Selamat Hari Lahir PMII: Nilai, Darah Muda, dan Sedikit Jejak - Mabur.co

Selamat Hari Lahir PMII: Nilai, Darah Muda, dan Sedikit Jejak

Menyebut nama Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), seringkali saya mengenang peristiwa tahun 2000.

Sebuah masa di mana saya, santri ndeso, dengan napas yang masih terengah-engah dari dinamika studi di Mesir, melangkah pulang ke tanah air membawa satu koper berisi buku, dan satu koper lagi berisi mimpi. Mimpi yang mendesak: mendirikan PMII Cabang Mesir.

Mengingat 66 tahun PMII (1960-2026), ingatan saya tak bisa lepas dari Muktamar NU di Lirboyo tahun 1999. Itu momen krusial, di mana organisasi NU di luar negeri resmi ditata menjadi PCINU.

Saat itu, saya bertugas di bidang organisasi. Ada kebanggaan, tentu. Namun, di Kairo, di lorong-lorong Darrasah dan Wisama Nusantara, suasana batin mahasiswa Nahdliyin muda seperti saya sedikit berbeda.

Saya ingat betul betapa “panas”-nya semangat sebagian teman-teman Nadliyin di Mesir saat itu. Kami ingin “Pergerakan”. Apalagi pascaangin segar reformasi. Kami ingin wadah mahasiswa yang tidak hanya berakar pada tradisi NU, tapi juga mengasah nalar kritis layaknya mahasiswa ekstra-universiter.

Bagi kami, status mahasiswa jauh lebih linier, lebih pas, jika wadahnya adalah PMII, bukan sekadar struktural PCINU yang saat itu terasa lebih kental nuansa birokrasi sepuhnya.

Maka, berangkatlah saya menghadap almaghfurlah KH Hasyim Muzadi dan sahabat-sahabat PB PMII.

“Hampir seluruh pengurus PMII menyambut baik,” kenang saya dalam hati. Sebuah “iya” yang membakar semangat. Sayangnya, perjalanan tak semulus harapan. PBNU saat itu tak menyambut baik gagasan tersebut.

Alasannya berat, kental dengan historisitas: PCINU sudah ada, substansinya sama saja. Lebih dari itu, KMNU (Keluarga Mahasiswa Nahdlatul Ulama) di Mesir jauh lebih dulu eksis sebelum PMII lahir (1960). Bahkan, Gus Dur konon pernah bergiat di sana saat belum ada PMII.

Namun, di situlah konflik batin saya bermula. Saya merasa darah muda dipaksa menjadi tua dengan masuk NU, bukan PMII. Saya ingin warna mahasiswa yang lincah, bukan sekadar administratif.

Saya meyakini, mahasiswa adalah agen pergerakan, dan PMII adalah rumahnya. Meski akhirnya upaya itu terganjal, tekad kami untuk menjadi bagian kader intelektual-pergerakan di tanah Mesir tak pernah mati.

Kini, 66 tahun sudah PMII berlayar. Saya menengok ke belakang dengan senyum. Teman-teman yang dulu satu pesantren, satu sekolah, pernah menjadi aktivis PMII dan semua masuk IKA PMII.

Ironisnya, atau mungkin indah takdirnya, saya tak pernah resmi menjadi aktivis PMII. Tapi, hingga hari ini dipercaya menjadi Mabinsa (Majelis Pembina) bagi adik-adik di berbagai komisariat. Pertanyaannya, apa itu “aktifis”? Bagi saya, ia bukan sekadar kartu anggota. Ia adalah komitmen dan keberpihakan.

PMII adalah darah yang mengalir, bukan sekadar papan nama. Pergerakan itu tidak selalu dimulai dari pengakuan struktural, melainkan dari kegelisahan nurani untuk terus ber-Dzikir, Fikir, dan Amal Sholeh.

Selamat Harlah PMII ke-66. Tetaplah menjadi api, yang membakar kebebalan dan sahabat pergerakan, namun tetap hangat dalam tradisi Aswaja an-Nahdliyah. ***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *