Mabur.co – Memperingati hari seni sedunia yang jatuh pada 15 April, setiap manusia hendaknya merefleksikan satu hal penting, yang mungkin tidak pernah disadari sebelumnya.
Hari seni sedunia sendiri baru ditetapkan pada 15 April 2019 lalu, tepatnya dicetuskan oleh salah satu badan PBB, UNESCO, untuk menghormati kelahiran seniman Leonardo da Vinci, merayakan peran seni dalam kehidupan manusia, serta mendorong kreativitas, inovasi, dan keragaman budaya.
Setiap orang pada hakikatnya juga memiliki jiwa seni di dalam dirinya (disebut seniman/wati). Dan di setiap elemen seni, pasti selalu ada manusia di dalamnya. Dua kata ini adalah satu kesatuan yang tak dapat dipisahkan satu sama lain.
Sayangnya, manusia terlalu banyak mengkomplekskan seni, dengan mengkotak-kotakkannya ke dalam klasifikasi seni tertentu, termasuk juga dengan penyebutan kata “seniman”. Seolah-olah “seniman” hanya berlaku bagi orang-orang yang tampil di atas panggung dan menghibur banyak orang, seperti penari, pelukis, penyanyi, pelawak, dan sebagainya.
Padahal jika merujuk pada poin sebelumnya, tanpa harus tampil di atas panggung pun, setiap orang tetaplah mampu menjadi seniman bagi dirinya sendiri, tanpa harus berusaha mati-matian terlihat sempurna di mata orang banyak.
Bahkan presiden Prabowo juga sejatinya merupakan seorang seniman, yaitu “seniman” di bidang pemerintahan. Karena pidato-pidatonya seringkali mengundang gelak tawa bagi rakyatnya sendiri, sehingga terus-menerus dijadikan konten maupun bahan candaan.
Hidup ini juga sejatinya merupakan salah satu bagian dari seni. Seni untuk menjalani hidup, seni untuk bertahan hidup, seni untuk memperkaya diri sendiri, seni untuk meningkatkan kapasitas diri menjadi lebih baik lagi, dan seterusnya.
Sebaliknya, seni juga butuh nyawa untuk bisa terus hidup. Dan manusialah wujud sejati yang bisa menyelamatkan seni, agar tetap eksis dan terus bertahan di tengah gempuran modernitas yang semakin individualistik.
Meskipun lagi-lagi, modernitas hidup juga merupakan salah satu bagian dalam seni (menjalani kehidupan).
Sehingga bisa dibilang, manusia tidak bisa hidup tanpa seni, tapi seni juga tidak akan hidup tanpa ada manusia di dalamnya.
Tidak perlu merasa paling benar atau paling membutuhkan. Marilah menjalani peran masing-masing dengan baik dan sesuai fungsinya. Karena lagi-lagi, manusia dan seni akan selalu hidup berdampingan, dan tidak bisa dipisahkan satu sama lain. (*)



