Kalau sedang berjalan-jalan menyusuri kanal Witte Singel di Leiden, persis di sisi gedung perpustakaan dan museum Universitas Leiden, akan melihat sesuatu yang ganjil: dinding putih bertuliskan aksara Lontara Bugis.
Warga setempat menyebutnya muurgedicht. Itu bagian dari proyek seni Kota Leiden yang sudah berjalan sejak 1992.
Lebih dari 100 puisi dunia dilukis di dinding-dinding kota oleh Tegen-Beeld Foundation. Yang membuat unik, satu dinding itu ada di atas kanal, menempel di bangunan KITLV Royal Netherlands Institute of Southeast Asian and Caribbean Studies yang didirikan pada 1851.
Puisi Bugis
Dalam peta jejak Indonesia di Leiden yang dirilis Leiden pada 2022, disebutkan lokasi ini jelas: On Reuvensplaats we find the KITLV, and on Witte Singel, the University Libraries with the Asia Library. Di sinilah puisi Bugis itu berada, menghadap air kanal. Rilis leiden2022.nl.
Di situs pendakian Komoot, pelancong memfoto dinding itu dan menulis, puisi ini bukan milik penyair pria. Poetry and literature on Sulawesi in the nineteenth century were not exclusively reserved for men, but rather the domain of women. Isinya puisi Bugis abad ke-19, Elong. Dan ini bukan kebetulan. Leiden memang rumah kedua Bugis.
Perpustakaan Universitas Leiden di Witte Singel 27 menyimpan naskah asli kitab I La Galigo, naskah NBG-Boeg 188.
Naskah ini terdiri dari 12 jilid, ditulis di Makassar sekitar 1852-1858 oleh Ratu Colliq Pujie, Ibu Suri Kerajaan Tanete di Barru Sulsel kerjasama dengan BF. Mattes seorang misionaris asal Belanda.
UNESCO Menetapkan sebagai Memory of The World
Sebagaimana dirilis library.universiteitleiden.nl, naskah inilah yang pada 2011 ditetapkan UNESCO sebagai Memory of The World bersama naskah dari Museum La Galigo Makassar lainnya.
Leiden University Libraries sendiri mengumumkan: La Galigo is the world’s longest epic, written in the Buginese language and script dan sudah didigitalisasi agar bisa diakses untuk riset.
Seorang mahasiswa S3 Bugis di Leiden lewat medsosnya, Irwan, berkata: “Tiap pagi saya lewat kanal itu naik sepeda. Orang Belanda lewat sambil bawa anjing, tapi dindingnya bicara bahasa Bugis. Puisi dan dinding itu seperti bicara kepada saya. Rasanya seperti La Galigo pulang kampung dan perjumpaan itu di kanal yang romantis ini, terutama di sore hari menjelang malam.”
Mappuji pekkona sappa laingng, Engkagaro duwanna anrena matakku. Begitu salah satu teks yang dikutip dari naskah I La Galigo itu seolah bicara di dinding kanal sisi Leiden University.
“Bagaimana caranya aku mencari yang lain, adakah yang seperti dia yang telah memikat mataku (hatiku). Sudah kucari ke mana-mana, tak kutemukan yang menyamainya,” lirih puisi itu seperti membisiki hati siapa pun yang melintas di kanal itu. (Bersambung).
