Tinggalkan Aplikasi Pesan Instan, Publik Amerika Gandrungi Komunikasi Natural

5 Min Read
Hand holding a smartphone with a rainbow-colored screen and floating social media icons around it.
Ilustrasi. Penggunaan media sosial. (Foto: Istimewa)

Mabur.co – Dalam era kecanggihan teknologi dan serba digital seperti saat ini, semua orang dituntut untuk selalu fast respond selama 24 jam dan 7 hari berturut-turut untuk segala macam hal yang terjadi di dunia ini. Termasuk agar selalu aktif dalam aplikasi pesan instan seperti WhatsApp, Telegram, Instagram, dan sebagainya.

Dalam kacamata komunikasi dan efektivitas, tentu saja kecepatan ini merupakan sesuatu yang baik dan positif, karena fast respond dalam setiap hal tentunya akan menghasilkan out put yang dapat dinikmati secepat mungkin, tanpa harus menunggu dalam beberapa menit, jam, hari, dan seterusnya.

Namun di tengah kecepatan yang ditawarkan dalam setiap kecanggihan itu, muncul sejumlah kekhawatiran tersendiri, manakala setiap pesan yang masuk akan dianggap “biasa saja”, karena esensinya yang tidak lagi bermakna, dan terasa mudah didapatkan tanpa perlu bekerja keras.

Dilansir dari laman CNBC Indonesia, Sabtu (29/8/2026), fenomena ini pun turut mendorong sosok Noah Larrobino, seorang pengembang atau developer aplikasi yang berbasis di Brooklyn, New York, Amerika Serikat (AS), untuk mengembangkan aplikasi telekomunikasi khusus, yang dapat mencerminkan budaya berkomunikasi lebih natural, layaknya era berkirim surat pada puluhan tahun silam.

Noah berhasil menciptakan aplikasi bernama Carrier Pidge dan Roost, yakni aplikasi pesan yang dikirim seolah-olah melalui Burung Merpati (virtual) yang harus terbang melewati jangkauan samudra luas dari seluruh dunia, untuk bisa menjangkau sang penerima pesan di belahan dunia lainnya.

Bahkan, pesan yang dibawa oleh Burung Merpati virtual itu bisa saja hilang di tengah jalan, jika terjadi sesuatu yang tidak diduga-duga selama perjalanan berlangsung. Mirip seperti seorang kurir yang membawakan paket belanja online ke rumah penerima.

Cara Kerja Aplikasi Carrier Pidge dan Roost

Cara kerja dari dua aplikasi buatan Noah ini juga terbilang unik.

Saat Anda mengirim sebuah pesan, aplikasi tidak langsung mengirimkannya kepada penerima. Pesan itu akan “diterbangkan” terlebih dahulu oleh Burung Merpati virtual tadi, dan membawanya dengan kecepatan rata-rata sebesar 177 kilometer per jam.

Saat pesan dikirim, pengguna dapat melihat peta yang memperlihatkan pergerakan Merpati menuju penerima. Seolah ada sensasi kegembiraan ketika menantikan kedatangan pesan tersebut, yang tidak akan ditemukan di aplikasi pesan instan seperti WhatsApp, Telegram, maupun aplikasi pesan lainnya.

Jika penerima pesan memiliki jarak yang cukup dekat dengan pengirim (misalnya antar-kota), mungkin pesan itu akan langsung sampai dalam waktu beberapa detik. Namun jika pengiriman pesan terjadi dalam jarak yang cukup jauh, misalnya harus melintasi antarbenua, maka penerima baru akan membaca pesan tersebut setelah beberapa jam kemudian.

Pesan itu pun belum tentu langsung sampai ke notifikasi ponsel pembaca, karena masih ada peluang 0,2 persen bahwa burung itu akan “hilang” di tengah jalan, dan pesan itu tidak akan pernah ter-deliver sama sekali.

Noah mengatakan bahwa aplikasi ini hanya dibuat dalam waktu sekitar tiga minggu. Dalam keterangan di toko aplikasinya, Noah pun mengakui sendiri bahwa aplikasi ini memang “tidak berguna” dan “benar-benar tidak praktis” bagi para pengguna.

Meski dianggap tidak berguna, aplikasi ini ternyata cukup digandrungi oleh masyarakat, khususnya di wilayah AS.

Menurut laporan dari Yahoo Tech, Sabtu (29/8/2026), aplikasi Roost yang juga dibuat oleh Noah Larrobino, kini sudah memiliki sebanyak 300.000 pengguna, hanya dalam waktu beberapa minggu setelah diluncurkan.

Hal itu mengindikasikan adanya keinginan dari publik AS, untuk bisa memperlambat pola komunikasi mereka di dunia maya, yang selama ini sudah terlalu terdistraksi dengan keharusan untuk membalas chat sesegera mungkin.

Seolah mereka tidak dibiarkan untuk memikirkan bagaimana balasan yang tepat, sesuai, tidak menimbulkan masalah baru, dan sebagainya.

Karena bagi mereka, meskipun pesan instan merupakan sesuatu yang canggih dan efektif, namun banyaknya notifikasi yang muncul secara terus-menerus membuat pengguna merasa tidak nyaman. mengalami kelelahan digital (digital fatigue), atau kesulitan untuk tetap fokus pada aktivitas utama di dunia nyata.

Dengan kata lain, aplikasi ini membuat nilai dari sebuah pesan akan menjadi lebih bermakna, dan tidak sekadar dianggap berlalu begitu saja. (*)

Share This Article
Avatar photo
Lulusan program studi Jurnalistik STMM Yogyakarta, Jurnalis mabur.co, Writing Is Journey Of My Life
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar