Mabur.co – Presiden Prabowo Subianto diketahui sempat ikut “merayakan” hari buruh nasional, dengan mendatangi langsung aksi buruh yang berlangsung di Lapangan Monas, Jakarta Pusat, Jumat (1/5/2026) lalu. Bahkan sempat berjoget senang.
Namun dalam hari pendidikan nasional (hardiknas) yang berlangsung keesokan harinya, Sabtu (2/5/2026) presiden tak tampak melakukan pidato atau menghadiri acara seremonial sama sekali di tempat manapun.
Hal itu seolah semakin menegaskan ketidakpedulian pemerintah terhadap perkembangan pendidikan nasional, melainkan hanya mementingkan program yang menyasar unsur pendidikan itu sendiri, yakni pemberian Makan Bergizi Gratis (MBG) setiap harinya.
Tentunya ini menjadi sebuah ironi. Karena pemerintah nampak “pilih kasih” dalam memberikan perhatian. Meskipun Prabowo beratus-ratus kali mengucapkan kata “rakyat” (yang kerap dikonotasikan sebagai seluruh rakyat Indonesia), namun nyatanya, “rakyat” yang dimaksud seringkali hanya berasal dari golongan tertentu.
Bahkan bisa saja, “rakyat” yang sering disebut oleh Prabowo adalah “antek-anteknya” sendiri.
Meskipun kemungkinan besar, kehadiran Prabowo dalam peringatan hardiknas juga tak lebih dari sekadar omon-omon belaka. Namun setidaknya, kehadiran itu merupakan sebuah representasi simbolik, bahwa presiden benar-benar “ada” dan “terlihat” oleh para insan pendidikan. Sebagai pihak yang selama ini kerap “diracuni” oleh program kesayangan Presiden bernama MBG.
Jika situasi dalam hari buruh atau May Day masih terlihat adem ayem, bahkan sebagian besar buruh masih bisa bertepuk tangan secara spontan setiap kali Prabowo menyebutkan janji omon-omonnya kepada mereka, maka dalam peringatan hardiknas, ceritanya bisa sama sekali berbeda.
Apalagi jika Prabowo benar-benar menghadiri aksi unjuk rasa yang dilakukan oleh para mahasiswa BEM SI (Seluruh Indonesia) Kerakyatan Indonesia, yang berlangsung pada Sabtu (2/5/2026) lalu. Rasa-rasanya situasinya akan jauh lebih chaos.
Atau jangan-jangan pemerintah sudah menyadari, bahwa jika Presiden Prabowo menghadiri peringatan apalagi unjuk rasa terkait hardiknas, situasi terburuk bisa saja akan terjadi. Sehingga mereka sudah benar-benar mengantisipasi kemarahan setiap insan pendidikan, yang sepertinya sudah tak bisa dibendung lagi.
Terlebih dengan pertanyaan “retorika” Prabowo pada saat aksi May Day tersebut, dimana ia sempat menanyakan “MBG Bermanfaat atau Tidak?” kepada para buruh, lalu seketika langsung dijawab “Tidak” oleh mereka, meskipun suaranya terdengar sedikit samar-samar.
Atau jangan-jangan, ketidakhadiran Presiden Prabowo dalam peringatan hardiknas disebabkan karena peringatan itu jatuh pada hari Sabtu, yang biasanya merupakan hari libur? Sehingga pemerintah meniadakan semua acara untuk hari yang seharusnya menjadi waktu berkumpulnya keluarga?
Apapun itu, pemerintah seharusnya sudah menyadari, bahwa mereka telah merusak citra pendidikan Indonesia ke jurang yang paling dalam. Padahal posisi sebelumnya pun tidak bisa dikatakan baik, namun pemerintahan yang berkuasa saat ini justru membuat situasi menjadi semakin runyam, hanya demi kepentingan politik sesaat. (*)



