Tanpa Naturalisasi, Futsal Indonesia Sanggup Berbicara di Level Asia

Mabur.co – Keberhasilan timnas futsal Indonesia menjadi runner-up di turnamen Piala Asia Futsal 2026 yang berlangsung pada awal Februari ini, telah menorehkan sejarah tersendiri bagi dunia olahraga tanah air.

Bagaimana tidak, timnas futsal Indonesia sebelumnya tidak pernah diperhitungkan sama sekali di kancah futsal Asia, hampir mirip seperti nasib sepak bola, yang di Asia Tenggara saja masih terseok-seok di tangan Vietnam maupun Thailand.

Meskipun masih gagal meraih gelar juara di Piala Asia Futsal edisi 2026 ini, tim asuhan Hector Souto setidaknya telah mampu membuktikan, bahwa keberadaan mereka tidak bisa dipandang remeh begitu saja, dan kini sudah mulai bangkit ke arah yang positif.

Hal ini berbeda jauh dengan apa yang dialami oleh cabang sepak bola, di mana PSSI selaku induk tertinggi cabang sepak bola masih saja melakukan naturalisasi pemain-pemain baru dari Eropa, khususnya Belanda.

Setelah naturalisasi besar-besaran pun, prestasi timnas Indonesia di cabang sepak bola tidak banyak mengalami kemajuan berarti.

Paling jauh hanya sampai ke round 4 Kualifikasi Piala Dunia 2026, yang berlangsung pada Oktober 2025 lalu.

Sedangkan pemain-pemain futsal Indonesia semuanya asli orang Indonesia, yang berasal dari berbagai daerah di seluruh Nusantara.

Di cabang futsal sendiri, prestasi pemain asli Indonesia justru lebih baik daripada Belanda. Berdasarkan ranking FIFA futsal per Desember 2025, Indonesia menempati urutan 24 dunia, sementara Belanda berada tipis di bawahnya di urutan 29 dunia.

Dengan fakta seperti itu, tentu saja tidak ada niatan dari FFI (Federasi Futsal Indonesia) untuk menaturalisasi pemain-pemain futsal dari negeri Belanda yang punya darah Indonesia, yang kualitasnya kurang lebih setara, atau malah di bawah anak-anak asli Indonesia.

Hanya saja, nasib kedua cabang ini memang tidak bisa dibandingkan begitu saja, meskipun keduanya sama-sama bermain menggunakan bola yang disepak dengan kaki.

Namun tetap saja, kegagalan cabang sepak bola di berbagai turnamen dan kualifikasi, membuat publik sudah terlanjur kecewa, padahal sepak bola sudah jelas lebih populer daripada futsal. Tapi kenyataannya, cabang yang lebih populer ini justru terus menerus mengecewakan.

Mulai “Pulang Kampung”

Selain itu, pemain-pemain naturalisasi sepak bola yang direkrut dari Belanda ini, satu per satu malah “pulang kampung” dengan bermain di BRI Super League, atau kasta tertinggi kompetisi sepak bola Indonesia.

Sebut saja Thom Haye, Eliano Reijnders, dan Dion Makrx di Persib Bandung, Shayne Pattinama, Jordi Amat, dan Mauro Ziljstra di Persija Jakarta, serta yang terbaru adalah Ivar Jenner yang merapat ke Dewa United di transfer musim dingin bulan Januari lalu.

Padahal tujuan mereka direkrut sebagai pemain timnas, salah satunya adalah untuk menularkan kemampuan dan pengalaman mereka ketika bermain di kompetisi Eropa bersama klubnya.

Lalu ketika pemain-pemain tadi malah “pulang kampung” ke Liga Indonesia, bagaimana nasib timnas Indonesia ke depannya?

Makin banyak PSSI merekrut pemain naturalisasi, ternyata makin banyak pula pemain yang “pulang kampung” ke liga asal negara leluhurnya. Akibatnya, dari timnas yang sudah hancur, malah dibuat makin hancur lagi sama federasinya.

Di sisi lain, pemain-pemain futsal yang tidak berwajah bule sama sekali itu, malah bisa menaklukkan tim-tim kuat Asia macam Jepang dan juga Korea, serta sempat merepotkan Iran, sebagai raja futsal Asia sejak puluhan tahun silam.

Sementara di cabang sepak bola, Indonesia sudah biasa dibantai Australia, dibantai Jepang, dicurangi wasit, sekaligus di-PHP (pemberi harapan palsu) oleh bule-bule Belanda keturunan itu.

Kalau sudah begini, sepertinya proyek naturalisasi memang sebaiknya disudahi, karena sudah terbukti tidak membuahkan hasil yang berarti bagi negeri ini. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *