Berjalanlah dan pergilah ke tempat sejauh-jauhnya. Tapi sadarkah kita bahwa tempat terjauh yang menjadi ujung perjalanan kita, sesungguhnya adalah tempat kita sekarang berada.
Lalu mengapa kita tidak menghargai tempat kita berada dan selalu ingin meninggalkannya?
Selalu ada tempat untuk “kembali”, tetapi dalam perjalanan kehidupan, ada sesuatu yang kita tidak mungkin dapat kembali. Yaitu peristiwa dan waktu yang telah berlalu.
Sekuat apa pun keinginan, sebesar apa pun kekuasaan, sehebat apa pun kemampuan serta harta manusia, tidak mungkin bisa kembali ke masa dan peristiwa yang telah berlalu.
Itulah mengapa “penyesalan” menjadi penghias setiap perjalanan.
Setiap tahapan dalam perjalanan kehidupan kita mesti akan dilewati dan kemudian mau tidak mau akan ditinggalkan.
Sadarkah bahwa di setiap tahapan itu kita mengalami kerapuhan jasmani yang akan selalu bertambah di tahapan yang akan datang.
Kita menamakan perjalanan ke masa depan sebagai “pergi”. Tapi jarang yang menyadari bahwa “pergi” itu juga sekaligus “pulang”, karena makna “pulang” dalam kehidupan sesungguhnya adalah “pergi” menuju tahapan terakhir di masa depan. Bukan kembali ke tahapan sebelumnya.
Memahami perjalanan kehidupan adalah makna di balik ungkapan “sangkan paraning dumadi“.
Hidup manusia adalah perjalanan dan pengembaraan “panjang” dalam waktu yang relatif “pendek”.
Jasadnya berasal dari seluruh elemen bumi tempat ia tinggal, hidup dan mati. Karena itu manusia begitu dekat dengan elemen bumi.
Karena kodrat jasad menemukan asal-usulnya. Nafsu, hasrat dan syahwat, kekuasaan, keinginan memiliki harta adalah titah yang memang harus dijalani oleh jasad.
Tapi rohnya berasal dari Energi Sorgawi yang kreatif dan spiritual. Dalam hal ini manusia membawa elemen Ilahiyah yang membuatnya menjadi kreatif dan kreator.
Ia membangun peradaban dan kebudayaan. Karena rohnya adalah “sempalan” dan membawa citra dari Sang Maha Kreator.
Untuk menuju menjadi manusia dibutuhkan sebuah perjalanan jauh dan proses yang “panjang”. Tapi ketika telah menjadi manusia seutuhnya, pada dasarnya ia berada pada sebuah perjalanan untuk “pulang”.
Seiring waktu dan usia, jasadnya semakin merapuh karena jasad sudah ingin bertemu dengan seluruh elemen yang menyusunnya.
Rohnya sudah semestinya semakin kuat, spiritualitasnya menjadi lebih utuh, yang dalam bahasa Islam “takwa”, karena ia ingin kembali ke haribaan asal usul-Nya.
Dunia manusia dan hidup manusia pada dasarnya adalah perpaduan cinta antara bumi dan langit, jasad dan roh, raga dan jiwa.
Dalam cinta yang diekspresikan demikian, mati dan hidup sama saja, senang dan susah sama saja, sakit dan nikmat sama saja. Karena dalam kesejatian yang ada hanyalah menjalani kehidupan dengan bahagia.
Perjalanan manusia pada dasarnya bukan perjalanan untuk “pergi menuju” melainkan perjalanan “pulang ke rumah asal”.
Jasad bertemu “keluarga”-nya di bumi, mungkin akan menjadi anasir yang baru dan berbeda dengan sebelumnya, serta akan menyumbangkan kehidupan baru.
Sementara roh mesti pulang ke kampung halaman-Nya. Menyatu dengan energi Sang Maha Kreator. ***



