Jatuh di Moto3 Belanda, Pemkab Gunungkidul Bangga dengan Perjuangan Veda Ega Pratama

5 Min Read
Crowd seated in a large hall watching a motorcycle race on a big screen, surrounded by cream pillars and a chandelier in the ceiling.
Suasana nonton bareng (nobar) race Moto3 Belanda yang diikuti Veda Ega Pratama di sirkuit Assen (Foto: Pemkab Gunungkidul)

Mabur.co – Tidak hanya demam Piala Dunia di Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada, yang turut menghiasi hiburan olahraga di pertengahan tahun ini.

Karena di saat yang sama, pencinta balap Indonesia serta masyarakat umum juga sedang demam Moto3, berkait kehadiran putra asli Gunungkidul, Veda Ega Pratama, di ajang kelas dunia tersebut.

Saking “demam”-nya, pemerintah kabupaten Gunungkidul pun mulai berinisiatif menyelenggarakan nonton bareng (nobar) di setiap race Moto3 yang diikuti oleh Veda.

Kegiatan nobar itu sudah dimulai sejak seri Moto3 Italia di sirkuit Mugello, Minggu (31/5/2026) lalu, yang dilangsungkan di Bangsal Sewokoprojo, Wonosari, Gunungkidul, DIY. Kegiatan ini terus berlanjut hingga seri Moto3 Belanda di sirkuit Assen, pada Minggu (28/6/2026) kemarin.

Pada edisi nobar Moto3 Belanda kemarin, Veda sempat membuat optimisme masyarakat melambung tinggi, ketika sempat memimpin balapan selama dua tikungan di lap keenam, dan mengungguli nama-nama tenar seperti David Almansa dan juga Maximo Quilles di belakangnya.

Sayangnya, Veda pelan-pelan mulai tersusul oleh lawan-lawannya, setelah beberapa kali melebar di beberapa titik, khususnya di tikungan kelima, yang menjadi salah satu tikungan tersulit di sirkuit Assen.

Memasuki lap kedelapan, Veda harus mengakhiri balapan lebih cepat, setelah mengalami highside di tikungan lima tersebut, dan membuatnya gagal finish untuk kedua kalinya di musim ini.

Tetap Bangga

Moto racer in a pink helmet leans into a sharp blue-curved race track on a gravel run-off area, full speed ahead, white and red markings nearby
Veda Ega Pratama mencoba mengangkat motornya setelah terjatuh di balapan Moto3 Belanda di sirkuit Assen (Foto: X.com/motogp)

Meski gagal finish di tanah negara penjajah Indonesia tersebut, Pemkab Gunungkidul melalui Bupatinya, Endah Subekti Kuntariningsih, tetap bangga dengan perjuangan yang ditunjukkan Veda di balapan tersebut.

Dilansir dari laman resmi Pemkab Gunungkidul, Senin (29/6/2026), Endah menyampaikan bahwa kegagalan di Belanda tersebut bukanlah akhir dari perjalanan seorang atlet.

Menurutnya, perjuangan dan semangat yang ditunjukkan Veda selama balapan tersebut merupakan kebanggaan tersendiri bagi masyarakat Gunungkidul, termasuk bagi jajaran pemerintah daerah.

Endah pun hanya meminta Veda untuk selalu menjaga kesehatan fisik dan mental selama berkiprah di Eropa.

Pemerintah dan masyarakat Gunungkidul pun akan selalu mendukung dan mendoakan perjuangan Veda di setiap balapan Moto3 yang dijalaninya, salah satunya melalui nobar yang dilaksanakan di Bangsal Sewokoprojo tersebut.

Kegiatan nobar yang digelar Pemkab Gunungkidul tidak hanya menjadi sarana untuk mendukung dan menyaksikan perjuangan Veda Ega Pratama di balapan Moto3, melainkan juga sebagai wujud kebersamaan masyarakat Gunungkidul dalam mendukung putra asli daerah, yang telah mengharumkan nama Gunungkidul dan Indonesia di kancah internasional.

Selain itu, nobar ini juga turut menyediakan fasilitas angkringan gratis bagi ratusan warga dan komunitas yang hadir di Bangsal Sewokoprojo tersebut.

Rencanakan Pembuatan Sirkuit Permanen

Rider in a red-and-white suit leans into a sharp turn on a red sport motorcycle on a road race course with spectators in the background, blue helmet visible.
Veda Ega Pratama saat melakukan latihan di Pasar Sapi Siyono Harjo, Logandeng, Playen, Gunungkidul, DIY (Foto: kanal YouTube BALAPMOTOR.TV)

Melihat kesuksesan Veda Ega Pratama di ajang Moto3 World Championship tahun ini meski berstatus sebagai rookie (pendatang baru), Pemkab Gunungkidul pun berencana untuk membuatkan sirkuit permanen di wilayah Gunungkidul, guna mendukung pengembangan talenta-talenta muda Gunungkidul lainnya, agar bisa mencetak Veda-Veda selanjutnya di masa depan.

Saat ini, Pemkab Gunungkidul sedang dalam tahap mencari lahan yang cocok dan sesuai untuk dibuatkan sirkuit, serta menghitung kebutuhan anggaran yang diperlukan untuk pembangunannya secara keseluruhan.

Veda sendiri selama ini berlatih dan tumbuh di lapangan parkir Pasar Hewan Siyono Harjo, yang berlokasi di kelurahan Logandeng, kecamatan Playen, kabupaten Gunungkidul, DIY.

Meskipun tempat tersebut telah mengantarkan putra asli Gunungkidul menembus kancah dunia, dan meraih prestasi gemilang di sana, namun hal itu tidak lantas dianggap sebagai kewajaran, mengingat pasar sapi bukanlah tempat yang layak untuk berlatih skill balap motor.

Ketika pasar sapi saja sudah mampu menghasilkan pembalap kelas dunia melalui putra asli daerah, tentunya kehadiran sirkuit sungguhan (dan permanen) secara logika akan mampu menghasilkan lebih banyak talenta baru berikutnya, dengan fasilitas yang lebih memadai, dan sesuai dengan standar yang telah ditetapkan. (*)

Share This Article
Avatar photo
Lulusan program studi Jurnalistik STMM Yogyakarta, Jurnalis mabur.co, Writing Is Journey Of My Life
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar