewa Indra adalah dewa ilmu pengetahuan. Seorang pemimpin dituntut untuk cerdik cendekia dan menjadi tempat bertanya bagi rakyat,” katanya.

Share This Article
Teruslah Berbuat baik kepada siapapun karena hal baik itu, akan kembali padamu dengan berbagai cara
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar