Kritik MBG, Keluarga Kalis Mardiasih Aktivis Suara Ibu Indonesia, Didamprat Teror - Mabur.co

Kritik MBG, Keluarga Kalis Mardiasih Aktivis Suara Ibu Indonesia, Didamprat Teror

Hanya karena kritik MBG yang angka keracunannya mencapai puluhan ribu, aktivis Suara Ibu Indonesia, Kalis Mardiasih, kena damprat berupa teror, entah dari siapa.

Itulah berita yang ada di tempo.co, Senin (4/5/2026).

Istri penulis buku Agus Mulyadi itu mengaku bahkan tidak hanya dirinya yang kena damprat teror, namun juga keluarganya. Artinya Agus Mulyadi pun bisa jadi juga kena teror.

Kalis Mardiasih bukanlah orang pertama yang mengaku mendapatkan teror terkait kritik MBG. Selain Kalis Mardiasih ada juga Ketua BEM UGM, Tiyo Ardianto.

Cukup aneh juga sebenarnya kalau hanya kritik MBG di media sosial, entah siapa harus kebakaran jenggot dan meluncurkan teror.

Yang meluncurkan teror itu seperti tidak sadar bahwa media sosial memang salah satu tempat meluapkan gagasan. Kenapa tidak memaknai kritik sebagai luapan gagasan?

Nah, paradigma ini mestinya digunakan oleh para peneror. Apa yang ditakutkan dari kritik? Bukankah sebagus apa pun program MBG berjalan, tanpa ada yang keracunan sama sekali, kritik terhadap MBG tetap saja akan ada?

Logika ini seharusnya dipakai oleh para peneror sehingga akan segera membatalkan teror jika ingat landasan berpikir alternatif itu.

Lagi pula kalau dipikir-pikir juga dapat apa meneror orang seperti Agus Mulyadi yang memang dikirim Tuhan dari Surga ke Bumi untuk menghibur seluruh makhluk hidup dan bahkan benda mati yang ada di Bumi? Hahaha.

Jadi di era keterbukaan informasi publik seperti sekarang ada baiknya untuk menyudahi cara-cara otoritarianisme, cara-cara membungkam pandangan kritis warga negara.

Siapa pun Anda, bisa saja punya ide untuk, misalnya saja menjadi Ketua Komunitas Oposisi Agus Mulyadi. Ingin tahu alasannya?

Karena Agus Mulyadi memang sudah terlalu sempurna. Secara karier, ketenaran, atau apa pun sudah selevel selebgram.

Oleh karena itu harus ada penyeimbang, harus ada oposisi. Bayangkan betapa mudahnya Agus Mulyadi cari iklan, ngomong ngelantur sekian detik saja, di depannya duduk sudah ada produk tertentu yang ikut nangkring.

Seperti sepak terjang Dokter Tirta saja dia, omong apa saja para pemasang iklan sudah berebut ikut nampang.

Meskipun barangkali produk tertentu yang ikut nampang pada kemunculan Agus Mulyadi di media sosial belum tentu iklan, bisa saja memang hanya asal taruh, namun publik bisa saja terlanjur terprovokasi bahwa produk itu adalah iklan.

Apa mau dikata, bagaimana lagi, kita memang hidup di dunia persepsi setiap harinya.

Nah, kembali ke soal Kalis Mardiasih, tentu siapa pun hanya bisa prihatin, kenapa pandangan kritis kini semakin terancam eksistensinya. Padahal pepatah bilang tak kenal maka tak sayang.

Pandangan kritis hanya bagian dari rasa sayang yang dimunculkan. Sekali lagi, sesempurna apa pun isi dunia ini, orang melontarkan kritik bisa saja tetap ada. Itulah salah satu cara kita menyapa.

Jadi, kalau salah satu buku Kalis Mardiasih adalah berjudul Muslimah yang Diperdebatkan maka jika ada perdebatan-perdebatan justru bagus. Karena mencerdaskan dan mendewasakan. Bisa saling belajar dan melengkapi. Bisa saling memperbaiki.

Begitu juga kalau kemunculan sosok Agus Mulyadi tetap bisa diperdebatkan dan siapa pun bisa menjadi oposisi dirinya, maka berarti sebenarnya sangat sayang kepada dirinya. Hahaha.

Ngritik Agus Mulyadi wae ora wani, Bolo… Hahaha… ***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *