Buku ini adalah karya antropolog Prof. Dr. Adlin Sila. Isinya adalah rekonstruksi praktik dan pelembagaan ‘ekonomi syariah’ di Indonesia.
Dalam kata pengantar (ketika terbit berubah jadi ‘kata sambutan’) buku ini, saya kemukakan frasa Weber the spiritual aristocracy of monk.
Dalam bukunya Protestant Ethic and the Spirit of Capitalism, Weber ingin mengatakan melalui frasa itu bahwa pergumulan dalam kehidupan dunia yang riil (intense worldly activity atau worldly ascetism) sama mulianya dengan kehidupan berorientasi akhirat.
Bahkan, jika ingin ditambahkan, penggunaan kata aristocracy di atas bisa dibaca sebagai upaya Weber mensejajarkan dua kutub yang dalam pandangan agama bersifat hierarkis tersebut.
Maka, worldly intense activity adalah pandangan teologis yang melihat dunia jauh lebih positif. Dalam arti kata lain, kehidupan akhirat yang tak dipertautkan dengan pertarungan dunia yang riil adalah sesuatu yang tidak ideal.
Ini sengaja saya sampaikan dalam pengantar buku tersebut. Sebab, sebagai Muslim, kita cenderung mendefinisikan ‘ekonomi’ secara normatif —tanpa membenturkan pandangan teologis dengan realitas yang riil.
Juga terhadap model yang kita adopsi. Dengan buku ini terlihat bahwa ‘ekonomi syariah’ dalam praktiknya adalah salah satu varian kapitalisme. Persoalannya adalah varian yang mana?
Maka, secara tak langsung, saya menganjurkan menyimak Karl Pokanyi. Dalam karyanya The Great Transformation, Polanyi melihat bahwa sistem ekonomi pasar yang dominan sejak Revolusi Industri hingga kini adalah politically created (diciptakan secara politik).
Sikap konseptual Polanyi ini adalah padanan dari Weber. Yaitu, membenturkan pandangan teologis (dalam konteks Weber) dan kinerja sebuah sistem ekonomi (dalam konteks Polanyi) dengan realitas sejarah (kapitalisme) yang nyata.
Telah menjadi tugas para sarjana ilmu-ilmu sosial dan sejarah memperbincangkan tema ini dengan serius.



