Tren YouTuber Pensiun, Bukti Platform Tak Abadi

Mabur.co – YouTuber kuliner Bobon Santoso secara mengejutkan hendak pensiun dari dunia YouTube, setelah hampir 11 tahun berpetualang membuat konten dari seluruh Nusantara.

Kabar ini ia sampaikan melalui Instagram story pada Jumat (6/2/2026) lalu.

Dalam unggahannya tersebut, ia menyatakan bahwa tahun 2026 ini akan menjadi tahun terakhirnya dalam berkonten di YouTube, dan selanjutnya akan menjual akunnya yang sudah memiliki 18 juta subscriber tersebut, dengan harga fantastis yakni Rp20 miliar.

Bobon sendiri tidak menyebutkan secara spesifik terkait alasan pengunduran dirinya dari dunia YouTube.

Namun banyak netizen yang berspekulasi bahwa hal ini dipicu karena kelelahan (burnout) akibat terus-menerus membuat konten tanpa henti setiap harinya, demi memuaskan para viewers-nya.

Apalagi dengan subscriber-nya yang telah mencapai jutaan orang, membuat tanggung-jawabnya menjadi semakin besar, dan semakin banyak pula orang-orang yang harus dihibur melalui konten-kontennya.

Di sisi lain, waktu istirahatnya justru menjadi semakin berkurang, yang tentu saja akan berpengaruh pada kualitas kesehatan (termasuk kesehatan mental) dan seterusnya.

Sebelum Bobon, ada satu konten kreator lainnya yang mengaku telah pamit dari dunia YouTube, yakni Farida Nurhan (Omay), yang juga bergerak di bidang kuliner atau food vlogger.

Pengaruh Algoritma

Tak bisa dipungkiri, platform-platform seperti YouTube sangat mengandalkan yang namanya algoritma.

Algoritma bekerja dengan memanfaatkan data interaksi pengguna (likes, comment, share, watch time, dan seterusnya), untuk dapat mempersonalisasi tampilan feed, merekomendasikan konten yang relevan dengan pengguna, mengangkat topik yang sedang tren, serta tentu saja menggabungkannya dengan pemasok iklan, sebagai arus utama pemasukan dari platform tersebut.

Dalam konteks ini, tentu saja para konten kreator seperti “bertarung” dengan algoritma yang sedang bekerja, dan menyesuaikan konten yang mereka buat dengan selera pasar yang sedang tren saat itu.

Hal ini tentunya sangat menguras energi, pikiran, mental, sekaligus waktu, untuk bisa benar-benar fokus mengerjakan semuanya demi kesuksesan di dunia digital dalam waktu lama.

Padahal di saat yang sama, para konten kreator ini juga memiliki keluarga (anak-istri/suami, orang tua), maupun kehidupan pribadi dan teman-teman yang ada di kehidupan sehari-hari.

Mereka tetap butuh interaksi sosial yang nyata dan hidup dengan orang-orang secara langsung, tanpa piranti digital sama sekali.

Hal ini benar-benar membuktikan, bahwa kehidupan sosial masyarakat (interaksi secara langsung) masih menjadi sesuatu yang lebih penting dan utama, ketimbang berinteraksi melalui kecanggihan teknologi digital yang sudah semakin tak karuan itu.

Platform Selalu Berubah, Manusia Tetap Sama

Satu hal yang mungkin tidak banyak orang sadari terkait keberadaan platform-platform tersebut adalah, eksistensi mereka sangat bergantung pada seberapa lama orang berada (mengakses platform tersebut) di dalamnya.

Sama seperti konsep bisnis pada umumnya, yang berusaha mencapai profit sebesar-besarnya dan sebanyak-banyaknya.

Untuk bisa bertahan pun, platform butuh berinovasi sedemikian rupa, agar bisa terus memanjakan para penggunanya setiap hari. Salah satunya dengan menyediakan kesempatan menghasilkan cuan, baik melalui program bernama adsense, dan sebagainya.

Sayangnya, mendapatkan adsense dari platform seperti YouTube makin ke sini makin terasa sulit, karena persaingannya menjadi semakin ketat.

Algoritma setiap platform pun terus bergerak dengan cepat dan dinamis, sementara manusia sebagai target pasar utamanya tetaplah punya keterbatasan, dan tidak bisa full 24/7 mengikuti semua kemauan platform, yang pada dasarnya juga dikendalikan oleh manusia.

Semakin Sensitif Terhadap “Konten”

Apa yang dilakukan oleh Bobon Santoso serta Omay, pada dasarnya bukanlah yang pertama kali dilakukan oleh konten kreator, termasuk di Indonesia.

Karena fenomena “pamit” atau “mengundurkan diri” sebagai konten kreator sejatinya sudah lama dilakukan oleh banyak konten kreator lainnya, dengan alasan-alasan yang mirip seperti yang telah disebutkan di atas.

Namun dengan fenomena yang terjadi saat ini, di mana semua hal selalu bisa dijadikan konten, maka kata-kata “pamit” tersebut barangkali juga perlu dicurigai.

Karena bisa jadi, pernyataan “pamit” itu hanyalah konten yang sengaja dibuat-buat, agar mengundang perhatian dari banyak orang.

Padahal kenyataannya, dia tetap saja berkonten keesokan harinya, dan tetap berusaha untuk hidup dari sana sampai seterusnya.

Mirip seperti yang pernah dilakukan oleh YouTuber Ria Ricis pada 2019 lalu, yang menyatakan ingin istirahat dari berkonten di YouTube karena merasa sudah berada di titik terendah sekaligus jenuh dengan rutinitas ngonten setiap harinya.

Namun hanya berselang dua hari kemudian, ia kembali hadir di layar YouTube dengan membuat konten berjudul “SAYA KEMBALI”, lalu kembali menjalani rutinitas ngonten seperti semula.

Jangan sampai fenomena “berhenti ngonten di YouTube” ini hanya sebagai akal-akalan mereka saja (Bobon dan lain-lain) agar tetap eksis dan terus cuan di platform YouTube melalui adsense maupun kerjasama dengan brand-brand ternama.

Karena saat ini netizen sudah tidak lagi mudah dibodohi dengan gimmick sok-sok pamit dan sebagainya. Padahal aslinya cuma ngonten doang.

Niatnya pengin mundur dari ngonten (dengan tujuan ngonten), eh tau-tau malah mundur beneran gara-gara dihujat netizen, akibat gimmick-nya yang cuma konten.

Konten oh konten. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *