Mabur.co – Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Bappenas, Rachmat Pambudy, kembali membuat heboh dengan pernyataannya di hadapan publik.
Dalam pidatonya di Prasasti Economic Forum 2026 di Jakarta, Kamis (29/1/2026), ia mengungkapkan bahwa program prioritas Presiden Prabowo saat ini adalah MBG (Makan Bergizi Gratis). Karena itu merupakan urgensi secara nasional, apalagi jika menyangkut urusan perut.
Menurut Rachmat, masih banyak orang di daerah pelosok yang kelaparan setiap harinya. Padahal pembangunan infrastruktur di sana sudah cukup masif. Sehingga mencegah kelaparan dianggap lebih penting untuk saat ini.
Ketika disinggung terkait prioritas antara MBG dengan penciptaan lapangan kerja, Rachmat tetap merasa bahwa MBG jauh lebih penting untuk saat ini.
Meskipun tidak menampik bahwa menciptakan lapangan kerja juga sangat penting bagi kelangsungan ekonomi bangsa.
Di kesempatan yang berbeda, Presiden Prabowo Subianto bahkan ikut mengungkapkan bahwa program MBG tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan pangan anak-anak Indonesia, tapi juga turut menggerakkan perekonomian masyarakat secara umum.
61 ribu UMKM dan koperasi disebutnya telah menjadi bagian dari rantai pemasok MBG setiap harinya. Jumlah itu diperkirakan masih akan terus bertambah, seiring dengan hadirnya vendor dan pemasok baru MBG ke depan.
Dari angka 61 ribu tersebut, diperkirakan ada 600 ribu lapangan kerja baru yang tersedia dari pelaksanaan MBG secara nasional.
Itu pun masih jauh dari target nasional sebanyak 1,5 juta lapangan kerja baru yang tercipta dari program MBG.
Tidak Seindah Narasi (Politik) yang Diucapkan
Narasi-narasi di atas tampak sudah meng-cover dua kebutuhan sekaligus, yakni kebutuhan pangan sekaligus lapangan pekerjaan.
Namun sayangnya, problem yang terjadi sebenarnya tidaklah sesederhana itu. Apalagi MBG masih menemui banyak kendala di sana-sini sejak pertama kali diluncurkan ke publik pada awal 2025 lalu.
Pemerintah sepertinya lupa, bahwa mencukupi kebutuhan pangan tidak hanya diperlukan oleh anak-anak sekolah, yang jumlahnya mencapai 55 juta jiwa.
Artinya masih ada sekitar 225 juta jiwa lainnya (orang dewasa dan lansia) yang juga membutuhkan makanan setiap harinya, namun tidak ter-cover oleh MBG.
Di sisi lain, tidak semua orang juga berkeahlian di bidang gizi atau pangan seperti petugas SPPG (Satuan Pemenuhan Pelayanan Gizi) dan sebagainya.
Ada ribuan bahkan jutaan keahlian lain yang tersebar luas di seluruh dunia ini. Terlebih dengan hadirnya internet dan media sosial, membuat keahlian manusia menjadi semakin beragam.
Sehingga tidak masuk akal rasanya jika kehadiran program MBG dianggap telah mampu mengatasi masalah lapangan pekerjaan di Indonesia, sedangkan di luar sana masih banyak keahlian lainnya yang belum tersentuh oleh pemerintah sama sekali.
Bicara tentang lapangan pekerjaan, tentunya tidak akan jauh-jauh dari tujuan utama pekerjaan itu sendiri, yakni mencari uang.
Ya, di zaman sekarang keberadaan uang sudah seperti “Tuhan”, yang dapat menolong kita dari segala macam kesulitan, termasuk kesulitan makan.
Dengan punya uang (lebih), tentu saja memenuhi kebutuhan pangan akan jauh lebih mudah, bahkan tidak memerlukan bantuan program MBG sama sekali.
Buat apa menerima program MBG yang berpotensi rusak dan penuh racun, padahal kita sudah punya uang buat beli makanan sendiri yang lebih sehat dan (bisa jadi) tetap hemat?
Karena pada akhirnya, memenuhi kebutuhan makan melalui MBG tetap penting, tapi kebutuhan untuk punya pekerjaan (alias punya uang) itu jauh lebih penting.
Anak-anak penerima MBG sendiri juga mungkin akan lebih memilih punya uang, daripada diberi menu MBG yang dikonsumsi saja tidak layak. (*)



