Ada sesuatu yang ganjil ketika kita menatap lukisan berjudul Kuda Api karya Mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang laku lelang Rp6,5 miliar itu.
Di sana, di atas bidang datar yang dipenuhi pigmen warna yang menyala, kita tidak sekadar melihat seekor hewan.
Kita melihat sebuah pernyataan. Namun, sebagaimana sering terjadi dalam estetika kekuasaan, pernyataan itu seringkali tergelincir menjadi semacam pretensi yang kaku.
Secara teknis, SBY memilih jalur realis-figuratif. Ini adalah pilihan yang aman, sekaligus berbahaya.
Aman karena ia berkomunikasi langsung dengan publik tanpa perlu deskripsi rumit, berbahaya karena realisme menuntut ketajaman observasi yang melampaui sekadar “mirip”.
Dalam “Kuda Api”, kita melihat figur kuda yang tegang. Namun, ketegangan itu tidak lahir dari anatomi yang presisi, melainkan dari upaya keras sang pelukis untuk memaksakan “drama”. Di sinilah kritik teknis bermula.
Anatomi dan Proporsi
Ada kesan bahwa figur kuda tersebut terisolasi dari ruang sekitarnya. Garis-garisnya tegas, namun kurang memiliki soul (jiwa) yang biasanya muncul dari permainan cahaya dan bayangan (chiaroscuro).
Tekstur Api. Api yang menyelimuti kuda tersebut terasa lebih sebagai ornamen daripada energi. Dalam tradisi lukisan ekspresionis, api adalah gejolak. Dalam tangan SBY, api tersebut tampak seperti simulakrum yang dijinakkan.
Seperti yang pernah diingatkan oleh Theodor Adorno dalam Aesthetic Theory seni yang terlalu patuh pada representasi lahiriah seringkali kehilangan kapasitasnya untuk menjadi “kebenaran”.
Ketika teknik realis hanya digunakan untuk memoles citra, ia berisiko menjadi kitsch—seni yang bertujuan memicu emosi instan tanpa kedalaman eksistensial.
Kuda, Mitologi, dan Hasrat Heroik
Mengapa kuda? Dan mengapa api? Kuda adalah simbol maskulinitas, kecepatan, dan kontrol yang klasik dalam sejarah seni rupa Barat maupun Timur.
Dengan membungkusnya dalam api, SBY nampaknya ingin menarik garis pada heroisme.
Namun, mengutip Jean Baudrillard, kita mungkin sedang berhadapan dengan simulakra.
Lukisan ini bukan tentang kuda yang nyata, bukan pula tentang api yang membakar. Ia adalah tentang “citra dari sebuah energi”.
Ada keinginan kuat dari sang mantan penguasa untuk tetap relevan dalam narasi gerak dan semangat, meski raga telah berada di luar ring kekuasaan.
“Seni bukanlah cermin yang memantulkan realitas, melainkan palu yang membentuknya,” kata Bertolt Brecht.
Namun dalam Kuda Api, palu itu terasa dibungkus beludru. Ia ingin terlihat perkasa, namun tetap ingin dicintai.
Kelemahan paling mendasar dari lukisan-lukisan realis figuratif tokoh politik seringkali terletak pada sifatnya yang “terlalu selesai”.
Tidak ada ruang bagi ambiguitas. Semuanya dijelaskan: kudanya gagah, apinya merah, latarnya gelap.
Dalam teori umum estetika, kita belajar bahwa keindahan seringkali muncul dari yang retak, yang tidak utuh, dan yang ragu-ragu.
Lukisan SBY justru sebaliknya; ia adalah manifestasi dari kepastian.
Padahal, menurut Walter Benjamin, aura sebuah karya seni justru terletak pada jarak yang diciptakannya—sebuah misteri yang tak habis dikonsumsi sekali pandang.
Kuda Api adalah potret diri yang disamarkan. Ia adalah upaya sublimasi atas hiruk-pikuk politik ke dalam sapuan kuas.
Namun, tanpa eksplorasi teknik yang lebih berani—misalnya membiarkan warna meluap tanpa batas garis yang kaku—ia tetap akan tertahan sebagai hobi seorang negarawan, bukan sebuah pemberontakan estetis.
Seni, pada akhirnya, adalah sering sebuah kejujuran yang menyakitkan.
Di depan kanvas, jabatan dan kuasa, idealnya tak lagi bermakna. Sebab pada sebuah karya, yang tersisa harusnya hanyalah dialog antara kuas, warna, dan kehampaan.
SBY telah memulai dialog itu, namun ia nampaknya masih enggan untuk benar-benar “lepas” dan membiarkan api itu membakar kewibawaannya sendiri. ***



